Oleh: Dr. Adian Husaini
Hidayatullah.com | BELUM lama, saya berjumpa dengan sejumlah tokoh yang sedang merintis berdirinya sebuah partai Islam. Kepada mereka saya menyampaikan, bahwa berjuang di lapangan politik merupakan ibadah yang mulia. Tapi, setidaknya ada dua syarat, agar politik Islam meraih sukses: (1) ikhlas, (2) cerdas.
“Jika berpolitik dengan niat dan tujuan untuk meraih kekuasaan duniawi semata, maka sebaiknya, tidak perlu dilanjutkan,” begitu pendapat saya. Berpolitik di era ini juga memerlukan kepiawaian operasional yang sangat berat. Tanpa niat ikhlas dan kecerdasan berpolitik, maka pertolongan Allah tidak akan datang.
Pragmatisme, sekulerisme, dan materialisme dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk bidang politik, kini kian kencang digaungkan, oleh berbagai kalangan. Ada yang melarang untuk membawa-bawa agama dalam berbagai bidang kehidupan.
Politik, misalnya, kini sekedar dimaknai sebagai seni untuk meraih kuasa, dengan segala cara, terlepas dari pertimbangan agama. Seolah-olah membawa pertimbangan agama dalam berpolitik adalah tindakan tercela. Itulah politik sekuler, yang menafikan tuntunan Tuhan dan akhlak mulia.
Sementara itu, umat Islam diajarkan sejak usia dini, bahwa Islam mengatur seluruh masalah kehidupan. Umat Islam sadar benar akan kewajiban mencontoh Nabi Muhammad ﷺ dalam segala aspek kehidupan; mulai urusan masuk kamar mandi dan cara pakai baju, sampai masalah ekonomi dan politik kenegaraan. Urusan politik merupakan bagian dari ajaran Islam yang sangat penting, karena menyangkut pengelolaan kekuasaan untuk kemaslahatan rakyat – dunia dan akhirat.
Meskipun bertujuan untuk meraih kekuasaan, aktivitas politik adalah ibadah kepada Allah SWT. Kebenaran adalah di atas segala-galanya; termasuk di atas kekuasaan. Jika demi kebenaran harus kalah dalam politik, maka kata seorang ulama bijak: “Biar kalah, asal tidak salah!”
Pemimpin dalam pandangan Islam adalah pribadi yang bisa menjadi contoh, teladan, dan pelindung bagi rakyatnya. Tugas dan kewajiban pemimpin negara dalam Islam telah begitu banyak dibahas oleh para ulama Islam dalam kitab-kitab “siyasah syar’iyyah”. Pada intinya, negara dan agama, adalah laksana dua sisi mata uang yang harus berjalan seiring, saling menguatkan. Ulama dan umara haruslah sama-sama baik, sebagai dua pilar penting bagi tegaknya sebuah negara.
Karena itu, umat Islam berpolitik sebagai perintah agama Islam, bukan karena menuruti syahwat kekuasaan. Berpolitik adalah bagian dari bentuk amal ibadah, sehingga umat Islam tidak pernah terpikir untuk memisahkan aspek politik dan agama. Meskipun tentu saja, umat Islam dilarang menggunakan agama untuk kepentingan politik yang bathil. Politik yang bernilai ibadah adalah yang politik yang dilandasi dengan niat ikhlas untuk ibadah dan dilakukan dengan cara-cara yang benar pula.
Terkait dengan itu, umat Islam berkewajiban untuk menyiapkan dan memilih pemimpin-pemimpin yang memiliki visi-misi pembangunan Islami dan berkepribadian mulia. Selain cerdas, sholeh, amanah, dan professional, para pemimpin yang ideal adalah yang mampu mewujudkan keadilan ekonomi, kemakmuran, dan kebahagiaan pada masyarakat. Mereka harus paham dan berani melakukan terobosan mewujudkan konsep kepemimpinan Islam yang telah dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ dan para khulafaur-rasyidun, serta para pemimpin Islam yang hebat lainnya, seperti Umar bin Abdul Aziz, Shalahuddin al-Ayyubi, Muhammad al-Fatih dan sebagainya.
Para pemimpin yang mulia itu harus menerapkan pola hidup “zuhud”, jauh dari gebyar hidup mewah dan boros; senantiasa berbuat berdasarkan ilmu; merujuk kepada keputusan para ulama dan ilmuwan yang shaleh dalam memecahkan berbagai persoalan masyarakat.
Mereka pun harus punya tekad yang kuat untuk melanjutkan perjuangan para ulama; menjadikan Indonesia sebagai negeri baldatun thayyibatun wa-rabbun ghafur; menjadi negeri muslim terbaik dalam berbagai bidang kehidupan, sehingga Indonesia menjadi contoh negara di dunia yang layak diteladani.
Inilah misi utama perjuangan umat Islam Indonesia di bidang politik. Ini adalah misi dan amanah yang sangat mulia, sehingga harus dilaksanakan oleh manusia-manusia yang mulia pula, yang memiliki iman yang kokoh dan akhlak yang mulia. Tidak ada manusia yang sempurna, memang. Karena itu, semuanya harus diperjuangkan secara bertahap, berproses, menuju kesempurnaan.
Para pemimpin ideal tidak muncul tiba-tiba. Tapi, mereka harus disiapkan dengan matang, konseptual, dan istiqamah. Mereka harus dididik dan dilatih dengan benar dan sungguh-sungguh.
Dan inilah salah satu tugas penting dari Partai Politik yang baik, dalam pandangan Islam. Partai politik yang ideal harus dipimpin oleh insan-insan beriman dan berakhlak mulia, yang mampu mengemban amanah risalah Nabi Muhammad ﷺ dan melanjutkan perjuangan para ulama. KEWAJIBAN ini harus dilaksanakan oleh sebagian umat Islam Indonesia yang dikarunai oleh kelebihan dalam pemikiran dan pengalaman kehidupan.
Tapi, umat Islam adalah laksana satu tubuh. Bidang perjuangan politik tidaklah berjalan dengan sendiri. Harus bekerjasama dengan bidang-bidang lainnya. Semoga saudara-saudara kita yang bergiat dalam bidang politik mendapat bimbingan dan lindungan Allah SWT. Amin. (Banda Aceh, 22 November 2020).*
Ketua Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII)