HUJAN adalah anugerah dan nikmat yang diberikan Allah kepada manusia. Hujan memberi banyak manfaat bagi seluruh makhluk-Nya di muka bumi.
Dengan titik air yang turun dari langit tersebut, pemandangan terlihat lebih sejuk. Sebuah keindahan alam bagi hamba-hamba Allah yang selalu bertafakkur.
Tanpa harus menggunakan biaya dan teknologi, makhluk hidup di bumi juga bisa menikmati air melalui proses penguapan.
Menurut Harun Yahya, ilmuwan Muslim kelahiran Turki, sebanyak 45 miliar liter kubik air menguap dari lautan setiap tahun. Air yang menguap tersebut dibawa angin melintasi daratan dalam bentuk awan. Lalu awan-awan itu menggumpal hingga berat dan akhirnya menurunkan curah hujan dari langit.
Untuk itu, al-Qur’an mengajak manusia mensyukuri hujan sebagai karunia yang mendatangkan berkah bagi kehidupan.
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
أفرأيتم الماء الذي تشربون ، أأنتم أنزلتموه من المزن أم نحن المنزلون ، لو نشاء جعلناه أجاجا فلولا تشكرون
“Maka terangkanlah kepada-Ku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkannya? Kalau Kami kehendaki, niscaya Kami jadikan dia asin, maka mengapa kamu tidak bersyukur.” (QS. Al-Waqi’ah [56]: 68-70).
وهو الذي ينزل الغيث من بعد ما قنطوا وينشر رحمته وهو الولي الحميد
“Dan Dialah yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Yang Maha Pelindung lagi Maha Terpuji.” (QS. Asy-Syura [42]:28).
Curah hujan yang tinggi menyebabkan sungai atau kali kecil tak dapat menampung volume air karena kelebihan kapasitas.
Hal yang sama juga menjadikan beberapa genangan air di wilayah yang tidak mempunyai sistem drainase yang baik. Akibatnya tak jarang hujan justru mengakibatkan banjir yang melanda beberapa daerah/kota.
Fenomena itu menjadi problem rutin yang tak kunjung ketemu solusi. Sebagian masyarakat mengeluh tentang kerugian akibat musibah banjir tersebut.
Mulai dari lalu lintas yang lumpuh, timbulnya penyakit ISPA, diare, demam berdarah, hingga kenaikan harga sembako yang melonjak drastis.
Tanpa sadar, sejumlah dampak tersebut membuat sebagian manusia saling menyalahkan. Mereka berkata, musibah banjir terjadi karena pemerintah kurang antisipatif dan tak bertanggung jawab.
Sebagian lagi menganggap adanya kelompok manusia tak bermoral yang merusak lingkungan. Ada lagi yang memilih apatis dan tak henti mengeluh sepanjang waktu.
Dalam Islam, sikap saling menyalahkan dan mengeluh adalah perbuatan yang tak dibenarkan. Sebab manusia dituntut punya usaha dan mujahadah maksimal terlebih dahulu. Sekurangnya ada evaluasi dahulu dan menjauhkan diri hanya berkesah apalagi saling memvonis orang lain.
Memulai dari hal kecil dan berawal dari diri sendiri merupakan solusi paling tepat mengatasi masalah, termasuk masalah banjir.
Olehnya, berikut ini beberapa hal sederhana yang bisa dilakukan seorang Muslim terkait persoalan banjir tersebut:
Pertama, menjaga kebersihan lingkungan, utamanya tidak membuang sampah sembarangan. Sayangnya, meski secara jamak aturan itu sudah diketahui, tapi tidak serta merta hal tersebut lalu dilaksanakan.
Berbagai baliho dan poster tentang larangan membuang sampah sembarangan tersebar di sejumlah titik publik. Namun dimana-mana sampah tetap saja berceceran dan menumpuk di sembarang tempat.
Menjaga kebersihan harus menjadi kebiasaan (habit) baik oleh setiap orang. Aturan menjaga kebersihan dan membuang sampah di tempatnya adalah terlihat sederhana. Jika ditaati, itu berarti masyarakat sedang membangun budaya bersih dan lingkungan yang nyaman.
Namun jika masyarakat belum bisa disiplin dengan hal sepele itu, misalnya, maka jangan heran dimana-mana terjadi pelanggaran yang berujung kepada datangnya musibah silih berganti.
Kedua, menanam pohon. Tanaman pohon memiliki berbagai manfaat. Selain menghasilkan oksigen, tanaman berfungsi sebagai peresap air hujan.
Saat hujan turun, butir airnya tidak langsung menimpa permukaan tanah, tetapi ditahan oleh daun, ranting, dan batang pohon sehingga mengurangi daya gerus air terhadap tanah. Sebagaimana akar pohon juga berfungsi untuk mencegah erosi tanah.
Kewajiban menjaga kebersihan bukan cuma aturan pemerintah kepada rakyatnya atau kebiasaan diri secara personal. Tapi hal itu merupakan kewajiban agama. Ia adalah adab dan akhlak mulia sebagai ciri yang melekat pada seorang Muslim.
Dalam hadits, Rasulullah juga menganjurkan hidup sehat dan bersih sehingga terhindar dari penyakit. Sebab dengan tubuh sehat, seseorang bisa melakukan ibadah dan beraktivitas dengan baik.
Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah itu suci dan menyukai hal-hal yang suci, Dia Mahabersih dan menyukai kebersihan, Dia Mahamulia dan menyukai kemuliaan, Dia Mahaindah dan menyukai keindahan, karena itu bersihkanlah tempat-tempatmu.” (Riwayat at-Tirmidzi).
Ketiga, cara pandang ukhrawi. Menanggapi masalah banjir, umat Islam sepatutnya punya cara pandang yang berbeda.
Tidak hanya yang beraspek duniawi, tapi juga ukhrawi (orientasi hari Akhirat). Memahami bahwa banjir yang datang bukan hanya karena tingginya curah hujan. Namun banjir juga merupakan ujian dari Allah.
Ujian tersebut adalah bentuk cinta dan kasih sayang-Nya. Allah menguji hamba-Nya dengan mendatangkan banjir dan Allah ingin melihat bagaimana hamba-hamba-Nya menghadapi ujian tersebut.
Musibah yang menimpa tak selesai dengan mengeluh. Tapi harus dihadapi dengan lapang dada dan sabar. Jika berhasil melewati ujian tersebut dengan sendirinya keimanan seseorang akan bertambah dan kian dekat kepada Allah.
Keempat, evaluasi diri dengan menganggap banjir sebagai teguran. Musibah banjir juga bermakna teguran Allah atas kemungkaran yang merebak dimana-mana.
Kemaksiatan itu bisa berupa budaya korupsi, legalisasi judi, maraknya LGBT, kriminalitas yang meningkat, tradisi jahiliyah, rusaknya lingkungan, dan sejumlah perbuatan maksiat lainnya.
Terakhir, setiap persoalan dalam kehidupan manusia hendaknya dikembalikan kepada ajaran agama.
Menjadi pribadi-pribadi yang shaleh secara personal dan juga mushlih untuk lingkup sosial. Sebab terkadang, kerusakan itu muncul justru berawal dari tangan manusia itu sendiri.
Allah berfirman:
ظهر الفساد في البر والبحر بما كسبت أيدي الناس ليذيقهم بعض الذي عملوا لعلهم يرجعون
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum : 41).*/Arsyis Musyahadah, pengajar STISHID Balikpapan