“Indonesia, djanganlah gentar
Masoeklah ke dalam gerbang moelia
Dialah gerbang moela pertama
Allah takdirkan memboekanja.”
(Terjemah Penggalan Syair Hasan Ahmad Baktsir yang dimuat Mingguan Merdeka 1946)
Hidayatullah.com | KEMERDEKAAN Republik Indonesia yang dicanangkan pada 17 Agustus 1945 bukanlah riak lokal yang sunyi di pedalaman Nusantara, melainkan gemuruh pembebasan yang getarannya melintasi samudra luas hingga menyentuh jazirah Arab. Pada momentum peringatan proklamasi ini, ingatan kolektif bangsa patut kembali menengok babak-babak awal perjuangan diplomasi internasional ketika eksistensi kedaulatan negeri kepulauan ini diuji habis-habisan oleh agresi dan tipu daya kolonial.
Kemerdekaan yang diraih dengan tumpahan darah dan air mata menuntut pengakuan de facto dan de jure dari bangsa-bangsa sahabat di panggung dunia. Di tengah keterbatasan sarana komunikasi serta kepungan blokade militer Sekutu dan Belanda, api revolusi Indonesia menemukan corong gaungnya di Mesir melalui ketajaman pena, persaudaraan kultural, dan solidaritas sastra yang tak kenal batas teritorial.
Dari jantung kota Kairo, muncullah suara lantang seorang sastrawan garda depan dunia Arab yang berdarah Nusantara, yakni Ali Ahmad Baktsir; yang dalam khazanah pers pejuang revolusi di tanah air kerap disapa Hasan Ahmad Baktsir. Lahir di Surabaya pada tahun 1910 sebelum kemudian menempuh pengembaraan intelektual ke Hadramaut dan menetap di Mesir, Baktsir merupakan raksasa kesusastraan Arab modern yang namanya berdiri sejajar dengan tokoh-tokoh besar seperti Taha Hussein dan Naguib Mahfouz.
Kendati telah menjadi figur terpandang di pusat peradaban Timur Tengah, ia tidak pernah memutus urat nadi kecintaan terhadap tanah tumpah darahnya. Ketika kabar Proklamasi Kemerdekaan berkumandang, pena emas Baktsir segera meneteskan tinta revolusioner yang menjelma menjadi manifesto pembelaan paling sublim bagi hak bangsa Indonesia untuk tegak berdiri merdeka.
Dukungan Kemerdekaan Melalui Sastra
Puncak dukungan emosional dan intelektual itu terdokumentasikan secara apik dalam lembaran surat kabar terkemuka Mesir, Al-Ahram (tertulis Al-Ichram), yang kemudian disadur ke dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan ulang oleh majalah Minggoean Merdeka edisi 22 Juni 1946. Melalui gubahan bertajuk “Berbahagialah Engkau, O Indonesia”, Baktsir mengumandangkan elegi kemenangan moral sekaligus seruan keteguhan iman bagi tujuh puluh juta rakyat Indonesia yang baru saja menghirup udara kebebasan.

Dengan bait-bait yang sarat kekuatan retorika Arab klasik, ia menegaskan: “Indonesia, djanganlah gentar! Masoeklah kedalam gerbang moelia / Dialah gerbang moelia pertama, Allah takdirkan memboekanja.” Bagi Baktsir, kemerdekaan Indonesia bukan semata peristiwa politik biasa, melainkan takdir ilahi dan martabat suci umat manusia yang haram diinjak-injak kembali oleh nafsu ekspansi kekuasaan Barat.
Kecintaan mendalam terhadap tanah kelahirannya kian membuncah dalam syair monumentalnya yang lain, “Soerabaja jang Gagah Berani”. Terinspirasi oleh pertempuran heroik 10 November 1945, Baktsir mengangkat heroisme arek-arek Surabaya ke pentas kesadaran dunia Arab dengan menyematkan gelar megah: “O, Damascus Timoer Djaoeh! dan Sarang Singa!” serta menjulukinya sebagai “Stalingrad Indonesia”.
