Hidayatullah.com– Air di dalam waduk penyimpan cadangan air bagi penduduk kota Mashhad di bagian timur laut Iran hanya tinggal kurang dari 3% menurut sejumlah laporan, menunjukkan kekeringan parah sedang melanda negeri Persia itu.
“Cadangan air waduk-waduk di Mashhad menurun menjadi kurang dari 3%,” kata Hossein Esmaeilian, pimpinan eksekutif perusahaan air di kota kedua terbanyak penduduknya di Iran itu, kepada kantor berita ISNA.
“Mengingat situasi saat ini pengelolaan penggunaan air bukan lagi sekadar anjuran – melainkan sudah menjadi suatu keharusan,” imbuhnya, seperti dilansir AFP Ahad (9/11/2025).
Mashhad, tempat tinggal sekitar 4 juta orang dan merupakan kota paling suci di Iran, mengandalkan empat waduk sebagai sumber airnya. Esmaeilian mengatakan konsumsi air di kota itu mencapai sekitar 8.000 liter per detik, yang mana sebanyak sekitar 1.000 sampai 1.500 liter per detik dipasok dari waduk-waduk tersebut.
Pada akhir pekan kemarin, pihak berwenang di Teheran memperingatkan penduduk akan kemungkinan dilakukannya pemotongan pasokan air bergilir di ibu kota karena negeri mereka sedang terjadi kekeringan terburuk dalam beberapa dekade terakhir. Presiden Masoud Pezeshkian memperingatkan bahwa tanpa curahan hujan sebelum musim dingin, penduduk Teheran terancam harus dievakuasi.
Di ibu kota, lima waduk besar pemasok air minum saat ini sedang dalam status kritis, di mana satu waduk kosong dan satu lainnya hanya tersisa kurang dari 8 persen, kata para pejabat.
“Apabila masyarakat dapat mengurangi konsumsi 20%, tampaknya masih memungkinkan untuk mengendalikan situasi ini tanpa harus melakukan rasionalisasi air,” kata Esmaeilian, seraya memperingatkan bahwa mereka yang konsumsinya paling tinggi akan mengalami pemangkasan lebih dahulu.
Di seluruh Iran, 19 waduk besar – sekitar 10 persen dari penampung cadangan air negeri itu – sudah kering, kata Abbasali Keykhaei dari Iranian Perusahaan Pengelola Sumber Daya Air pada akhir Oktober, menurut laporan kantor berita Mehr.
Krisis air terjadi setelah negeri Iran tidak mendapatkan curahan hujan selama berbulan-bulan. Pada musim panas tahun ini, pihak berwenang bahkan beberapa kali mengumumkan hari libur di Teheran guna memangkas konsumsi air dan energi yang melonjak selama gelombang panas melanda wilayah itu.
Hari Ahad (9/11/2025), sejumlah koran lokal mengkritik apa yang mereka sebut sebagai politisasi pengambilan keputusan dalam penanggulangan krisis air.
Koran reformis Etemad menuding penunjukan para manajer yang tidak kompeten di institusi-institusi terkait sebagai salah satu penyebab krisis air di Iran.
Sementara koran Shargh mengatakan, “Iklim dikorbankan demi politik.”*




