Oleh: Ady Amar
Ada orang-orang yang dikenang karena ceramah atau pidatonya. Ada pula yang namanya hidup melalui karya-karya besarnya. Namun ada juga mereka yang memilih berjalan di belakang layar. Tidak mencari sorotan, tidak mengejar tepuk tangan, tetapi diam-diam menjadi penopang bagi banyak orang. Mereka tidak memenuhi ruang dengan kata-kata, melainkan mengisi kehidupan dengan keteladanan. Ketika mereka pergi, barulah kita menyadari betapa besar peran yang selama ini mereka jalankan dalam kesunyian.
Dan Zeyd Muhamaad Baktir—dikenal dengan Zeyd Baktir—memilih menjadi salah seorang di antaranya.
Menjelang azan Subuh, Senin, 20 Juli 2026, sekitar pukul 03.15, Allah Subhanahu wa Ta’ala memanggilnya pulang. Kepergiannya menyisakan duka yang dalam, bukan hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi sahabat-sahabat dan generasi aktivis dakwah yang pernah merasakan ketulusan serta kemurahan hatinya.
Bagi mereka yang tumbuh dalam dunia dakwah kampus di Surabaya pada dekade 1980-an hingga awal tahun 2000-an, nama Zeyd Baktir hampir mustahil dilupakan. Ia bukan penceramah yang memenuhi mimbar-mimbar. Ia juga bukan tokoh yang gemar tampil di hadapan publik. Jalan dakwah yang dipilihnya justru sunyi: memudahkan orang lain berdakwah.
Melalui buku-buku Islam dan berbagai literatur kajian yang ia sediakan—lewat Toko Media Idaman—Zeyd menjadi sahabat bagi para mahasiswa dan aktivis. Siapa pun yang hendak mengadakan pameran buku, tabligh akbar, pelatihan, atau kegiatan dakwah dipersilahkannya mengambil buku terlebih dahulu. Soal pembayaran bukan perkara yang membuatnya khawatir. Mahasiswa yang belum memiliki uang diperbolehkan membayar setelah kiriman dari orang tua tiba.
Kepercayaan adalah modal terbesar yang ia berikan. Ia tidak sekadar menjual buku; ia sedang membuka jalan agar ilmu lebih mudah bertemu dengan pembacanya. Baginya, keuntungan bukan hanya dihitung dari lembaran rupiah, melainkan dari bertambahnya orang yang membaca, memahami, lalu menyebarkan ilmu.
Tak sedikit para dai dan aktivis yang pernah merasakan uluran tangannya. Saat mereka mengalami kesulitan, Zeyd hadir tanpa banyak kata. Ia bukan tipe yang gemar memberi nasihat panjang. Ia lebih memilih membantu, lalu kembali ke tempatnya semula seolah apa yang dilakukannya adalah sesuatu yang biasa.
Begitulah dirinya. Rendah hati, hangat, bijaksana, dan menyenangkan. Ia lebih banyak mendengar daripada berbicara. Bahkan dalam banyak pertemuan, ia nyaris tidak terdengar mengemukakan pendapat. Namun jangan salah menilai diamnya. Di balik ketenangannya tersimpan keberanian moral yang tidak mudah digoyahkan.
Ketika sebuah keputusan harus diambil, ia sering tampak melakukannya dengan cepat. Sekilas orang mungkin mengira ia tergesa-gesa. Padahal, keputusan itu lahir dari keyakinan yang telah matang dalam batinnya. Sekali ia meyakini sesuatu sebagai kebenaran, di situlah ia berdiri. Ia tidak pandai bermain di wilayah abu-abu demi menyenangkan semua pihak. Kesetiaannya selalu kepada apa yang diyakininya benar.
Allah juga menganugerahkan kepadanya keluarga yang teduh. Bersama istrinya, Prof. Afaf Baktir—pakar Biokimia, Universitas Airlangga, ia menjalani kehidupan yang dipenuhi kasih sayang dan saling menguatkan. Ketika penyakit Parkinson datang dan perlahan membatasi gerak serta aktivitasnya, ujian itu dijalaninya dengan penuh kesabaran. Di sisinya, bertahun sang istri merawatnya dengan keikhlasan yang mengharukan. Di sanalah cinta menemukan bentuknya yang paling sejati: setia merawat tanpa mengenal lelah.
Kini Zeyd Baktir telah kembali kepada Rabb yang dicintainya. Namun orang-orang seperti dirinya sesungguhnya tidak pernah benar-benar pergi. Buku-buku yang pernah ia sebarkan akan terus dibaca. Dakwah yang pernah ia bantu akan terus bergerak. Para dai yang pernah ia mudahkan langkahnya akan terus menyampaikan ilmu. Selama ilmu itu tetap hidup dan diamalkan, selama itu pula, in Syaa Allah, pahala amal jariyah akan terus mengalir kepadanya.
Obituari ini sesungguhnya bukan sekadar catatan duka atas wafatnya seorang sahabat. Ia juga merupakan upaya menyelamatkan ingatan tentang satu mata rantai penting dalam sejarah dakwah kampus di Surabaya. Sejarah biasanya mengingat nama-nama mereka yang berdiri di atas mimbar. Tetapi sejarah yang adil juga perlu mengingat orang-orang yang menyiapkan mimbar itu, menghadirkan buku-buku yang dibaca, menumbuhkan kepercayaan, dan menguatkan langkah para aktivis sejak mereka masih belajar berjalan.
Sebagian orang dikenang karena besarnya panggung yang pernah ia miliki. Zeyd Baktir akan dikenang karena begitu banyak orang yang mampu berdiri di atas panggung dakwah, sebab pada masa mudanya pernah ada seorang lelaki sederhana yang diam-diam memudahkan langkah mereka.
Selamat jalan, Sahabat. Engkau telah mengajarkan bahwa dakwah tidak selalu lahir dari sebuah mimbar. Kadang ia tumbuh dari selembar buku, dari kepercayaan yang diberikan kepada sesama, dari tangan yang ringan menolong, dan dari hati yang teguh memihak kebenaran.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima seluruh amal baktimu, mengampuni segala khilafmu, melapangkan kuburmu, dan menempatkanmu di antara hamba-hamba-Nya yang beriman. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.**