Melalui metafora yang membakar semangat perlawanan, ia melukiskan bagaimana tetesan darah para syuhada dan pejuang perintis di jalanan kota pelabuhan itu telah mewangikan taman kemerdekaan baru bagi bangsa-bangsa Timur. Surabaya dalam pandangan puitiknya bukan sekadar medan tempur berdarah, melainkan simbol perlawanan antikolonialisme semesta yang mengajarkan dunia bahwa benteng keimanan dan tekad baja rakyat jelata mampu menumbangkan armada mesin perang modern penjajah.
Dukungan kultural Ali Baktsir bukan sekadar romantisme kata-kata di atas kertas, melainkan instrumen diplomasi publik paling ampuh yang melunakkan jalan bagi misi diplomatik delegasi Republik Indonesia pimpinan Haji Agus Salim. Di kedai-kedai kopi, universitas, hingga majelis sastra Kairo, syair-syair Baktsir dibacakan, diterjemahkan, dan dibagikan dalam pamflet dwi-bahasa Arab dan Inggris yang menyertakan potret Presiden Sukarno.
Karya Sastra yang Menggugah Simpati Luar Negeri
Karya-karya tersebut berhasil menggugah simpati luas dari kalangan ulama Al-Azhar, Liga Arab, cendekiawan, hingga masyarakat awam Mesir. Tekanan opini publik yang dibangun lewat karya sastra revolusioner ini turut mendorong Mesir menjadi negara berdaulat pertama di dunia yang secara resmi mengakui kemerdekaan de facto Republik Indonesia pada tahun 1946, disusul penandatanganan perjanjian persahabatan resmi pada 1947.

Jalinan batin antara Surabaya dan Kairo dalam sosok Ali Baktsir membuktikan bahwa diplomasi kedaulatan bangsa pada hakikatnya tidak hanya dimenangkan di bilik-bilik perundingan formal atau di medan tempur bersenjata. Sastra, puisi, dan ketajaman ideologi terbukti menjadi benteng pertahanan yang mampu menembus blokade informasi serta menyatukan nurani antarbangsa yang terpisah benua.
Baktsir telah menunjukkan teladan nyata ihwal bagaimana seorang intelektual diaspora mempergunakan modal budayanya demi kemaslahatan tanah air. Di saat bangsa penjajah berusaha mengaburkan fakta revolusi dengan mencap para pejuang kemerdekaan sebagai gerombolan ekstremis, syair-syair Baktsir justru mengukuhkan perjuangan rakyat Indonesia sebagai perjuangan moral yang luhur dan mulia di hadapan mahkamah kemanusiaan universal.
Menatap kembali rekam jejak perjuangan tersebut pada peringatan hari kemerdekaan hari ini memberi pesan moral yang teramat kontekstual bagi generasi penerus bangsa. Di era disrupsi global yang sarat dinamika geopolitik, pesan persaudaraan, integritas, dan martabat luhur yang dirajut Baktsir menegaskan pentingnya memperluas ruang kontribusi bagi tanah air di gelanggang internasional.
Semangat patriotisme tidak boleh terpenjara oleh sekat geografis maupun latar belakang etnisitas; siapa pun yang berjiwa merah putih memiliki tanggung jawab historis untuk mengharumkan nama bangsa di kancah dunia. Dedikasi Baktsir mengajarkan kita bahwa pengabdian tulus pada ibu pertiwi adalah pengabdian yang melampaui kepentingan diri sendiri, yang terus memancarkan faedah bahkan setelah raganya beristirahat di tanah rantau.
Kini, seraya mengibarkan sang Saka Merah Putih di seluruh penjuru negeri, marilah kita menyalakan kembali api heroisme yang diabadikan oleh bait-bait puitik Ali Baktsir delapan dekade silam. Peringatan proklamasi bukan semata seremoni tahunan, melainkan ajang mawas diri untuk menakar sejauh mana kita telah menjaga amanat kemerdekaan yang telah ditebus dengan darah, doa, dan goresan pena para pendahulu.
Seperti pohon kebebasan yang disiram darah suci para martir dalam gubahan sang pujangga Kairo asal Surabaya itu, Indonesia harus terus tumbuh mekar semerbak, menebarkan harum keadilan, kesejahteraan, dan kemandirian bagi segenap tumpah darahnya. Berbahagialah engkau, wahai Indonesia tercinta, berdirilah tegak menyongsong masa depan dengan kebesaran jiwa dan kedaulatan abadi. (MBS)




