Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Belajar dari Deliar Noer (2)

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 19 Februari 2018 15:08 3:08 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 19 Februari 2018 15:08
Bagikan
Prof Dr Deliar Noer bersama istinya
Bagikan

Oleh: Andi Ryansyah

Lanjutan artikel PERTAMA

Islam dan Negara

Bagi Deliar Noer, Islam bukan hanya soal ibadah seperti shalat lima waktu, zikir, do’a, puasa, zakat, atau naik haji, tapi juga ajaran yang mengatur segala aspek kehidupan, termasuk politik. Pedoman politiknya adalah ajaran Islam. Deliar sering menekankan soal moral yang harus dibawa dalam politik.

“Politik Islam, “kata dia dalam buku Politik Demi Tuhan: Nasionalisme Religius di Indonesia (1999), “menuntut penganutnya untuk mengikutsertakan akhlak, etika, dan moral dalam sikap dan tindakannya.” Kalau tidak, lanjutnya, maka yang lebih menonjol adalah sikap pragmatis. Hanya mengejar kursi dan harta dengan menghalalkan segala cara.

Baca Juga

Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya
KH. Abdul Mu’thi: Tetap Berkarya di Balik Penjara
KH. Abdullah Said dalam Liputan Majalah Panji Masyarakat
Menolak Digaji Negara: Kisah Para Hakim Teladan dalam Sejarah Peradaban Islam
Syair Ahmad Baktsir dan Detak Jantung Diplomasi Kemerdekaan RI di Kairo

Ia mencontohkan etika dan moral yang perlu ditegakkan dalam kehidupan bernegara yakni amanah, jujur, adil, tidak serakah, egaliter atau tidak diskriminatif, menyejahterakan masyarakat, membela kaum lemah, tanggung jawab,  satu kata satu perbuatan, memenuhi janji, dan rahmat bagi semua.

“… moral dan etika yang dibawa Islam …, bukan saja sejalan dengan aspirasi dan cita-cita kita berbangsa dan bernegara, malah memperkuatnya dengan melaksanakannya dengan lebih konsisten,” kata Deliar di buku 80 tahun Deliar Noer (2007). Berbeda dengan kehidupan sekular di Barat. Bukan tidak ada moral dan etika di sana, tapi ukuran baik buruk sebuah tindakan hanya didasarkan pada akal saja. Akibatnya bisa terjadi perbedaan penilaian. Juga bisa bertentangan dengan agama. Contohnya LGBT yang dilegalkan di Barat karena dianggap Hak Asasi Manusia (HAM). Ini jelas bertentangan dengan agama. Kalau moral dan etika macam ini yang dibawa ke dalam politik di Indonesia, maka tidak sejalan dengan dasar negara Pancasila.

Baca: Belajar dari Deliar Noer (1)

Bila sekarang-sekarang ini kita melihat banyak pejabat negara yang korupsi di koran dan televisi, maka itu bukan karena politik kotor, melainkan lantaran terputusnya moral dan nilai agama dari politik. Moral dan nilai agamalah yang menjadikan politik bersih. Menjadi kewajiban bagi politisi sekarang ini untuk menegakkannya dalam berpolitik.

Partai Islam

Deliar adalah orang yang tidak menganggap remeh arti sebuah simbol. Meski substansi ajaran Islam menurutnya lebih penting. Simbol menurutnya sangat berperan terutama dalam memadatkan maksud yang disampaikan. Simbol bisa menggembirakan, menumbuhkan kebanggaan, dan memudahkan pemahaman. Kalau substansi lebih dipahami oleh kaum intelektual, tapi kalau orang awam biasanya lebih mengikuti saja. Dan simbol memudahkannya mengikuti itu (Deliar Noer, Republika 4/9/2000). Substansi Islam yang dipahaminya membuat Deliar menganggap perlunya ada sebuah Partai Islam.

Baca: Syamsuddin Arif: Politik Islam berbeda dengan Islam Politik

Ia berbeda pandangan dengan Nurcholish Madjid atau Cak Nur yang pernah menyuarakan Islam Yes, Partai Islam No. Bagi Deliar, Islam Yes, Partai Islam Yes. Setelah Gestapu terjadi, Deliar ikut membantu Bung Hatta merumuskan Partai Demokrasi Islam Indonesia (PDII). Tapi sayang, maksud mendirikan PDII kandas di tengah jalan karena presiden Soeharto melarangnya. Ketika reformasi bergulir, Deliar mendirikan Partai Ummat Islam (PUI). Partainya ini adalah partai Islam pertama yang dibentuk pada masa itu. Tampaknya Deliar ingin memberi contoh kepada umat bahwa dalam demokrasi, kita tidak perlu minder dan takut-takut menunjukkan identitas keislaman dan menegakkan ajaran Islam dalam politik. Sebab itu dilindungi oleh Undang-Undang.

