Oleh: Dr. Adian Husaini
Hidayatullah.com | Buku ini berjudul “Being Radical for Jesus”. Terbit tahun 2016. Judul kecilnya: “Membangun Dasar Kehidupan Kristen Yang Radikal bagi Tuhan”. Mudah mencarinya di internet. Isinya cukup menarik. Di tengah program deradikalisasi di Tanah Air, penerbit Andi Yogyakarta, menerbitkan buku ini. Mungkin, dari segi pemasaran, pemilihan judul ini dianggap cukup menjual.
Pun begitu, isinya perlu juga kita telaah. “Buku ini menjawab tentang Amanat Agung Tuhan Yesus untuk “pergi menjadikan semua bangsa murid Kristus” (Mat. 28:19). Tanpa iman yang radikal, gereja masa kini tidak akan mungkin melakukannya,” begitu kata penulis dalam kata pengantar bukunya.
Kata “radikal” dalam buku ini diartikan secara positif. “Kita perlu mengetahui bahwa pemakaian kata radikal tidak selalu dalam konotasi negatif. Pengertiannya sebagai tindakan yang tegas dalam menuntut sebuah perubahan tidak selalu harus diartikan sebagai tindakan kekerasan yang revolusioner.” (hlm. 15).
Bab ke-5 diberi judul “Menjadi Kristen Radikal”. Dijelaskan bahwa radikalisme yang dimaksud di sini adalah radikalisme positif tanpa kekerasan. “ini merupakan bentuk keyakinan yang kuat kepada Tuhan sehingga mau membayar harga demi mempertahankan imannya walaupun kematian adalah harganya.” (hlm. 169-170).
Buku ini mengajak kaum Kristen untuk beriman secara radikal dan menghindari perlemahan iman Kristen yang menghapus makna radikalisme positif, seperti yang dilakukan kaum Katholik melalui Konsili Vatikan II. Ditegaskan:
“Kesalahan pengalaman umat Katholik pada masa lampau telah membawa sikap berlebihan terhadap pemahaman doktrin kekristenan dan memperlemah iman Kristen sekadar untuk mengantisipasi kesalahan hubungan sosial dan menunjukkan sikap toleransi antar agama secara berlebihan. Dengan kata lain, Konsili Vatikan II hendak mengatakan bahwa agama-agama lain dapat juga membawa manusia mencapai surga. Hal ini tentu saja tidak sesuai dengan ajaran Yesus Kristus yang mengatakan: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku: (Yoh, 14:6). Doktrin Kristen yang benar ini juga ditegaskan oleh kesaksian para Rasul Yesus Kristus yang mengatakan: “Dan Keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia (Yesus), sebab di kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” (Kis. 4:12).” (hlm. 118-119).
Penulis mengajak kaum Kristen untuk memerangi musuh-musuh iman yang menjadi penyebab mengapa gereja-gereja tidak lagi memiliki iman yang radikal seperti gereja mula-mula. Musuh-musuh itu adalah: (a) liberalisme (2) materialisme (3) hedonisme (4) ketakutan.
Liberalisme adalah ideologi yang mengagungkan kebebasan, mencitakan masyarakat yan bebas, dicirikan oleh kebebasan berpikir bagi para individu. Liberalisme menolak pembatasan, khususnya dari pemerintah dan agama.
“Ketika negara tidak melarang aborsi, pernikahan sejenis, kebebasan seks atas nama hak asasi manusia, negara mengulangi kembali kisah Sodom dan gomora yang hangus terbakar oleh hujan api dan belerang dari Tuhan. Jika kita melihat negara-negara liberal di Eropa dan Amerika saat ini, tidak heran jika banyak gereja tutup dan tidak beraktivitas lagi. Amerika yang terkenal sebagai negara Kristen sudah tidak lagi mencerminkan kekristenannya demi kebebasan dan demokrasi yang dijunjung tinggi, bahkan lebih tinggi dari Alkitab.” (hlm. 213-214).
Kelakuan Iblis
Buku ini sangat menekankan pentingnya menjadi seorang Kristen radikal, dalam arti menjadi misionaris. Kata Robert Colemen: “Penginjilan bukanlah suatu tambahan pilihan hidup, tetapi penginjilan merupakan denyut nadi dari pada hidup dan panggilan setiap jemaat.” (hlm. 306).
“Gereja memiliki satu mandat untuk memberitakan Injil ke seluruh dunia dan memperluas Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya. Allah telah memberikan otoritas kepada gereja-Nya dan para pemimpin untuk merebut kembali dari tangan Iblis, lingkungan-lingkungan sekitar kita, kota-kota, bangsa-bangsa juga benua-benua bagi Kristus … Sebuah Gereja Amanat Agung menyadari bahwa penginjilan dunia bukan sekadar satu di antara banyak program gereja. Lebih dari itu, penginjilan dunia adalah “sentral” keberadaan (eksistensi) gereja.” (hlm. 306-307).
