“Da’i pembawa da’wah, tjara berpikirnja lain, dia bertitik-tolak dari pemikiran bahwa: ‘Sedjahat-djahatnja manusia, ada baiknja’. Benih kebaikan itu seringkali tersimpan, tertutup oleh lapisan kedjahatan.” (Buya Natsir, 1969)
Hidayatullah.com | SETELAH dikeluarkan dari jeruji besi pada masa rezim Nasakom, Buya Natsir terus berkontribusi untuk umat dengan mendirikan DDII (Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia) pada tahun 1967. Kalau sebelumnya berdakwah lewat politik, maka selanjutnya berpolitik lewat dakwah.
Sebagaimana jamak diketahui, antara Masyumi dan PKI terdapat perbedaan yang sangat tajam. Bahkan, dalam literatur sejarah, di antara pendukung kuat Soekarno saat memenjarakan Natsir adalah kalangan komunis. Ketika Buya Natsir menghirup udara kebebasan, konflik tajam di bidang ideologi ini tidak sampai membuat beliau dibakar api dendam. Spirit dakwah, kemanusiaan dan optimisme beliau yang justru menjadi sikap penuh teladan.
Terkait hal ini, dalam buku “Mohammad Natsir Pemandu Umat” (1989: 110) sebagaimana wawacara yang dimuat dalam majalah Editor; ketika beliau ditanya apakah dendam kepada Soekarno yang telah menahannya, beliau menjawab, “Tidak ada dendam-dendaman. Dan saya tidak benci kepada Soekarno.” Luar biasa! Sama sekali tidak ada dendam kepada musuhnya sekali pun.
Demikian halnya dengan orang-orang komunis. Ada cuplikan peristiwa menarik yang langsung diceritakan beliau dalam brosur DDII yang diterbitkan secara stensilan dan di majalah Panji Masyarakat tahun 1969 berjudul “Tebarkan Benih Itu dalam Keadaan Bagaimanapun Djua”. Sebagi gambaran kaliber beliau yang merupakan dai yang optimistis dan tak pernah menyimpan dendam walau pada orang yang bertentangan secara ideologi.
Suatu hari pada tahun 1969, Natsir berkata, “Saya kira delapan bulan yang lalu, saya berbicara dengan seorang teman baik, yang suka beramal baik.” Buya Natsir menyampaikan kepada teman yang dermawan ini agar disiapkan 1.000 kain sarung untuk tahanan politik PKI di Indonesia.
Rupanya, rasa penasaran membuat teman baik ini bertanya, “Kok komunis itu diberi kain?” Dengan penuh keheranan. Sebenarnya pertanyaan ini juga cukup wajar, karena di benaknya komunis antiagama. Memberinya sarung bisa jadi dianggap kesia-siaan. Dengan pandangan seorang da’i yang optimis, Buya Natsir justru memberi informasi, “Mereka itu sudah shalat.”
Belum puas dengan jawaban itu, teman dermawan itu memberi tanggapan, “Shalatnya itu kan pura-pura Pak. Jangan-jangan kita dikibulin saja, pura-pura dia sembahyang atau pun selama dalam penjara dia sembahyang, dan keluar penjara dia lupa lagi. Sudah biasa begitu.”
Buya Natsir bisa memahami keresahannya. Belia pun memberi tanggapan yang cukup menghentakkan jiwa, “Kalau saudara keberatan tidak apa, memang itu saya dapat memahamkan. Seorang ahli politik, melihat semua teman separtainya itu sebagai ‘orang baik-baik’. Orang yang di luar partainya, orang yang ‘tidak baik’. Jadi orang yang sudah menjadi lawan itu, tetap menjadi lawan tidak usah diapa-apakan lagi.”
Cara pandang sempit hitam-putih seperti ini seringkali mewarnai sikap orang pada umumnya dalam menyikapi perbedaan. Buya Natsir justru memberikan pencerahan dengan sudut pandang seorang dai. Tandasnya, “Tapi kalau seorang Da’i pembawa dakwah, cara berpikirnya lain. Dia bertitik tolak pada pemikiran bahwa: sejahat-jahatnya manusia, ada baiknya. Benih kebaikan itu seringkali tersimpan, tertutup oleh lapisan kejahatan.”
Cerita serupa juga terdapat dalam buku “Belajar dari Partai Masyumi” (2014: 152-153) yang diungkap oleh Ahmad Syata, mantan Anggota GP Ansor Jawa Timur, yang pernah menjadi supir sekaligus orang dekat Natsir. Pengusaha yang diminta untuk mengirimkan sarung Bernama Hasjim Ning; dan yang dikirim selain sarung ada juga baju koko dan peralatan ibadah lainnya.
Begitu terkesannya Ahmad Syata dengan peristiwa ini, sampai begkomentar, “Saya begitu terharu, jelas sekali taka da kebencian dari Pak Natsir terhadap orang-orang itu (PKI). Meskipun dulu mereka begitu membenci Masjumi.”
Bagi Natsir bukan tugas dai mengutuk dan menutup potensi kebaikan. Justru ia mencoba menumbuhkan benih kebaikan yang sedang ditutup kejahatan yang berlapis itu. Harapannya, benih-benih kecil itu bisa bertumbuh mekar, kuat bisa menaklukkan yang jahat yang ada di sekelilingnya.
Melalui kisah seribu kain sarung ini, Buya Natsir mengajarkan sebuah kebesaran jiwa yang melampaui batas-batas politik dan luka masa lalu. Penjara yang pernah menampung fisiknya tidak sedikit pun berhasil memenjarakan empati dan kasih sayangnya. Beliau membuktikan bahwa menjadi seorang Muslim sejati berarti mampu melihat secercah cahaya kebaikan pada diri siapa pun, bahkan pada mereka yang dahulu bersorak saat dirinya dizalimi.
Bagi Buya Natsir, dakwah bukanlah ajang penghakiman untuk memilah siapa yang suci dan siapa yang bernoda, melainkan proses merawat kemanusiaan. Sikap beliau memberikan tamparan keras bagi cara berpikir kita hari ini yang sering kali terjebak dalam fanatisme sempit; mudah mengutuk, gampang membenci, serta enggan merangkul mereka yang berbeda. Beliau menunjukkan bahwa dendam hanya akan memperpanjang kegelapan, sementara kebaikan yang ditaburkan tanpa prasangka adalah satu-satunya cara untuk menyinari hati yang membatu.
Pelajaran berharga ini menegaskan bahwa tugas seorang hamba hanyalah menebarkan benih-benih kebaikan, terlepas dari apakah benih itu akan tumbuh menjadi pohon yang rindang atau justru gugur sebelum berkembang. Menghakimi keikhlasan dan niat seseorang —apakah pura-pura atau sungguhan—bukanlah ranah manusia. Biarlah hasil menjadi takdir Ilahi, karena kewajiban kita yang utama adalah memastikan bahwa tangan ini tetap terulur untuk memberi dan merangkul.
Kisah Buya Natsir dan seribu kain sarung untuk tapol PKI ini akan selalu menjadi monumen teladan yang abadi bagi sejarah bangsa. Sebuah pengingat yang sangat elegan bahwa di atas sengitnya panggung politik dan perbedaan ideologi, terdapat satu nilai luhur yang tidak boleh padam dalam jiwa seorang Muslim: ketulusan untuk memanusiakan sesama manusia. (MBS)




