Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Hikmah dari Sirah Nabi ﷺ Semasa Membina Keluarga

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 22 Februari 2019 13:38 1:38 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 22 Februari 2019 13:38
Bagikan
Goa Hira
Bagikan

BETAPA indahnya, jika keluarga atau rumah tangga dibina berdasarkan tuntunan ilahi. Bau surgawi akan tercium dari dalam biliknya. Hubungan di dalamnya begitu intim. Individu-individu yang berada di dalamnya bekerjasama menggapai ampunan, dan ridha Allah SWT. Semuanya berlomba-lomba dalam menuju kebaikan.

Siapa saja yang menghendaki nuansa demikian, maka contoh idealnya adalah rumah tangga Rasulullah. Al-Qur`an menggambarkan bahwa pada diri Rasulullah ﷺ ada teladan yang baik (QS. Al-Ahzab: 21).

Beliau pun sejak awal memberi contoh, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik pada keluarganya. Dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku.’(HR. Tirmudzi). Sudah selayaknya mahligai rumah tangga beliau diteladani.

Pada rentang usia 25 hingga 40 tahun, tidak banyak riwayat yang secara detail menjelaskan apa kiprah Nabi Muhammad sebelum menjadi nabi, baik bagi individu, keluarga maupun sosial. Namun, beberapa peristiwa ini setidaknya dapat menjelaskan kiprah beliau ketika sudah berumah tangga.

Baca: Beginilah Kegiatan Harian Rasulullah Muhammad ﷺ 

Pertama, peristiwa peletakan Hajar Aswad (Nûr al-Yaqîn, 17). Saat berusia 35 tahun, beliau mampu mencari solusi bagi problematika umat. Saat renovasi ka`bah –lantaran tertimpa banjir- sudah hampir selesai, para pembesar Mekah hampir saja perang gara-gara memperebutkan siapa yang paling layak meletakkan Hajar Aswad. Abu Muawiyah bin Mughirah sebagai orang yang senior akhirnya berembuk dengan para pembesar. Akhirnya disepakati, bahwa orang yang pertama kali masuk ke ka`bahlah yang akan meletakkan Hajar Aswad.

Baca Juga

H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina
Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina
Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama
KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah
R.A Kartini: Latarbelakang Kehidupan dan Alam Pikirannya

Sesuai takdir Allah, Muhammad ﷺ lah yang pertama kali masuk. Mereka ridha dengan beliau yang berjuluk “al-amîn”. Dengan tenang, nabi mampu memecahkan solusi dengan sangat baik. Beliau menyuruh pembesar Qurays meletakkan Hajar Aswad di atas kain. Setiap pembesar memegang tepian kain dan sama-sama mengangkatnya bersama nabi. Saat sudah dekat dengan tempat Hajar Aswad, akhirnya beliaulah yang meletakkannya.

Dari peristiwa ini bisa dilihat bahwa nabi berperan aktif dalam sekala publik. Ia menjadi orang yang mampu memberikan solusi, membuat kondisi tetap stabil, memiliki hubungan yang sangat intim dengan masyarakat sekitarnya dan meredam pertumpahan pada skala massif. Pada kasus peletakan Hajar Aswad, prinsip-prinsi sinergi juga terbaca jelas dengan solusi yang ditawarkannya.

Baca: Mengenal Istri-istri Rasulullah Muhammad 

Pantaslah jika dia berjuluk “al-amîn”. Alasanya jelas: bisa menjalankan amanah dengan baik, selalu menciptakan rasa aman di sekelilingnya, dan mampu memberikan solusi yang tepat bagi permasalahan umat.

Kedua, berkhalwat (menyendiri) di Gua Hira. Saat usia beliau sudah menginjak 38 sampai 40 tahun. Ada amalan rutin yang beliau lakukan yaitu mengasingkan diri di gua Hira. Pada waktu itu, dari sisi komunikasi publik, memang beliau nyaris tidak ada problem. Hanya saja, dari sisi spiritual, beliau merasakan ada yang tidak beres dengan apa yang terjadi di Mekah kala itu. Yang beliau lakukan saat mengalami keresahan tersebut ialah dengan melakukan khalwat di Gua Hira.

Dalam gua, beliau merenung, berpikir, mendekatkan diri kepada Zat Yang Maha Kuasa. Langkah-langkah spiritual yang diilhami dari Allah inilah yang menggambarkan bahwa beliau juga peka terhadap masalah spiritual. Ketika usia beliau sudah matang, tepatnya 40 tahun, belia diangkat menjadi nabi dan mendapatkan wahyu untuk pertamakalinya.

Baca:Sahabat Terakhir Rasulullah Muhammad 

Ketiga, kesaksian Khadijah mengenai amal-amal sosial Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Dalam Shahih Muslim, Aisyah menceritakan kondisi Nabi Muhammad ﷺ sepulang dari Gua Hira. Beliau mengadukan keresahannya kepada Khadijah. Sebagai istri yang shalihah, beliau menenangkannya, “Demi Allah, Allah tak akan menghinakanmu selama-lamanya. Kamu telah menyambung shilaturrahim, berbicara jujur, memikul beban orang lain, suka mengusahakan sesuatu yang tidak ada, menjamu tamu dan serta membela faktor-faktor kebenaran.”

Jawaban Khadijah ini tentunya memberikan gambaran yang sangat jelas bahwa Rasulullah ﷺ selama berumah tangga dengannya (dari usia 25 hingga 40 tahun), sangat peduli kepada urusan keluarga, sosial, dan kebenaran. Maka sangat logis pernyataan Khadijah, bahwa orang yang memiliki akhlak semulia Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam  tidak akan mungkin dicampakkan oleh Allah Subhanahu wata’ala.

Dari pembahasan tersebut dapat disimpulkan bahwa saat menjalin rumah tangga bersama Khadijah (dari usia 25 hingga 40 tahun), Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam  mampu menjadi kepala keluarga teladan. Beliau mampu menjalin hungungan dengan baik sesama manusia (baik keluarga maupun sosial), dan bisa mempererat hubungan secara vertikal dengan Allah dengan memperdulikan sisi spiritualnya.

Sebagai penutup, pernyataan Johann Wolfgang Gouthe, Sastrawan Kenamaan Jerman (1749-1832M) berikut bisa dicamkan “Aku mencari contoh ideal dalam sejarah bagi manusia, lalu aku temukan pada diri Nabi Muhammad.” (Arrahmah Fî Hayâti al-Rasûl, 421). Apakah kita sebagai muslim sudah meneladani Nabi Muhammad ﷺ?*/Mahmud Budi Setiawan

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:hikmahmadinahNabi Muhammadrasulullahsirah nabawi
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Munajat 212, Mendoakan Pemilu Damai
Tulisan selanjutnya Andi Arief: Bongkar Pertemuan Rahasia Jokowi-Bos Freeport, Sudirman Said Mau Dihabisi

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah

Berita
2 Juni 2026 21:41
‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis
Kementerian Kesehatan Gaza: 33 Orang Syahid Ditembak Israel saat Libur Idul Adha
Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi
Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan

Terbaru

  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Salam al-Turjuman dan Ekspedisi Pencarian Tembok Ya’juj dan Ma’juj

14 April 2026 07:01
Sejarah

Akibat Mengabaikan Ukhuwah Islamiyah dan Bekerjasama dengan Musuh

9 April 2026 14:00
Sejarah

Cermin Sejarah: Respon Indonesia Saat Masjidil Aqsha Dinista Kesuciannya oleh Zionis Israel

6 April 2026 13:22
KajianSejarah

Dukungan Nyata Bangsa dan Tokoh Palestina untuk Kemerdekaan Indonesia

14 Maret 2026 06:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?