Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Artikel

Keadilan Sebuah Pemikiran

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 26 Mei 2023 17:52 5:52 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 26 Mei 2023 18:45
Bagikan
Bagikan

Banyak yang tidak sadar bahwa Barat melihat Islam sebagai world view. Sementara world view Islam bertentangan dengan world view Barat liberal

Oleh: Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi  

Hidayatullah.com | MASIH banyak di antara kita yang tidak dapat memahami Barat secara adil. Padahal seringkali superfisial atau simbolistis.

Barat masih dianggap identik dengan kemajuan teknologi, bahasa Inggris, metodologi, dan sebagainya. Maka tidak aneh jika dengan cara berpikir ini akan menuduh sesesorang yang berbahasa Inggris, atau menggunakan teknologi Barat, sebagai terbaratkan.

Prof Naquib Al Attas sendiri banyak menulis dalam bahasa Inggris dan tidak serta merta epistemologinya terbaratkan.

Baca Juga

Keadilan dan Kemanusiaan di Balik Jeruji Besi
Maulid Nabi dan Kritik Agus Salim: Mengapa Kita Tertinggal dari Barat?
Muhammadiyah dan Maulid Sekaten: Ketika Dakwah Kultural Masuk ke Jantung Keraton
Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Transformasi Ekonomi Pesisir Berbasis Syariah: Dari Diversifikasi Olahan Bandeng hingga Hilirisasi Produk melalui Marketplace

Barat sejatinya adalah peradaban. Dan matrik setiap peradaban adalah world view, cara pandang terhadap segala sesuatu (Peter Berger), agama atau kepercayaan (S Huntington).

Dalam world view ini terdapat konsep-konsep penting yang membentuk sebuah framework berpikir. Setiap peradaban memiliki world view sendiri-sendiri. Fukuyama mengakui world view Islam bertentangan dengan world view Barat liberal.

Banyak yang tidak sadar bahwa Barat melihat Islam sebagai world view. Karena itu ia melakukan simplifikasi terhadap makna Islam dan Welstanschaung (world view).

Bagi saya agar kita bersikap adil terhadap Barat, kita perlu melihat Islam-Barat sebagai world view. Justru dengan menggunakan matrik world view, pemahaman kita terhadap identitas Islam dan Barat menjadi lebih kompleks dan komprehensif.

Di situ kita letakkan konsep-konsep dalam world view Barat dan world view Islam berhadapan-hadapan. Kemudian kita kaji dan analisis konsep-konsep itu secara ilmiah.

Analisis yang cerdas akan menjawab pertanyaan apakah konsep-konsep Barat itu dominan dalam pemikiran Muslim atau konsep-konsep Islam yang dominan dalam pemikiran Barat. Jika yang yang terjadi adalah yang pertama maka asumsi saya adalah benar adanya kita terhegemoni.

Adil pada pembaruan Islam

Kritik saya terhadap gagasan pembaruan Islam tidak terbatas pada soal terminologi. Terminologi seperti sekularisasi, rasionalisasi, dan liberalisasi yang saya sebutkan hanya contoh kasus yang kebetulan popular.

Yang utama adalah kerancuan konseptual di balik itu. Itu hanya menunjukkan rapuhnya bangunan epistemologi kita. Konsep rasionalisasi ala Barat seakan-akan mengungguli konsep tafakkur, tadabbur, tazakkur, ta’allum, tafaqquh, dan sebagainya dalam Islam yang sangat kompleks itu.

Kritik saya merujuk pada tradisi intelektual Islam. Proses negasi (radd, naqd, atau nafyu) dan affirmasi (ithbat) adalah esensi syahadat dalam Islam.

Para ulama kita biasa mengritik, mengomentari, memberi solusi, menyeleksi, atau mengadapsi ide-ide Yunani, India, Persia, Kristen yang ada di lingkungan pemikiran Islam. Ini semua tentu melalui proses epistemologi.

Proses ini yang tidak saya temui dalam gerakan pembaruan Islam. Mungkin karena penguasaan terhadap khazanah ilmu pengetahuan Islam merosot, terhegemoni pengetahuan Barat atau pengetahuan Islam dari Barat (orientalis).

Akhirnya Muslim gagal mengapresiasi konsep-konsep penting Islam dan sukses mengafirmasi konsep-konsep Barat. Maka wajah pembaruan Islam pun tidak lebih dari justifikasi konsep-konsep Barat dengan mengais dalil-dalil Al-Quran dan hadis.

Ekstremnya, pembaruan Islam itu tidak juga akomodatif, tapi lebih cenderung konsumtif. Terlalu banyak mengonsumsi ide-ide luar, terlalu sedikit menggali ide-ide dari dalam khazanah pemikiran Islam.

Memang benar Islam tidak steril dari anasir asing. Tapi perlu dicatat bahwa Islam bangun dengan tradisi intelektualnya sendiri, sebelum ‘meminjam’ konsep-konsep asing.

