Oleh: Dr. Adian Husaini
Hidayatullah.com | KURIKULUM Prototipe untuk pendidikan Tingkat SMA yang baru ditetapkan Mendikbudristek, tentu dimaksudkan untuk kebaikan para murid SMA. Pun, kurikulum itu juga tidak dipaksakan, tetapi sifatnya opsional.
“Kurikulum prototipe hanya akan diterapkan di satuan pendidikan yang berminat untuk menggunakannya sebagai alat untuk melakukan transformasi pembelajaran. Begitu kata Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) Anindito Aditomo.
Kurikulum prototipe memang sempat memicu banyak diskusi di berbagai media. Pasalnya, ada perubahan yang cukup signifikan dalam kurikulum pendidikan tingkat SMA. Di kelas XI dan XII, tidak ada lagi Jurusan IPA, IPS, dan Bahasa. Tetapi, ditekankan kepada peminatan.
Menurut Nino, kurikulum prototipe dirancang untuk memberi ruang lebih banyak bagi pengembangan karakter dan kompetensi siswa. Di jenjang SMA, sambungnya, hal ini berarti memberi kesempatan pada siswa untuk menekuni minatnya secara lebih fleksibel. Siswa kelas XI dan XII, boleh meramu sendiri kombinasi mata pelajaran yang sesuai dengan minatnya.
“Misalnya, siswa yang ingin menjadi insinyur akan boleh mengambil Matematika lanjutan dan Fisika lanjutan, tanpa mengambil Biologi. Ia boleh mengkombinasikan itu dengan mata pelajaran IPS, Bahasa, dan kecakapan hidup yang sejalan dengan minat dan rencana kariernya,” ujarnya.
***
Begitulah gambaran singkat perubahan kurikulum SMA, khususnya pada kelas XI dan XII. Tentu, kita percaya, bahwa pemerintah bermaksud baik dengan melakukan perubahan kurikulum tersebut. Era disrupsi memang memaksa perubahan yang seringkali tak terduga dan tak beraturan. Bahkan, mungkin mengejutkan.
Sebenarnya sudah cukup banyak gagasan dan uji coba berbagai model pendidikan tingkat SMA ini. Di awal-awal Nadiem Makarim menjabat sebagai Mendikbud, beredar sebuah video di youtube, tertanggal 28 November 2019, tentang ceramah Nadiem Makarim, yang menyampaikan keharusan adanya empat mata pelajaran di SMA, yaitu: (1) bahasa Inggris (2) coding atau programming (3) statistik (4) psikologi. Video ini tampaknya merupakan ceramah Nadiem sebelum menjadi Mendikbud RI.
Saat itu, ada juga usulan dari Ikatan Guru Indonesia (IGI) yang meminta Mendikbud memangkas jumlah mata pelajaran di sekolah. Untuk SMA, misalnya, IGI mengusulkan hanya enam mata pelajaran yang diajarkan. Ada juga yang menyatakan bahwa kurikulum sekarang memang sudah waktunya diganti, karena lebih berbasis pada konten pelajaran teori, ketimbang aplikasi atau terapan. Usulan lain datang dari Kak Seto. Bahwa sekolah sebaiknya tiga hari saja dalam sepekan. Tapi, kata Kak Seto, itu pilihan, bukan pemaksaan.
Menelaah berbagai gagasan dan usulan tentang pendidikan tingkat SMA, sebenarnya perlu pertanyaan yang lebih mendasar lagi: “Masih perlukah jenjang pendidikan tingkat SMA?” Jika tujuan pendidikan tingkat SMA adalah sebagai persiapan untuk masuk ke Perguruan Tinggi, maka diintegrasikan saja pendidikan tingkat SMA itu ke jenjang Pendidikan Tinggi.
Sebab, anak-anak SMA itu rata-rata sudah berusia 15-18 tahun. Dalam pandangan Islam, itu sudah usia dewasa. Maknanya, pendidikan untuk anak-anak SMA adalah pendidikan orang dewasa (andragogy). Itulah yang sebenarnya disebut “Pendidikan Tinggi”. Bentuknya semacam pendidikan matrikulasi atau pendidikan pra-universitas. Waktunya, bisa setahun, atau bisa juga dua tahun, tergantung keperluan pada program studi yang diambilnya di Perguruan Tinggi.