Disebutkan juga bahwa: “Iblis selalu berusaha memakai penguasa pemerintahan dunia untuk mencegah pemberitaan Injil. Para pemimpin dunia, pemimpin negara, pejabat-pejabat, lembaga-lembaga negara, pimpinan daerah dan tokoh-tokoh masyarakat merupakan agen-agen yang selalu dipakai untuk mencegah penginjilan bahkan jika mungkin meniadakan kekristenan di dunia ini. Peraturan-peraturan anti Kristen dikeluarkan dan pembatasan terhadap kegiatan Kristen diberlakukan di berbagai tempat di negara-negara minoritas Kristen. Iblis tidak pernah berani bersaing fair play dengan membiarkan umat Kristen menyiarkan agamanya seperti agama-agama yang lain. Negara yang seharusnya bertindak adil pun dipakai untuk melarang kegiatan misi atau syiar kekristenan. Iblis mengetahui jika ada keadilan dalam penyebaran agama atau “keyakinan”, kuasa Yesus pasti lebih unggul dari kuasa agama manapun dan kekristenan akan berkembang dengan sangat cepat. Karena itu, Iblis selalu memakai penghambatan, kekerasan, penindasan dan penganiayaan bahkan pembunuhan untuk menghancurkan kekristenan.” (hlm. 310-311).
Siap mati
Menjadi Kristen radikal itu artinya siap mati dalam menjalankan misi agamanya. “Kehidupan kekristenan harus dibuktikan dengan mau mengorbankan apa saja demi mengasihi Tuhan, bahkan nyawanya sendiri. Jika seseorang mati demi nama Tuhan, apa yang dilakukannya itu akan membuahkan banyak jiwa-jiwa yang diselamatkan.” (hlm. 387).
“Yesus mengatakan bahwa hanya melalui kematian datanglah kehidupan. Karena kematian para syahid, gereja bertumbuh dan berkembang pesat. Karena selalu ada orang-orang yang bersedia untuk mati, perkara-perkara besar terjadi… Prinsip radikalisme pada dasarnya sama dengan prinsip kehidupan melalui kematian.” (hlm. 388).
“Kasih telah membawa banyak orang Kristen menjadi sangat radikal. Karena kasih dan untuk kasih, orang Kristen menjadi radikal dan mengorbankan apa saja, bahkan sampai kematiannya. Hal ini memang harus dikerjakan gereja Tuhan pada masa kini. Gereja harus kembali bangkit dan berjalan di dalam kasih untuk menyelamatkan dunia ini. Setiap orang Kristen harus “tidak mengasihi nyawanya” dan “mengasihi” jiwa-jiwa yang terhilang. Kasih yang radikal akan menyelamatkan mereka dari hukuman kekal dan menghancurkan setiap ketidakpercayaan terhadap Tuhan Yesus Kristus. Kasih yang radikal adalah kasih yang bertindak secara aktif dengan cara positif dan berani menghadapi resiko kehilangan nyawa sekalipun untuk menyelamatkan jiwa-jiwa.” (hlm. 389-390).
***
Bagaimana seharusnya kaum muslim menghadapi gerakan kaum radikal Kristen semacam ini? Simaklah sindiran kaum radikal Kristen ini: “Iblis tidak pernah berani bersaing fair play dengan membiarkan umat Kristen menyiarkan agamanya seperti agama-agama yang lain.”
Kaum muslim tentu memahami bahwa kaum Kristen juga merasa mendapatkan kewajiban untuk menyebarkan agama mereka. Begitu juga umat Islam. Rasulullah saw diperintahkan mengajak kaum Yahudi dan Nasrani untuk berpegang pada kalimah Tauhid, tidak menyembah selain Allah dan tidak menyekutukan Allah SWT dengan apa pun juga. (QS 3:64).
Kaum Muslim juga paham, bahwa mereka tidak pernah ridha sampai umat Islam mengikuti agama mereka (QS 2:120). Karena itu, mereka juga tidak akan berhenti untuk berusaha memurtadkan orang Muslim. (QS 2:217).
Masalahnya, berbeda dengan agama-agama lain, al-Quran menjelaskan secara mendasar kekeliruan ajaran agama Kristen. Bagi muslim, Nabi Isa a.s. tidak disalib dan tidak mati di tiang salib (QS 4:157). Nabi Isa juga bukan Tuhan atau anak Tuhan. Nabi Isa adalah utusan Allah SWT (QS 61:6). Bahkan, Allah murka terhadap orang-orang yang menuduh Allah mempunyai anak (QS 19:88-91).
“Dan untuk memperingatkan kepada orang-orang yang berkata: “Allah mengambil seorang anak. Mereka sekali-kali tidak punya ilmu tentang hal itu, begitu juga nenek moyang mereka. Alangkah buruknya perkataan yang keluar dari mulut mereka. Mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali kedustaan.” (QS 18:4-5).
Menelaah isi buku “Being Radical for Jesus” ini, kaum Muslim Indonesia perlu melakukan introspeksi diri. Begitu hebatnya semangat kaum Kristen dalam menanamkan jiwa dan sikap radikal dalam beragama, sampai rela mengorbankan apa saja, termasuk nyawa sekalipun.
Bagaimana dengan umat Islam Indonesia? Kita serahkan kepada para pemimpin kita untuk menyikapinya! Semoga Allah SWT senantiasa melindungi umat dan bangsa Indonesia dari kerusakan dan kehancuran. (12/9/2019).*
Direktur Attaqwa College — Pesantren at-Taqwa Depok