Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Natsir dan Perjuangan Mengatasi Problem Palestina

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 14 Mei 2021 07:49 7:49 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 14 Mei 2021 07:49
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com | PADA tahun 1967, Natsir diundang untuk datang ke Amman, Ibu Kota Jordania. Undangan ini diinisiasi agar para pemimpin dari berbagai negeri Islam yang diundang mengetahui langsung kondisi di lapangan pasca meletusnya perang enam hari antara Israel dan Mesir pada tahun yang sama (baca: Muhammad Natsir 70 Tahun Kenang-kenangan, 1978: 141).

Dalam momen ini, sebagai wujud konkret kepedulian Natsir terhadap persoalan umat Islam di dunia, beliau tak lupa untuk mangangkat isu Palestina berikut pemecahan solusinya menghadapi penjajah Israel. Pada penutupan acara, dibentuklah satu delegasai yang diwakili empat orang dari Jordania, Tunisia, Pakistan dan Indonesia.

Waktu itu, yang diamanahi menjadi pemimpin adalah M. Natsir. Tugas delegasi ini adalah untuk mengunjungi pemerintah-pemerintah bersangkutan guna mencari solusi masalah Palestinah pasca perang 6 hari antara Mesir dan Israel. Untuk kepentingan ini, Natsir dan kawan-kawan mengunjungi beberapa negara seperti: Sudan, Lebanon, Irak, Kuwait, dan Saudi Arabia.

Hal lain yang tidak kalah penting di balik pendelegasian ini adalah untuk menyampaikan aspirasi umat agar negara-negara terkait bersatupadu dan bersinergi untuk menghadapi Israel. Menariknya, dalam upaya mensukeseskan tujuan itu, Natsir tak lupa mengingatkan bahwa front menghadapi Israel bukan saja terbentang di pegunungan Golan, Sinai, pantai barat sungai Jordan saja, tapi juga perlu menghadapi font lain secara bersama-sama yang efeknya juga sangat signifikan.

Front itu disebut Natsir dengan istilah front mass-media Yahudi pro-Israel di Amerika serta negara-negara Barat umumnya yang mendukung Israel melalui surat kabar, radio dan televisi yang membuat opini publik guna menguntungkan kepentingan Israel dan merugikan front Arab kala itu.

Baca Juga

H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina
Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina
Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama
KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah
R.A Kartini: Latarbelakang Kehidupan dan Alam Pikirannya

Bayangkan! Pada tahun 1967, Natsir dan kawan-kawan sudah punya kepekaan bahwa untuk menghadapi Israel tak cukup sebatas perlawanan fisik di jantung Palestina dan sekiarnya tapi berbagai anasir pendukungnya seperti media masa harus juga dilawan. Dengan kecanggihan era digital seperti hari ini tentu saja, sangat relevan umat Islam ikut serta meluruskan informasi dan membantu perjuangan rakyat Palestina yang sedang memperjuangkan kemerdekaannya minimal melalui media online dengan gadget masing-masing.

Pengalaman-pengalaman riil Natsir dalam mengurusi masalah Palestina ini di kemudian hari melahirkan buku “Masalah Palestina” (1971) yang merupakan ceramah beliau dalam masjid Munawwaroh Tanah Abang dan sebagai refleksi atas pertemuan kongres Mu’tamar ‘Alam Islamy di Damaskus sebagaimana sempat disinggung tadi. Tak cukup sampai di situ, beliau juga aktif menyuarakan kepentingan Palestina melalui artikel-artikel di berbagai media masa zamannya.

Apa yang dilakukan oleh Natsir tak semata karena urusan balas budi kepada Palestina yang dulu pernah berjasa besar dalam mengakui kemerdekaan Indonesia, atau juga bukan sekadar urusan kemanusiaan. Natsir dan kawan-kawan sadar betul bahwa ikatan imanlah yang melatari semuanya.
Hubungan iman ini melampau sekat-sekat primordialisme, suku, kelompok, aliran dan berbagai sekte buatan manusia.

Di sana ada Al-Aqsha, di sana ada umat Islam yang dijajah, di sana tempat yang diberkati ternoda, di sana kesucian agama dikoyak.Dalam kondisi demikian, apakah umat Islam tidak mau bersatu untuk melawan kelaliman ini? Pernah suatu ketika, tulis Natsir dalam Capita Selecta Jilid I, Amir Sakib Arsalan dicerca gara-gara meminta bantuan Italia untuk membantunya mempejuangkan hak-hak mukmin yang terjajah. Menariknya adalah jawaban Amir, “Kenapa saja tidak boleh menerima pertolongan Italia dalam urusan ini? Itu baru Italia, akan tetapi ditakdirkan ada satu gerombolan setan, jang mau menolong saja melawan politik jang sematjam itu, tentu saja akan bersatu dengan setan2 itu dalam urusan ini. Disini saja terpaksa memilih jang paling enteng daripada dua bahaja.”

Bahasa kasarannya, kenapa Anda melarang saya minta tolong kepada orang non-muslim untuk membantu saudara-saudara kita yang dijajah, sementara Anda sekalian yang katanya sama-sama mukmin berdiam diri dan tak tergerak untuk membantu teman-teman di Palestina. Dalam kaidah fikih diperbolehkan memilih darurat paling ringan ketika dihadapkan oleh dua darurat.

Semoga momen penistaan umat Islam di Masjid Aqsha baru-baru ini bisa menyadarkan umat Islam akan persatuan dan mengerahkan segenap potensi mereka untuk membantu saudara-saudara yang sedang berjuang di bumi Palestina. Bantuan bisa berupa doa, sedekah, atau minimal menggunakan jari-jemari Anda untuk meluruskan berita miring di media massa melalui gadget yang dipunya.

Bapak bangsa seperti Natsir dan kawan-kawan, meski belum berhasil, telah berupaya untuk memecahkan solusi Palestina. Pertanyaannya, maukah kita melanjutkan estafet cita-cita luhur itu demi terwujudnya kemerdekaan Palestina? Jawaban paling ampuh tak lagi sebatas kata-kata, tapi ketulusan jiwa yang diperkuat dengan tindakan nyata. Tabik!

Sebagai penyemangat, mungkin bait penutup puisi Taufik Ismail berjudul “Palestina, Bagaimana Bisa Aku Melupakanmu” bisa direnungi:

Palestina, bagaimana bisa aku melupakanmu
Tanahku jauh, bila diukur kilometer, beribu-ribu
Tapi azan Masjidil Aqsha yang merdu
Serasa terdengar di telingaku..*/MahmudBudi Setiawan

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:M NatsirNatsirpalestinaSerangan Masjid al-Aqsha
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Kasus Coronavirus Varian India di Inggris Naik Lebih Dari 2 Kali Lipat
Tulisan selanjutnya Pentingnya Mendekat pada Ulama

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal

Berita
31 Mei 2026 05:00
Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan
Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB
Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Salam al-Turjuman dan Ekspedisi Pencarian Tembok Ya’juj dan Ma’juj

14 April 2026 07:01
Sejarah

Akibat Mengabaikan Ukhuwah Islamiyah dan Bekerjasama dengan Musuh

9 April 2026 14:00
Sejarah

Cermin Sejarah: Respon Indonesia Saat Masjidil Aqsha Dinista Kesuciannya oleh Zionis Israel

6 April 2026 13:22
KajianSejarah

Dukungan Nyata Bangsa dan Tokoh Palestina untuk Kemerdekaan Indonesia

14 Maret 2026 06:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?