Ketika memasuki usia 15 tahun, maka seorang anak sudah harus dinyatakan sebagai orang dewasa. Mereka sudah akil baligh dan sudah mukallaf. Mereka sudah bertanggung jawab atas iman dan amalnya sendiri. Karena itulah, tujuan terpenting dari pendidikan tingkat SD dan SMP adalah untuk menyiapkan para murid menjadi orang dewasa (akil baligh).
Dalam buku “Pendidikan Orang Dewasa”, karya Dr. Ir. Suprijanto, disebutkan, bahwa pendidikan orang dewasa berlangsung dalam bentuk pengarahan diri sendiri untuk memecahkan masalah. Ciri-ciri pesikologis orang dewasa adalah: dapat mengarahkan diri sendiri, tidak selalu tergantung pada orang lain, mau bertanggung jawab, mandiri, berani mengambil resiko dan mampu mengambil keputusan.
Untuk lebih mudahnya dan agar selamat dunia akhirat, kembali saja ke rumusan pendidikan Islam, yaitu TOP: (a) Tanamkan adab atau akhlak mulia sebelum ilmu yang tinggi (b) Oetamakan ilmu yang fardhu ain (c) Pilih ilmu fardhu kifayah yang tepat.
Sebagai model pendidikan tingkat SMA yang ideal, pada Desember 2016, Pesantren at-Taqwa Depok sudah mendirikan satu jenjang pendidikan tingkat SMA, yang diberi nama ‘PRISTAC’ (Pesantren for the Study of Islamic Thought and Civilization). PRISTAC ini sebenarnya sudah merupakan jenjang Pendidikan Tinggi.
PRISTAC didirikan dengan konsep yang kokoh, merujuk terutama pada konsep pendidikan Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas tentang ‘ta’dib’. Bahwa, tujuan pendidikan adalah membentuk manusia yang baik (good man). Dan elemen paling fundamental dalam pendidikan adalah penanaman adab (inculcation of adab).
Tujuan pendidikan ini sangat sesuai dengan Tujuan Pendidikan Nasional sebagaimana ditegaskan dalam UUD 1945 pasal 31 ayat (3) dan UU Sisdiknas, yakni membentuk manusia beriman, bertaqwa, dan berkhlak mulia.
Sebagai syarat kelulusan, para santri PRISTAC diwajibkan menulis sejumlah makalah ilmiah. Selama dua tahun, sebelum pendemi Covid-19, mereka harus mempresentasikan makalahnya di hadapan sejumlah dosen dan mahasiswa Indonesia di kampus IIUM Kuala Lumpur.
Para santri PRISTAC – yang rata-rata berusia sekitar 15-16 tahun itu – bukan lagi anak-anak. Mereka sudah akil baligh, sehingga mereka sudah mukallaf dan sudah harus dididik sebagai orang dewasa. Karena itu, sangat ditekankan pemahaman mereka akan Islamic Worldview, agar mampu menjawab tantangan pemikiran kontemporer yang merusak iman dan akhlak mulia.
Dari penguasaan Islamic Worldview yang benar, maka insyaAllah para murid tingkat SMA itu akan memiliki pola pikir yang benar dan beradab. Mereka akan mentauhidkan Allah SWT dan tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun. Mereka pun akan menjadikan Nabi Muhammad ﷺ sebagai teladan abadi dalam kehidupan.
Mereka juga cinta ilmu dan cinta perjuangan. Puncaknya, mereka akan menjadi orang yang bermanfaat kepada sesama. Itulah yang dipesankan oleh Rasulullah ﷺ, bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia.
Jadi, dalam menyusun konsep pendidikan tingkat SMA, sepatutnya menjadikan wahyu Allah sebagai rujuan utama. Konsep itu jangan hanya berdasarkan keilmuan yang empiris dan rasional, yang akan berujung pada ketidakpastian. Akhirnya, para murid SMA itu akan dianggap sebagai “kelinci percobaan”. Wallahu A’lam bish-shawab. /Depok, 22 Desember 2021.*
Penulis Ketua Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII)