BAMBANG Widjojanto, mantan Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), “tertangkap basah”….
Kenapa? Bambang kedapatan oleh awak hidayatullah.com sedang menumpang kereta rangkaian listrik dalam perjalanannya dari Depok, Jawa Barat, menuju Jakarta Selatan, DKI Jakarta.
Pantauan media ini sekitar pukul 10.54 WIB, Selasa pagi, 16 Mei 2017, Bambang tampak menumpang KRL sambil berdiri bersama sebagian penumpang lainnya.
Ia mengenakan kemeja biru muda, bercelana gelap, dan membawa sebuah tas ransel di punggungnya. Sambil berdiri di dekat pintu dengan kedua tangan bergelantungan pada pegangan KRL, ia berbincang tampak serius dengan seorang pria.
Saat didatangi hidayatullah.com yang tidak sengaja satu gerbong dengannya, Bambang tampaknya agak kaget melihat kehadiran wartawan. Suasana gerbong saat itu cukup lengang meskipun kursi-kursi pada terisi penuh.
“Saya rakyat kok,” jawabnya ringan dengan ketegasan khas pria yang pernah ditangkap kepolisian selepas shalat subuh di dekat rumahnya di Depok, Jumat, 23 Januari 2015 lalu, terkait tuduhan keterangan palsu ini.
(Mantan) Komisioner KPK yang cukup vokal dalam kasus dugaan korupsi terhadap calon Kapolri Jenderal Budi Gunawan pada masa-masa ia ditangkap itu ini menilai, KRL adalah moda transportasi rakyat.
“Ini, kan, kendaraan rakyat,” ujarnya dalam perbincangan santai itu.
Saat diminta untuk dipotret khusus, pria yang juga Tim Sukses Anies Baswedan-Sandiaga Uno pada Pilkada DKI Jakarta 2017 lalu ini tampak enggan, bahkan berkali-kali menghindar.
Di dalam gerbong KRL itu, berdasarkan pantauan hidayatullah.com, kehadiran Bambang awalnya memang tidak begitu menyita perhatian. Namun jadi perhatian khusus sebagian penumpang begitu disambangi wartawan.
Bambang mengaku, sejak sebelum menjabat sebagai Pimpinan KPK, ia sudah terbiasa memanfaatkan moda transportasi massal itu.
“Kan, saya rakyat, mempunyai hak untuk menggunakan seluruh fasilitas publik,” ujar pria berkacamata ini.
Tapi ada alasan yang lebih dari itu. “Saya memanfaatkan ini supaya saya bisa merasakan detak-detiknya kehidupan sosial masyarakat,” ungkapnya mantap.
Dengan begitu, imbuhnya, ia bisa menjaga rasa sensitivitasnya terhadap kehidupan rakyat secara langsung.
“Loh, sebelumnya, kan, saya memang ‘roker’, rombongan kereta,” ungkapnya.
Memang, saat masih menjabat sebagai pejabat publik, ia mengaku tetap terbiasa naik KRL. “Tapi tidak boleh sering-sering karena alasan sekuriti,” ungkap advokat kelahiran Jakarta, 18 Oktober 1959 ini.
Omong-omong, pasca pemilihan gubernur DKI, kegiatannya apa saja sekarang, Pak Bambang?
“Banyak, ladang amal terlalu banyak, ladang amal semakin banyak,” jawab pria yang dikenal religius ini diplomatis saat KRL hendak berhenti di Stasiun Duren Kalibata.
Tidak begitu lama perbincangan itu berlangsung. Setelah pamit dengan kawan bicaranya tadi –yang meminta foto wajahnya tidak ditampilkan, Bambang segera turun dari KRL di Stasiun Tebet.