Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Mari Berkaca Pada Pemilu 1955

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 25 April 2019 09:44 9:44 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 25 April 2019 09:45
Bagikan
Surat Suara Pemilu 1955.
Bagikan

DALAM Pemilu 1955, ada banyak partai yang bersaing sengit. Meski demikian, menurut catatan Eep Saefullah Fatah, hajatan besar itu tidak dikotori oleh kerusuhan dan korban jiwa (Eep, 2004: 67).

R. William Liddle –Guru Besar dari Ohio State University– sampai berdecak kagum dengan fenomena itu. Menurut catatannya, Pemilu 1955 berlangsung sengit, namun semuanya berlangsung baik bahkan diisi oleh orang-orang dari beragam partai yang pandai membangun kompromi.

Lalu bagaimana dengan para pendukung? Saling sindir, bully tetap ada namun tidak sampai menimbulkan kekisruhan masif.

Sebagai contoh, menurut cerita Alwi Shahab, dulu, saat PKI berkampanye di Lapangan Banteng, mereka berseloroh, kalau Masyumi menang, maka Lapangan Banteng jadi lapangan Onta.

Orang Masyumi pun menimpali di saat yang lain, kalau PKI menang, maka Lapangan Banteng akan diubah menjadi Lapangan Mereah Kremlin. Bahkan, orang Masyumi juga menyindir Partai NU dengan sebutan Partai Nasi Uduk.

Baca Juga

Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya
KH. Abdul Mu’thi: Tetap Berkarya di Balik Penjara
KH. Abdullah Said dalam Liputan Majalah Panji Masyarakat
Menolak Digaji Negara: Kisah Para Hakim Teladan dalam Sejarah Peradaban Islam
Syair Ahmad Baktsir dan Detak Jantung Diplomasi Kemerdekaan RI di Kairo

Gesekan-gesekan kecil itu tidak sampai mencederai Pemilu. Secara umum malah berjalan mulus dan duniapun sampai kagum.

Herbert Feith dalam buku “The Indonesian Elections of 1955” –sebagaimana dikutip majalah Tempo dalam artikel berjudul Nasi Uduk di Lapangan Kremlin (2007)– Pemilu berlangsung sukses karena 5 hal: (1) perbedaan (2) kompetisi (3) sirkulasi kekuasaan [siap menjadi pemenang dan pecundang] (4) Kemampuan mengolah konflik dan kompromi (5) kematangan menyikapi haluan politik.

Apa pada waktu itu tidak ada kecurangan? Jelas ada, tapi tidak masif. Sebagai contoh, apa yang dituturkan Alwi Shahab (Pengamat Budaya Betawi).

Pemberitaan media condong memenangkan partai yang sesuai dengan pilihannya. Harian Rakyat misalnya, selalu memenangkan PKI di halaman satu. Harian Suluh selalu menayangkan kemenangan PNI. Masyumi selalu unggul di koran Abadi. Sedangkan partai kecil seperti Murba menguasai Berita Indonesia dan Baperki.

Namun, kecurangan sangatlah kecil dan tidak masif. Kedewasaan dalam berpolitik pun sangat tinggi. Mereka pada umumnya menghormati perbedaan haluan politik. Alwi sendiri misalnya, ia memilih partai PSI (Partai Sosialis Indonesia), sementara ayahnya memilih partai NU.

Guru dan murid berbeda pun tak jadi masalah. Misalnya, Habib Ali Kwitang berkampanye NU, sementara muridnya (Abdullah Syafi’ie) berkampanye untuk Masyumi. Bahkan meski ada yang golput pun tetap saling menghormati.

Kala itu, pemilu dilakukan di 16 wilayah seantero negeri; mencakup 208 kabupaten, 3.141 Kecamatan, serta 42.092 desa, dan diikuti 118 partai politik. Ditambah dengan perbedaan haluan yang sangat tajam antar partai.

Terlepas dari semua itu, pemilu berjalan lancar, aman dan terkendali. Pada zaman pemilu yang serba terbatas dengan berbagai tantangan internal yang cukup berat. Bisa jadi, salah satu kesuksesan pemilu pada waktu itu adalah kedewasaan para politisi dan peserta politik serta minimnya kecurangan, ditambah lagi petugas pemilu menjalankan amanah dengan sangat baik.

Berkaca dengan pemilu sekarang yang menghabiskan triliunan rupiah? Bagaimana hasilnya jika dibandingkan dengan Pemilu 1955 yang serba terbatas dana dan rintangan? Silakan menjawab dalam hati masing-masing.

NB: Kotak pemilunya waktu itu pakai kayu, bukan kardus.* Mahmud Budi Setiawan

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:masyumiNUpemiluPemilu 1955Pemilu 2019PKIsejarah Indonesiasejarah Pemilu
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Sebelum Kebakaran Pekerja Konstruksi di Notre-Dame Merokok
Tulisan selanjutnya Pemkot Depok Larang Film ‘Kucumbu Tubuh Indahku’ di Bioskop-bioskop

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Kecam Serangan Bandara King Khalid Saudi, Dewan Dakwah: Tidak Dapat Dibenarkan

Berita
12 Oktober 2026 23:35
Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya
Gerombolan Pemukim ‘Israel’ Bakar Masjid di Desa Mukhmas Tepi Barat
Wakaf Al-Qur’an: Menghadirkan Cahaya Qur’an bagi Santri di Tolitoli
PBB Catat Kenaikan Angka Kemiskinan Dunia, 1 Miliar Orang Terdampak

Terbaru

  • Blokade Militer Amerika Mencekik Kemampuan Finansial Iran
  • Remaja Norwegia yang Dikontrak Geng Kriminal Terkait Iran untuk Melakukan Pembunuhan di Inggris Dibui 20 Tahun
  • Qatar Janji Bantu Pemulihan Sektor Energi Libanon
  • Perusahaan Periklanan ‘Israel’ Tanam Spyware di Perangkat Jurnalis Al-Jazeera
  • Arab Saudi Eksekusi Pasangan yang Berbuat Asusila di Salah Satu Masjid Mekkah
  • Santri Hari Ini, Pemimpin Masa Depan: Semangat PFD XIII di Yogyakarta
  • Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya
  • Gerombolan Pemukim ‘Israel’ Bakar Masjid di Desa Mukhmas Tepi Barat
  • IPB Kembangkan Kampung Ramah Keluarga Lewat Kolaborasi Riset dengan Dua Universitas Jepang
  • Majelis Ulama Indonesia Tetap Tegas Tolak Konser Andrea Bocelli

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Buya Natsir dan 1.000 Sarung untuk Tapol PKI

22 Juli 2026 20:00
Sejarah

Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah

15 Juni 2026 07:41
Sejarah

H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina

23 Mei 2026 15:57
Sejarah

Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina

17 Mei 2026 13:42
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?