“Tidak ada peradaban yang bebas dari proses pinjam meminjam dari peradaban asing”, kata Prof Alparslan Acikgence pakar pemikiran Islam asal Turki.

Tapi ingat, lanjutnya, peradaban yang dihegemoni oleh konsep-konsep asing lama kelamaan akan mati.

Jadi masalahnya bukan akomodatif atau tidak terhadap konsep asing. Tapi bagaimana proses epistemologi ketika kita mengadapsi dan mengakomodasi konsep-konsep asing tersebut.

Agar adil di sini kita perlu tahu konsep-konsep Islam dan asing sekaligus. Apakah adil jika kita mendaku sebagai Muslim tapi pikiran kita sekuler, liberal, atau Marxist. Adilkah kita jika mewajibkan jilbab pada civil society Barat. Apakah kita adil jika mengganti tata hukum Barat dengan hukum Islam.

Solusi masalah

Untuk ‘merangkai kembali pesan utama Islam’ Sahidah mengusulkan agar kita menggunakan pembacaan Barat. Maksudnya supaya adil.

Tapi ini justru tidak adil dan rancu secara konseptual. Sebab dengan pembacaan Barat misalnya tidak ada ruang publik untuk Islam, Islam yes partai Islam no, dengan pembacaan Gadamer semua mufassir menjadi bias kepentingan sosial dan ambisi kekuasaan, dan seterusnya.

Memahami Islam sebagai world view berarti menggunakan pembacaan Islam yang merujuk konsep-konsep seminal dalam Al-Quran, dan struktur konsep-konsep keilmuan dalam tradisi intelektual Islam.

Untuk itu Muslim harus mampu membentuk konsep-konsep itu dalam bentuk jaringan atau struktur konsep dalam sebuah supersistem. Supersistem itu dapat disebut ru’yatul Islam li al wujud atau al tasawwur al Islami.

Apabila Islam dipahami sebagai ru’yatul Islam li al-wujud maka secara epistemologis kita memiliki kaca mata untuk melihat dan alat untuk mengadapsi konsep-konsep asing. Bahkan kemudian dapat merekonstruksi konsep-konsep asing manapun dengan pembacaan Islam.

Prof Attas menyebut proses ini dengan Islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer. Suasananya tidak lagi hegemonik, tapi dialogis.

Satu peradaban bisa menolak dan meminjam konsep dari peradaban lain tanpa paksaan dan campur tangan politik. Itulah keadilan suatu pemikiran.*

Peneliti dan pendiri Center of Islamic and Occidental Studies (CIOS)

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:baratHeadlineislamkeadilanpemikiranPilihan Redaksiworld view
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Wagner Group Diduga Selundupkan Senjata dari Mali untuk Perang di Ukraina
Tulisan selanjutnya TNI Berhasil Menangkap Pentolan Teror KKB Yahukimo PH

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

IPB Kembangkan Kampung Ramah Keluarga Lewat Kolaborasi Riset dengan Dua Universitas Jepang

Berita
15 Oktober 2026 16:32
Qatar Janji Bantu Pemulihan Sektor Energi Libanon
Blokade Militer Amerika Mencekik Kemampuan Finansial Iran
Arab Saudi Eksekusi Pasangan yang Berbuat Asusila di Salah Satu Masjid Mekkah
Kecam Serangan Bandara King Khalid Saudi, Dewan Dakwah: Tidak Dapat Dibenarkan

Terbaru

  • Blokade Militer Amerika Mencekik Kemampuan Finansial Iran
  • Remaja Norwegia yang Dikontrak Geng Kriminal Terkait Iran untuk Melakukan Pembunuhan di Inggris Dibui 20 Tahun
  • Qatar Janji Bantu Pemulihan Sektor Energi Libanon
  • Perusahaan Periklanan ‘Israel’ Tanam Spyware di Perangkat Jurnalis Al-Jazeera
  • Arab Saudi Eksekusi Pasangan yang Berbuat Asusila di Salah Satu Masjid Mekkah
  • Santri Hari Ini, Pemimpin Masa Depan: Semangat PFD XIII di Yogyakarta
  • Kebakaran Hutan dalam Sejarah Utsmani: Sebab, Penanggulangan, dan Pelajarannya
  • Gerombolan Pemukim ‘Israel’ Bakar Masjid di Desa Mukhmas Tepi Barat
  • IPB Kembangkan Kampung Ramah Keluarga Lewat Kolaborasi Riset dengan Dua Universitas Jepang
  • Majelis Ulama Indonesia Tetap Tegas Tolak Konser Andrea Bocelli

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi

7 Agustus 2026 17:00
Ghazwul Fikr

SPI: Membenturkan Islam dengan Budaya Nusantara itu Absurd!

6 Agustus 2026 12:51
Opini

Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?

5 Agustus 2026 19:00
Artikel

Membangun Integritas di Tengah Budaya Manipulasi

2 Agustus 2026 19:33
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?