Oleh: Ali Akbar bin Muhammad bin Aqil
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أما بعد فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Sejumlah kabar duka dan bencana alam terjadi di awal 2021 ini. Beragam musibah tersebut terjadi saat kita tengah bergulat dengan pandemi Covid-19. Rentetan bencana di tahun ini diawali dengan jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ 182 yang mengangkut 62 orang. Di hari yang sama dengan jatuhnya pesawat itu, di Desa Cihanjuang, Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang terjadi longsor.
Bencana lainnya juga menerjang Kalimantan Selatan. Terjadi banjir di berbagai lokasi yang mencapai ketinggian 3 meter. Dilaporkan ada sekitar 21 ribu jiwa terdampak bencana banjir di Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan.
Lalu, kembali dilaporkan bencana alam lainnya, yakni gempa bumi di Majene dan Mamuju, Sulawesi Barat. Sejauh ini sudah ada puluhan warga meninggal dunia. Belasan ribu warga harus mengungsi akibat gempa berkekuatan magnitudo 6,2 tersebut. Belum lagi erupsi gunung Semeru dan banjir besar di Manado.
Kaum Muslimin…
Dalam pandangan Rasulullah ﷺ segala sesuatu yang menimbulkan gangguan atau ketidaknyamanan pada diri seorang mukmin maka ia disebut sebagai musibah. Pada suatu malam, lampu yang menyinari kediaman Rasul tiba-tiba padam. Rasul berucap, “Innaa lillaah wa Innaa ilaihi Raaji’uun.” Ikrimah bertanya, “Wahai Rasul, apakah hal ini termasuk musibah?” Rasul menjawab, “Betul, segala apa yang menganggu orang beriman adalah musibah.”
Berdasarkan hadits di atas, sikap pertama yang harus kita lakukan ketika musibah datang kepada kita, saudara kita, menimpa di suatu negeri atau daerah, adalah mengucapkan istirja’. Yaitu kalimat Innaa lillaah wa Innaa ilaihi Raaji’uun. Ucapan inilah yang disinggung oleh Allah ta’ala dalam Al-Qur’an yang dijadikan sebagai kabar gembira bagi orang-orang yang sabar dalam menghadapi musibah.
….وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ. الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
“Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.” (QS. Al-Baqarah : 155 -156)
Mengapa kabar gembira? Bukankah musibah itu sesuatu yang jauh dari kegembiraan tapi lekat dengan kesusahan dan kesedihan? Allah SWT memandang hambaNya yang mengucapkan kalimat istirja’ sebagai hamba yang tangguh, pantang berputus asa, apalagi menggerutu dan marah atas musibah yang mendera dirinya. Sehingga saat kalimat itu terlontar, Allah akan membalasnya dengan yang lebih baik:
أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ
Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah : 157).
Orang-orang yang bersabar dan beriman kepada Allah akan menerima berita yang baik berupa ampunan Allah dan karunia-Nya. Mereka itulah yang diberi petunjuk menuju jalan kebaikan dan kebenaran. Dalam sebuah hadis disebutkan, “Barangsiapa tertimpa musibah kemudian teringat kejadian tersebut lalu mengucapkan istirja’ (ucapan Innaa Lillaahi wa Innaa Ilaihi Raaji’uun), meskipun kejadiannya telah berlalu, maka Allah tetap akan menulis pahalanya.” (HR. Ibnu Majah).
Kalimat istirja’ ini juga akan berdampak lebih luas jika kita ikuti dengan doa setelahnya. Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidak ada seorang hamba pun yang tertimpa sebuah musibah, kemudian ia mengucapkan:
إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي، وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا
“Kita milik Allah semata dan sesungguhnya hanya kepada-Nya semata kita kembali. Ya Allah berilah aku pahala dalam musibah yang menimpaku, dan berilah aku ganti yang lebih baik daripada musibah yang telah menimpa.”
Ummu Salamah berkata: “Ketika suami saya meninggal, saya pun membaca doa tersebut sebagaimana diperintahkan oleh Rasulullah ﷺ. Maka Allah menggantikan untukku dengan orang yang lebih baik, yaitu Rasulullah ﷺ.” (HR. Muslim).
Karenanya, sebagai orang beriman kita harus menyikapi segala hal yang melahirkan perasaan tidak enak karena suatu musibah atau bencana, dengan mengembalikan semuanya kepada Allah. Inilah sikap pertama sebagai seorang mukmin sejati.
Kaum Muslimin yang Dimuliakan Allah
Sikap kedua sebagai orang Mukmin dalam menghadapi musibah adalah menghadirkan sikap ta’aawun. Kata ta’aawun ini secara harfiah adalah tolong-menolong. Bisa pula berarti saling bekerja sama. Sebagai orang beriman yang senasib sepenanggungan dengan saudara kita yang tertimpa musibah, kita harus saling bekerja sama dengan satu koordinasi yang baik untuk mencapai sesuatu yang baik.
Kerja sama harus dibingkai dalam kebaikan dan kebenaran, bukan dalam kerangka dosa, apalagi mengembangkan permusuhan. Firman Allah SWT :
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (QS. Al-Ma’idah : 02).
Dari sekian bentuk ta’aawun dalam kebaikan adalah menghilangkan atau setidaknya mengurangi derita yang dirasakan oleh saudara kita. Jika hal ini kita wujudkan semata-mata mengharapkan ridha Allah, yakinlah Allah akan menghilangkan kesusahan dalam kehidupan kita di akhirat kelak. Tidak hanya itu, orang yang gemar menolong sesamanya akan mendapatkan pertolongan dari Allah SWT. Rasulullah ﷺ bersabda :
مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِماً سَتَرَهُ اللهُ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كاَنَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيْهِ
“Siapa yang menyelesaikan kesulitan seorang mukmin dari berbagai kesulitan-kesulitan dunia, niscaya Allah akan memudahkan kesulitan-kesulitannya di Hari kiamat. Dan siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan niscaya akan Allah mudahkan baginya di dunia dan akhirat serta siapa yang menutupi (aib) seorang muslim, Allah akan tutupi aibnya di dunia dan akhirat. Allah selalu menolong hamba-Nya selama hamba-Nya menolong saudaranya.” (HR. Bukhari-Muslim)
Jama’ah Shalat Jum’at…
Mari kita saling menolong, bahu membahu, menyingsingkan lengan, merogoh kantong, dengan memberikan sebagian rezeki kita untuk disalurkan kepada saudara kita yang tertimpa musibah dan bencana alam. Sedikit dari apa yang kita berikan, akan banyak membantu mereka atau mengurangi kesusahan yang sedang mereka alami, apalagi jika yang kita berikan lebih banyak, tentu lebih membantu mereka dan segera mengentaskan mereka dari keterpurukan.
Yakinlah, harta yang kita berikan untuk menolong mereka, selain mendapatkan pahala di sisi Allah, juga akan mendapatkan ganti yang lebih baik dari apa yang sudah kita keluarkan. Jangan pernah berhitung dengan Allah. Karena Allah punya sejuta cara untuk menjadikan harta kita berkah dengan sedekah yang kita keluarkan.
باَرَكَ اللهُ لِيْ وَلكمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيّاكُمْ بِالآياتِ والذِّكْرِ الحَكِيْمِ. إنّهُ تَعاَلَى رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى
وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِي وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآء مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِين وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ.
اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.
عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