Hidayatullah.com– Petugas penyelamat, hari Jumat (19/1/2026), bekerja mencari puluhan orang yang dilaporkan tertimbun setelah gunungan sampah runtuh di sebuah tempat pembuangan akhir di Filipina bagian tengah.
Sedikitnya satu orang dikabarkan tewas akibat tertimbun longsoran sampah, yang memerangkap sedikitnya 50 petugas di tempat pembuangan sampah akhir di Binaliw di Cebu City pada hari Kamis petang.
“Ada tanda-tanda kehidupan,” kata Walik Kota Cebu Nestor Archival kepada awak media seperti dilansir DW. dia mengatakan 34 orang masih hilang, sementara 34 orang yang berhasil diselamatkan pada Kamis malam dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.
Tidak jelas apakah mereka yang tertimbun semuanya petugas sanitasi atau ada warga lokal yang ikut menjadi korban.
Archival mengatakan 500 petugas penyelamat akan bergabung dengan ratusan rekan mereka yang sudah berada di lokasi pencarian, yang dijadwalkan akan berlangsung sampai hari Ahad 11 Januari.
Resiko ledakan gas methane yang dihasilkan dari proses pembusukan sampah menjadi kendala dalam upaya pencarian korban, membatasi jenis peralatan yang bisa dipergunakan oleh petugas, kata Archival.
Jason Morata, seorang asisten humas pemerintah kota setempat, mengatakan kepada AFP bahwa bangunan yang tertimbun longsoran sampah digunakan sebagai kantor oleh perusahaan swasta yang mengelola TPA itu.
Dia menjelaskan gunungan sampah di sana ketinggiannya sudah setara bangunan empat lantai.
Kepala kepolisian daerah setempat Brigjen Roderick Maranan mengatakan salah satu bangunan yang tertimbun longsoran sampah merupakan fasilitas sortir sampah daur ulang.
Dia menambahkan bahwa belum diketahui pasti apakah rumah penduduk ada yang terdampak.
Apa penyebab runtuhnya gunungan sampah itu masih menjadi pertanyaan. “Tidak ada hujan sama sekali,” kata Marge Parcotello, seorang anggota dari kantor kepolisian di Consolacion, kota kecil yang letaknya bersebelahan dengan lokasi TPA itu.
Morata mengatakan aparat terkait masih mencari penyebabnya, tetapi dia mencatat bahwa Cebu mengalami dua badai topan pada paruh kedua tahun 2025 dan satu gempa bumi.
Insiden seperti ini pernah terjadi pada bulan Juli 2000 di mana gunungan sampah di kota metropolitan Manila runtuh. Lebih dari 210 orang tewas dalam peristiwa itu menurut data resmi pemerintah, tetapi data tidak resmi mengatakan korban jiwa mencapai 1.000 orang. Di kawasan TPA di Manila itu ribuan orang tinggal sebagai pemukim tidak terdaftar.*




