Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Penguasa dan Pasal Karet pada Era Demokrasi Terpimpin

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 17 Juli 2019 09:27 9:27 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 17 Juli 2019 09:27
Bagikan
Bagikan

SEJAK dulu, pasal karet sudah dipakai oleh penguasa. Istilah yang dipakai adalah “undang-undang karet” yang digunakan untuk membungkam rival atau lawan politiknya.

Pada Era Demokrasi Terpimpin, Yunan Nasution dkk (waktu itu bersama Mohamad Roem, Prawoto, Sutan Sjahrir, KH. Isa Anshari, Mochtar Lubis dll) dipenjara oleh rezim dengan kesalahan yang tak begitu jelas dari segi hukum.

Peristiwa ini diceritakan oleh Yunan Nasution dalam buku “Kenang-Kenangan di Belakang Terali Besi di Zaman Rezim Orla” (1967: 37). Pada tanggal 16 Januari 1962, pukul setengah empat menjelang fajar beliau dijemput aparat dan keumudian dijebloskan ke terali besi.

Awalnya beliau ditahan di markas CPM di Jalan Hayam Wuruk (Jakarta), kemudian dipindah ke Rumah Tahanan Militer (RTM) di Cimanggis, lalu LP Madiun (22 Desember 1962), dan dipindah lagi ke Jakarta (Oktober 1965). Beliau baru bebas pada 15 Februari 1966. Begitulah singkatnya, beliau dipenjara selama empat tahun lebih.

Kembali ke soal undang-undang karet. Setelah masa penahanan usai, dan tidak ada bukti kuat, seharusnya Yunan dibebaskan. Namun, untuk menjerat beliau dan kawan-kawan yang waktu itu dianggap oposisi dan kontra Demokrasi Terpimpin, maka dipakailah pasal 32 PPUUKB disertai pasal 43 yang berbunyi, “Penguasa Perang berhak dengan surat keputusan menundjuk bagi orang terhadap siapa terdapat petundjuk2 bahwa ia akan mengganggu keamanan, suatu tempat tertentu sebagai tempat berdiam untuk sementara dan membawanja ke situ.”

Baca Juga

Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya
KH. Abdul Mu’thi: Tetap Berkarya di Balik Penjara
KH. Abdullah Said dalam Liputan Majalah Panji Masyarakat
Menolak Digaji Negara: Kisah Para Hakim Teladan dalam Sejarah Peradaban Islam
Syair Ahmad Baktsir dan Detak Jantung Diplomasi Kemerdekaan RI di Kairo

Di situ sudah tidak lagi memakai kata “ditahan” tetapi ditunjuk tempat tertentu sebagai “tempat berdiam”. Terkait hal ini Yunan mencatat, “Alasan atau motif jang dipakai bahwa ‘terdapat petundjuk2 bahwa seseorang akan mengganggu keamanan umum’ adalah suatu sendjata sematjam undang-undang karet, jang dapat diulur-ulur, dapat diperpandjang atau diperpendek, menurut pertimbangan jang berwenang.” (1967: 37)

Di sini kita bisa melihat betapa penguasa ketika sudah menjadi tiran, akan melakukan sapa saja untuk menundukkan lawan-lawannya. Walaupun sebenarnya dirinya tahu bahwa kasus yang dituduhkan adalah mengada-ngada.

Lalu, apa kemudian para pejuang surut menghadapi pasal karet dan terali besi? Tidak. Di dalam penjara pun mereka masih bisa berdakwah dan bermanfaat bagi sekelilingnya.

Para tahanan politik waktu itu mengisi kekosongan waktunya salah satunya dengan membaca buku dan menulis.

M. Yunan Nasution misalnya, selama ditahan di Madiun telah menyelesaikan lima naskah tulisan. Satu di antaranya sudah terbit dengan judul “Dinamika Hidup” yang diterbitkan oleh Bulan Bintang Jakarta.

