Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan

Timur Tengah mungkin akan menyaksikan dua rangkaian peristiwa berbeda yang bersaing memperebutkan masa depan kawasan

Nashirul Haq
Terakhir diupdate: 14 Agustus 2026 20:11 8:11 pm
Nashirul Haq
Dipublikasikan 14 Agustus 2026 20:11
Bagikan
Bagikan

Oleh: Mansoor Qaisar

Daftar isi
  • Yang diraih Perjanjian Abraham dan jalan buntu
  • Pendekatan berbeda Pakta Mekkah
  • Mesir, dan mengapa sikap hati-hati itu penting
  • Kesepakatan yang sedang disusun
  • Dua langkah berbeda
          • Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Hidayatullah.com – Dinamika diplomasi dunia tahun ini menampilkan ironi yang mencolok.

Pada 25 Mei lalu, Donald Trump secara terbuka mendesak Arab Saudi, Qatar, Pakistan, Turki, Mesir, dan Yordania untuk bergabung dalam Perjanjian Abraham Accords—sebuah upaya untuk menata ulang TimuR Tengah sembari ia berunding dengan Iran.

Pakistan menolak. Arab Saudi enggan melangkah tanpa kemajuan status kenegaraan Palestina. Upaya memperluas Abraham Accord yang diinginkan Washington itu pun tak terwujud.

Namun, kurang dari tiga bulan kemudian, terjadi sesuatu yang sangat berbeda.

Baca Juga

Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai
Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

Pada tanggal 7 Agustus, Pakistan, Arab Saudi, dan Turki—tiga negara yang sebelumnya ingin ditarik Trump ke dalam Perjanjian Abraham—bertemu di Mekkah dan menandatangani pakta pertahanan mereka sendiri. Logika pakta ini hampir bertolak belakang dengan Abraham: serangan terhadap salah satu anggota dianggap sebagai serangan terhadap seluruh anggota.

Harus diakui, tidak ada bukti akurat bahwa kesepakatan ini dirancang sebagai tandingan Perjanjian Abraham. Tak satu pun dari ketiga negara tersebut menyebutnya sebagai langkah anti-Israel, anti-Iran, atau anti-Amerika. Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan menyatakan bahwa landasan kerja sama ini telah disiapkan hampir tiga tahun sebelumnya.

Meski begitu, kontras di antara keduanya sangat jelas. Abraham menawarkan normalisasi, sedangkan Pakta Mekkah menawarkan perlindungan. Perbedaan itulah yang mungkin menjadi alasan mengapa satu model mengalami jalan buntu sementara model lainnya justru tiba-tiba mendapatkan momentum.

Yang diraih Perjanjian Abraham dan jalan buntu

Tidak adil jika menyebut Abraham Accords sebagai sebuah kegagalan. Kesepakatan yang ditandatangani pada tahun 2020 ini berhasil mewujudkan sesuatu yang tidak mampu dicapai oleh diplomasi Timur Tengah selama berpuluh-puluh tahun: menjalin hubungan formal antara negara-negara Arab dan ‘Israel’ tanpa harus menunggu penyelesaian akhir dengan pihak Palestina. Kedutaan besar dibuka. Perdagangan pun menyusul. Itu adalah kenyataan.

Namun, faktor yang memungkinkan terwujudnya Abraham Accords justru menjadi faktor yang membatasi perkembangannya. Diplomasi Arab sejak lama berpijak pada urutan sederhana: selesaikan masalah Palestina, baru kemudian lakukan normalisasi.

Abraham membalik urutan tersebut dengan bertaruh bahwa pemerintah bisa melakukan normalisasi terlebih dahulu dan membiarkan perdamaian menyusul kemudian. Sejumlah pemerintah bersedia mengambil risiko tersebut, namun sebagian besar masyarakatnya tidak.

Jajak pendapat Arab Barometer setelah tanggal 7 Oktober 2023 menunjukkan bahwa dukungan terhadap normalisasi dengan ‘Israel’ tidak pernah melampaui 13 persen di tujuh negara yang disurvei—bahkan di Maroko, salah satu penandatangan Abraham, dukungan merosot tajam dari 31 persen menjadi 13 persen hanya dalam waktu satu tahun.

“Arab Saudi selalu menjadi ujian yang sesungguhnya. Seandainya Riyadh turut menandatangani kesepakatan tersebut, Abraham bisa saja menjadi pemersatu bagi seluruh kawasan. Namun, hal itu tidak terjadi. Pihak Saudi tetap mengaitkan pengakuan terhadap Israel dengan pembentukan negara Palestina, bahkan setelah Trump memperingatkan pada bulan Juli bahwa kesepakatan nuklir sipil AS-Saudi bergantung pada normalisasi hubungan.”

