Hidayatullah.com– Paus Leo, hari Kamis(8/1/2026), menggelar pertemuan dengan para kardinal dari seluruh dunia sebagai bagian dari pertemuan puncak selama dua hari, mendesak mereka supaya menghindari perpecahan di lingkungan gereja dan fokus dalam upaya untuk menarik pengikut baru.
Pada pertemuan itu Paus Leo juga mengisyaratkan keinginannya untuk meneruskan reformasi yang dilakukan oleh mendiang Paus Fransiskus, yang berjibaku melawan para kardinal konservatif guna menjadikan ajaran Katolik lebih inklusif dengan merangkul kalangan homoseksual dan membahas pentahbisan wanita sebagai pendeta Katolik.
Pada pertemuan tertutup hari pertama, Rabu (7/1/2026), Paus Leo mengatakan Gereja Katolik hanya akan tumbuh apabila mereka dapat menarik lebih banyak pengikut baru lewat pesan Tuhan tentang cinta bagi semua kalangan, menurut pernyataan yang dirilis oleh Vatikan seperti dilansir Reuters.
“Hanya cinta yang dapat dipercaya; hanya cinta yang kredibel,” kata Paus Leo. “Persatuan menarik orang, sedangkan perpecahan menimbulkan perpecahan.”
Massimo Faggioli, seorang akademisi Italia di Trinity College Dublin, yang mengikuti kebijakan Vatikan, mengatakan bahwa Paus Leo “sedang berupaya meyakinkan para kardinal bahwa mereka perlu bekerja sama secara kolektif untuk melakukan apa yang diinginkan umat Katolik”.
“Leo mengambil sikap berhati-hati, tetapi saya pikir dia akan melanjutkan jalan yang sudah ditempuh Paus Fransiskus,” kata Faggioli. “Saya rasa dia tidak akan menyurutkan langkahnya.”
Paus Fransiskus, yang memimpin Vatikan selama 12 tahun, meninggal pada bulan April 2025. Leo, yang sebelumnya dikenal sebagai Kardinal Amerika Serikat Robert Prevost, terpilih sebagai pemimpin Vatikan yang baru pada bulan Mei.
Vatikan mengatakan bahwa 170 dari 245 kardinal dari seluruh penjuru dunia menghadiri pertemuan puncak tersebut, yang berakhir pada hari Kamis.
Mereka diminta untuk tidak mengungkapkan ke publik apa saja yang dibahas dalam pertemuan itu, kata juru bicara Vatikan Matteo Bruni.
Leo dalam pertemuan hari Rabu meminta nasihat dari para kardinal tentang prioritas apa yang harus dia fokuskan untuk masa dua tahun mendatang.*