Lebih detailnya bisa dibaca pada penjelasan beliau berikut ini, “Adapun kesibukan-kesibukan jang boleh dikatakan sudah mendjadi hobby dan kebiasaan buat kami sedjak dari kehidupan diluar ialah membatja buku2. Sebagian besar waktu dalam tahanan kami pergunakan untuk membatja buku2 jang berfaedah. Tiap2 bulan, ketika keluarga datang bezoek, mereka membawa buku2 pada bibliotik masing2. Antara sesama kami dapat pula diadakan tukar-menukar buku untuk dibatja, berpindah dari satu tangan kelain tangan, sehingga mengenai buku2 batjaan itu boleh dikatakan tidak pernah putus atau kekurangan.”

“Sebagian diantara kami,” lanjut Yunan Nasution, “ada pula jang mempunjai kegemaran atau kebiasaan menulis (mengarang). Ini termasuk djuga salah satu kesibukan jang mendatangkan faedah.”

Waktu bagi mereka sedemikian berharga, sehingga jangan sampai terbuang percuma walaupun dalam penjara.

Dalam sejarah teramat banyak contohnya. Nabi Yusuf, Ibnu Taimiyah bahkan Yunan dan kawan-kawan juga pernah meringkuk di jeruji besi. Hamka sendiri, akhirnya jadi korban pasal karet, dan dijeblokan ke penjara. Namun, sekeluar dari penjara, lahirlah karya monumental berupa “Tafsir Al-Azhar”.

Dari mereka ada banyak pelajaran luar biasa. Pertama, api perjuangan tidak pernah padam. Kedua, sekalipun dipenjara, mereka tetap menjadi orang bermanfaat: membaca, menulis, dan dakwah. Ketiga, kebenaran yang diperjuangkan pasti akan menemui batu uji. Kuncinya, seberapa besar kesabaran yang dimiliki. Dan mereka sudah memberikan keteladan yang sangat baik.* Mahmud Budi Setiawan

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Era Demokrasi TerpimpinOrde Lamapasal karetpenguasapenjaraYunan Nasution
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya [Foto] Gerhana Bulan Sebagian
Tulisan selanjutnya Deteksi Produk Halal, BPJPH & IPB Jalin Kerja Sama

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

IPB Kembangkan Kampung Ramah Keluarga Lewat Kolaborasi Riset dengan Dua Universitas Jepang

Berita
15 Oktober 2026 16:32
Serangan Drone Paramiliter Sudan Tewaskan 41 Orang Dekat Perbatasan Ethiopia
Arab Saudi Eksekusi Pasangan yang Berbuat Asusila di Salah Satu Masjid Mekkah
Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya
Zionis Sebut Belanda Sarang Anti-Semit usai Suporter ‘Israel’ Dilarang Tandang

Terbaru

  • Blokade Militer Amerika Mencekik Kemampuan Finansial Iran
  • Remaja Norwegia yang Dikontrak Geng Kriminal Terkait Iran untuk Melakukan Pembunuhan di Inggris Dibui 20 Tahun
  • Qatar Janji Bantu Pemulihan Sektor Energi Libanon
  • Perusahaan Periklanan ‘Israel’ Tanam Spyware di Perangkat Jurnalis Al-Jazeera
  • Arab Saudi Eksekusi Pasangan yang Berbuat Asusila di Salah Satu Masjid Mekkah
  • Santri Hari Ini, Pemimpin Masa Depan: Semangat PFD XIII di Yogyakarta
  • Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya
  • Gerombolan Pemukim ‘Israel’ Bakar Masjid di Desa Mukhmas Tepi Barat
  • IPB Kembangkan Kampung Ramah Keluarga Lewat Kolaborasi Riset dengan Dua Universitas Jepang
  • Majelis Ulama Indonesia Tetap Tegas Tolak Konser Andrea Bocelli

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Buya Natsir dan 1.000 Sarung untuk Tapol PKI

22 Juli 2026 20:00
Sejarah

Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah

15 Juni 2026 07:41
Sejarah

H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina

23 Mei 2026 15:57
Sejarah

Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina

17 Mei 2026 13:42
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?