Sikap Pakistan pun sama tegasnya; Kementerian Luar Negeri Pakistan menegaskan kembali pada tanggal 4 Juni bahwa garis merah mereka tetaplah terwujudnya negara Palestina yang layak dan memiliki wilayah yang menyatu (kontigu) berdasarkan perbatasan pra-1967, dengan Al-Quds Al-Sharif sebagai ibu kotanya.”

Pendekatan berbeda Pakta Mekkah

Makkah tidak meminta Pakistan untuk mengakui ‘Israel’, atau Arab Saudi untuk melunakkan sikapnya terhadap Palestina, ataupun Turki untuk melepas hubungannya dengan NATO, Washington, Moskow, atau Teheran. Sebaliknya, yang ditawarkan adalah sesuatu yang sederhana. Pemerintah anggotanya tidak perlu penjelasan atau pembenaran kepada publik di dalam negeri: jika kita diserang, kita tidak akan sendirian.

Di kawasan yang telah terkuras oleh serangan rudal, pesawat nirawak (drone), perang proksi, dan keraguan mengenai sejauh mana jaminan keamanan dari pihak luar benar-benar berlaku, tawaran tersebut sulit untuk ditolak—dan jauh lebih mudah untuk diterima oleh publik domestik dibandingkan gagasan membuka hubungan dengan ‘Israel’.

Hal yang lebih menarik daripada janji keamanan itu sendiri adalah fleksibilitas yang terkandung di dalamnya. Turki merupakan anggota NATO. Arab Saudi tetap menjalin hubungan erat dengan Washington. Pakistan menyeimbangkan kemitraan mendalam dengan Tiongkok sembari menjaga hubungan dengan AS, Riyadh, Ankara, dan Teheran secara bersamaan.

Ketiga negara ini tidak memiliki pandangan yang sama mengenai Suriah, Iran, Israel, ataupun tatanan kawasan secara umum. Namun, semua perbedaan itu tidak menghalangi mereka untuk sepakat saling membela. Hal itulah—lebih dari apa pun—yang mungkin menjadi inovasi sesungguhnya dari inisiatif Mekkah: bukti bahwa negara-negara tidak perlu sepakat dalam segala hal untuk bisa bersepakat mengenai satu hal yang paling krusial saat rudal mulai beterbangan.

Reaksi Iran juga memberikan isyarat tersendiri. Teheran tidak memandang pakta tersebut sebagai ancaman yang memusuhi mereka. Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan pada 10 Agustus bahwa langkah negara-negara kawasan untuk mengandalkan pengaturan keamanan mereka sendiri justru bisa bersifat konstruktif—asalkan pengaturan tersebut tetap inklusif dan menangani ancaman nyata, bukan ancaman yang dibuat-buat.

Jika inisiatif Mekkah ini dapat terhindar dari perpecahan yang berujung pada konfrontasi Sunni-Syiah, peluang pengembangannya akan menjadi jauh lebih besar.

Mesir, dan mengapa sikap hati-hati itu penting

Sudah ada pembicaraan mengenai siapa yang mungkin akan bergabung berikutnya, dan beberapa di antaranya patut disikapi dengan skeptisisme. Klaim bahwa Indonesia, Malaysia, Qatar, Bahrain, Kuwait, atau Azerbaijan sedang mengantri untuk bergabung belum didukung oleh bukti publik apa pun.

Namun, berbeda dengan Mesir di mana disebutkan oleh Ankara telah secara terbuka sebagai calon anggota di masa depan. Mesir sudah bekerja sama dengan ketiga penandatangan tersebut melalui kerangka kerja R4 yang sedang berkembang.

Jika Mesir benar-benar bergabung, pakta ini tidak lagi tampak sekadar sebagai kesepakatan trilateral, melainkan mulai terlihat sebagai entitas dengan bobot pengaruh regional yang nyata: kedalaman strategis Pakistan, kekuatan militer dan industri pertahanan Turki, modal finansial serta jangkauan diplomatik Arab Saudi, dan pijakan Mesir di seluruh Afrika Utara serta kawasan Mediterania.

Meski demikian, ini baru sekadar inti kekuatan—belum menjadi “NATO-nya dunia Muslim”—dan sebaiknya kita menahan diri untuk tidak terburu-buru melabelinya demikian.

Kesepakatan yang sedang disusun

Abraham Accords telah memiliki waktu hampir enam tahun untuk membuktikan diri, dan terlepas dari segala keterbatasannya, hasil yang dicapainya nyata dan konkret.

Sementara itu, kesepakatan Makkah baru saja terbentuk beberapa hari yang lalu. Pertanyaan-pertanyaan paling krusial belum terjawab: apa sebenarnya yang memicu klausul pertahanan kolektif; apakah anggota wajib mengirimkan pasukan atau cukup memberikan dukungan intelijen dan pertahanan udara; serta siapa yang berwenang menentukan apa yang dikategorikan sebagai tindakan agresi. Reuters mencatat bahwa teks publik kesepakatan tersebut belum merinci hal-hal ini. Selama rincian tersebut belum ada, kesepakatan Mekkah memang penting, namun belum sepenuhnya rampung.

