Oleh: Alwi Alatas
BULAN Rajab belum lama berlalu dan bulan Ramadhan tak lama lagi akan datang. Pada tulisan kali ini, kami akan menceritakan dua buah peristiwa yang berkaitan dengan kota al-Quds dan terjadi pada tanggal 27 Rajab, walaupun pada salah satu kejadian yang akan diceritakan waktu berlakunya tidak sepenuhnya disepakati. Kejadian yang pertama adalah peristiwa Isra’ Mi’raj dan kejadian yang kedua adalah penaklukkan kembali kota al-Quds dari tangan Pasukan Salib oleh Shalahuddin al-Ayyubi.
Isra’ Mi’raj
Salah satu pendapat yang populer mengatakan bahwa peristiwa Isra’ Mi’raj terjadi pada tanggal 27 Rajab. Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarakfury dalam kitab sirahnya, Al-Rahiq al-Makhtum, mengatakan bahwa hal ini merupakan pendapat al-‘Allamah al-Manshurfury yang mengatakan bahwa Isra’ Mi’raj terjadi pada malam 27 Rajab tahun 10 kenabian.
Mubarakfury sendiri melemahkan pendapat ini, walaupun ia tidak memberi keputusan pasti tentang waktu terjadinya peristiwa ini. Ia hanya cenderung pada pendapat bahwa peristiwa itu terjadi pada tahun-tahun yang akhir sekali dari keberadaan Nabi Shallahu ‘alaihi Wassalam di Makkah.
Kisah Isra’ Mi’raj sudah banyak diketahui oleh kaum Muslimin dan di Indonesia biasa diperingati secara khusus setiap tahunnya. Pada masa-masa itu biasanya para khatib dan para penceramah akan menceritakan kembali kisah perjalanan isra’ Nabi ke Baitul Maqdis di al-Quds (Yerusalem) dan mi’raj Nabi saw ke Sidratul Muntaha dan kemudian menghadap Allah untuk menerima perintah shalat lima waktu.
Kisah Isra’ Mi’raj memiliki narasi yang khas dan kuat sehingga beberapa penelitian menyebutkan bahwa karya Dante yang terkenal, Divine’s Comedy, sebenarnya banyak mengambil inspirasi dari kisah Isra’ Mi’raj.
Dalam peristiwa itu, Nabi melakukan perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an Surat al-Isra’ ayat pertama. Nabi saw. shalat di Masjidil Aqsa, mengimami para Nabi lainnya yang dihadirkan ke tempat itu. Kemudian beliau naik melewati langit pertama, kedua, hingga menghadap Allah dan menerima perintah shalat. Dalam perjalanannya itu, beliau menyaksikan berbagai hal, antara lain bentuk-bentuk hukuman yang akan diterima oleh orang-orang yang melakukan perbuatan dosa.
Kami tidak akan mengulangi kisahnya di sini. Tapi dalam kesempatan ini, kami ingin menyebutkan sebuah riwayat yang menarik terkait Isra’ Mi’raj.
Dalam Tafsirnya, saat menjelaskan ayat pertama Surat al-Isra, Ibnu Katsir menyebutkan sebuah riwayat yang diambilnya dari buku Dala’il al-Nubuwwah karya al-Hafiz Abu Nu’aym al-Isbahani. Riwayat itu menyebutkan bahwa Rasulullah mengutus Dihyah bin Khalifah kepada Kaisar Heraklius dari kekaisaran Byzantium.
Pertemuan ini terjadi di kota al-Quds yang ketika itu dikenal sebagai kota Iliya dan terjadi setelah perjanjian Hudaibiyah. Saat menerima Dihyah yang menyampaikan kepadanya surat dari Nabi saw., Heraklius memerintahkan orang-orangnya untuk menghadirkan orang-orang Arab dari Hijaz yang kebetulan sedang berniaga di Syam. Di antara para pedagang yang dihadirkan ini ada Abu Sufyan bin Harb yang ketika itu belum masuk Islam. Kaisar bertanya kepadanya pertanyaan-pertanyaan yang telah diketahui luas dan terdapat dalam Shahih Bukhari dan Muslim.
Riwayat ini kemudian menyebutkan betapa Abu Sufyan berusaha keras untuk memberi kesan yang negatif tentang Nabi Muhammad. Abu Sufyan berkata: “Demi Allah, tidak ada satu hal pun yang menghalangi saya dari terus berkata-kata kepada Heraklius untuk membuatnya meremehkan Muhammad (saw.).” Tetapi ia tidak berani berdusta karena khawatir ketahuan oleh Heraklius dan karenanya tidak akan dipercaya lagi. Kemudian Abu Sufyan berusaha membuat Heraklius ragu dengan menyebutkan peristiwa Isra’.
Abu Sufyan berkata, “Wahai Raja, saya akan memberitahukan kepada Anda yang akan membuat Anda tahu bahwa ia (Nabi Muhammad saw.) berdusta.” Ia berkata, “Apa itu?” Abu Sufyan berkata, “Ia mengatakan bahwa ia telah keluar dari negeri kami, tanah Haram, dalam satu malam, dan datang ke tempat suci Anda di Yerusalem ini, kemudian kembali lagi kepada kami pada malam yang sama, sebelum pagi menjelang.”
Kepala pendeta Yerusalem ketika itu ada di tempat itu, berdiri di samping Kaisar. Pendeta Yerusalem itu berkata, “Saya mengetahui malam itu.” Kaisar melihat ke arahnya dan berkata, “Bagaimana Anda bisa mengetahui tentang hal ini?”
Ia berkata, “Saya tidak pernah tidur di malam hari sehingga saya menutup pintu tempat suci (Masjid al-Aqsa, pen.). Pada malam itu, saya menutup semua pintu kecuali sebuah pintu, yang tidak bisa saya tutup. Saya memanggil para pekerja dan beberapa orang lainnya yang bersama saya untuk membantu menyelesaikan masalah ini, tetapi kami tetap tidak bisa menutupnya. Rasanya seperti memindahkan sebuah gunung. Maka saya memanggil para tukang kayu, dan mereka melihatnya serta berkata, ‘Ambang pintu dan beberapa bagian pintu ini telah jatuh ke atasnya. Kita tidak bisa menggerakkannya sampai pagi sehingga kita bisa melihat (dengan jelas) apa masalahnya.’ Maka saya pun kembali dan membiarkan pintu itu tetap terbuka. Pagi harinya saya kembali ke situ dan melihat bahwa batu yang ada di sudut tempat suci ada lubangnya, dan ada bekas hewan yang ditambatkan di situ. Saya berkata pada teman-teman saya, ‘Tidaklah pintu ini tidak bisa ditutup semalam melainkan untuk seorang Nabi, yang shalat semalam di tempat suci kita ini.’”
Dalam kisah tersebut, Abu Sufyan berusaha menimbulkan keraguan raja, tetapi kisah itu malah mendapat pembenaran dari pendeta penjaga tempat suci itu. Kita tidak mengetahui apa yang terjadi setelah itu dengan sang pendeta, apakah ia masuk Islam atau tetap pada agamanya.*/Bersambung
Penulis adalah kandidat doktor bidang Sejarah di IIUM yang juga penulis buku “Nuruddin Zanki dan Perang Salib