Orang seperti Deliar sering dianggap sebagai Islam politik. Tapi Deliar sendiri mempersoalkan pembagian Islam politik dan Islam kultural. Menurut dia selain bermasalah secara teori, tapi juga mengingatkan pada kebijakan yang dianjurkan oleh pakar Islam Belanda C. Snouck Hurgronje kepada pemerintah Hindia Belanda agar membiarkan “Islam ibadah” dan melarang “Islam politik” (Deliar Noer et al., 1999, Mengapa Partai Islam Kalah?).

Ada saran dari Deliar yang rasanya sangat penting untuk disimak oleh Ormas Islam dan Partai Islam. Yakni agar kedua tokoh menjalin hubungan yang intim sebagaimana  dulu federasi Majelis Islam A’laa Indonesia (MIAI) yang mencakup Ormas Islam seperti NU dan Muhammadiyah dan juga Partai PSII.

Tokoh-tokoh Ormas Islam jangan hanya membiarkan atau menonton partai Islam berlaga. Tapi juga ikut membantu dengan menyumbangkan pikiran dan amar ma’ruf nahi munkar. Seperti ketika dulu pada masa revolusi, tokoh-tokoh Ormas Islam (termasuk tokoh-tokoh pendidikan baik di pesantren maupun sekolah modern) membantu partai Masyumi dengan ide-ide.

Selain itu, Deliar juga menyarankan agar partai-partai Islam bekerjasama untuk menegakkan keadilan, kerukunan, dan kesejahteraan bersama. “… kalau bisa penyatuan partai-partai ini ke dalam aliansi, dan akhirnya fusi.” (Deliar Noer et.al., Mengapa Partai Islam Kalah? 1999) Semoga harapannya itu bisa diwujudkan oleh partai-partai Islam sekarang.*

Pegiat Jejak Islam untuk Bangsa (JIB)

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Buya HamkaDeliar NoerGeorge Mc.T KahinHattaindonesiaislam politikNasakomNasionalisme-Agama-KomunismeNatsirpolitik islamumat IslamUniversitas Cornell Sebarkan tautan berikut :
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya 200 Masjid di Inggris Lakukan Open House, Layani Dialog Antar Agama
Tulisan selanjutnya Menjaga Manisan Sebelum Menjaga Benteng

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Wakaf Al-Qur’an: Menghadirkan Cahaya Qur’an bagi Santri di Tolitoli

Berita
13 Oktober 2026 16:03
Remaja Norwegia yang Dikontrak Geng Kriminal Terkait Iran untuk Melakukan Pembunuhan di Inggris Dibui 20 Tahun
Qatar Janji Bantu Pemulihan Sektor Energi Libanon
Serangan Drone Paramiliter Sudan Tewaskan 41 Orang Dekat Perbatasan Ethiopia
Kecam Serangan Bandara King Khalid Saudi, Dewan Dakwah: Tidak Dapat Dibenarkan

Terbaru

  • Air Hujan di Singapura Berwarna Abu-abu karena Asap Karhutla
  • Blokade Militer Amerika Mencekik Kemampuan Finansial Iran
  • Remaja Norwegia yang Dikontrak Geng Kriminal Terkait Iran untuk Melakukan Pembunuhan di Inggris Dibui 20 Tahun
  • Qatar Janji Bantu Pemulihan Sektor Energi Libanon
  • Perusahaan Periklanan ‘Israel’ Tanam Spyware di Perangkat Jurnalis Al-Jazeera
  • Arab Saudi Eksekusi Pasangan yang Berbuat Asusila di Salah Satu Masjid Mekkah
  • Santri Hari Ini, Pemimpin Masa Depan: Semangat PFD XIII di Yogyakarta
  • Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya
  • Gerombolan Pemukim ‘Israel’ Bakar Masjid di Desa Mukhmas Tepi Barat
  • IPB Kembangkan Kampung Ramah Keluarga Lewat Kolaborasi Riset dengan Dua Universitas Jepang

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Buya Natsir dan 1.000 Sarung untuk Tapol PKI

22 Juli 2026 20:00
Sejarah

Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah

15 Juni 2026 07:41
Sejarah

H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina

23 Mei 2026 15:57
Sejarah

Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina

17 Mei 2026 13:42
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?