Dua langkah berbeda

Mungkin persaingan sesungguhnya di sini bukanlah antara dua perjanjian, melainkan antara dua cara pandang mengenai tatanan kawasan. Pendekatan Abraham mengusulkan: lakukan normalisasi terlebih dahulu, lalu percayalah bahwa perdamaian akan menyusul. Sementara itu, pendekatan Mekkah berprinsip: bangunlah keamanan sendiri terlebih dahulu, baru kemudian selesaikan aspek politiknya. Saat ini, narasi kedua tersebut jelas lebih mudah disampaikan kepada publik yang sedang merasa cemas.

Ada pelajaran penting bagi Washington di sini: janji keamanan dan insentif ekonomi tidak bisa menggantikan penyelesaian nyata atas masalah Palestina. Masalah ini bukanlah sekadar persoalan teknis yang bisa diselesaikan lewat negosiasi biasa, melainkan isu yang sangat erat kaitannya dengan cara pemerintah di berbagai negara Muslim memandang legitimasi mereka sendiri.

Para perancang kesepakatan Mekkah juga sebaiknya memastikan pakta tersebut tetap sesuai dengan tujuan awalnya—yakni bersifat defensif, fleksibel, dan dimiliki sepenuhnya oleh kawasan itu sendiri. Sebab, begitu pakta ini mulai terlihat seperti sebuah blok ideologis, ia akan kehilangan esensi yang membuatnya efektif.

Tiga bulan lalu, Washington meminta Pakistan, Arab Saudi, dan Turki untuk bergabung dalam tatanan yang didasarkan pada normalisasi hubungan dengan ‘Israel’.

Kini, ketiga negara tersebut justru diam-diam sedang membangun tatanan yang berlandaskan semangat saling membela satu sama lain.

Apakah kesepakatan Makkah ini akan bertahan lama atau sekadar menjadi dokumen yang ditandatangani tanpa tindak lanjut nyata, semua itu bergantung pada langkah konkret para anggotanya ke depan.

Namun, pesannya telah tersebar luas melampaui ruang tempat penandatanganan itu dilakukan: kawasan ini tidak lagi ingin dipaksa memilih antara bergantung pada kekuatan luar atau melakukan normalisasi sesuai jadwal yang ditentukan pihak lain. Kawasan ini mulai mempertanyakan apakah mereka mampu membangun tatanan mereka sendiri.*

Diterjemahkan dan disadur dari artikel berjudul Abraham offered normalisation. Makkah offers security

Redaktur: Nashirul Haq
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Abraham Accordsarab saudiHeadlinePakta Pertahanan Bersama MekkahpalestinaPerjanjian Abraham
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Ratusan Pemukim ‘Israel’ Nodai Masjidil Aqsha, Lakukan Ritual Yahudi
Tulisan selanjutnya 70 Ribu Warga Palestina Hadiri Shalat Jumat di Masjidil Aqsha, Ribuan Datang Sejak Subuh

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Atasi Suhu Udara Panas Warga Korea Utara Diimbau Makan Sup Daging Anjing

Berita
8 Agustus 2026 11:06
Libanon, Israel Susun Daftar Negara Mana yang Bisa Kirim Pasukan Pantau Perlucutan Senjata Hizbullah
Membangun Ketahanan Mental dengan Nilai-Nilai Al-Qur’an
LPPOM Raih Indonesia Public Relations Awards 2026 Kategori Corporate Reputation
DPR Kecam Dugaan Promosi Miras Pakai Ayat Alquran, Belajar dari Kasus Holywings

Terbaru

  • 70 Ribu Warga Palestina Hadiri Shalat Jumat di Masjidil Aqsha, Ribuan Datang Sejak Subuh
  • Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
  • Ratusan Pemukim ‘Israel’ Nodai Masjidil Aqsha, Lakukan Ritual Yahudi
  • ‘Israel’ Kembali Langgar Gencatan Senjata, Bunuh Kepala Polisi Gaza
  • Lima Strategi PBNU untuk Wujudkan Pesantren Aman
  • RMI PBNU: Jangan Tutup-tutupi Kekerasan di Pesantren
  • Bertemu Pimpinan US CENTCOM, PM Ali al-Zaidi Tegaskan Komitmen Mengakhiri Kehadiran Militer Amerika di Iraq
  • Muhammadiyah Dorong Media AfiliasiMu Terhubung dalam Satu Ekosistem Digital
  • Jambore Media Afiliasi Muhammadiyah, Dorong Media Tetap Cepat, Akurat dan Harus Benar di Era Digital
  • CDCC Siapkan Persidangan Kedua MCM Malindo, Bahas Konsep Negara Madani

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi

13 April 2026 18:00
ArtikelOpini

Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

18 Maret 2026 09:00
Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Opini

Prabowo Tidak Peduli dengan Palestina

29 Januari 2026 16:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?