Hidayatullah.com– Setelah sebelumnya memasuki Hasakeh, pasukan pemerintah Suriah hari Selasa (3/2/2026) mulai memasuki Qamishli, berdasarkan perjanjian integrasi yang disepakati oleh militan Kurdi pekan lalu, lapor kantor berita pemerintah.
“Konvoi pasukan keamanan dalam negeri mulai memasuki kota Qamishli,” lapor kantor berita resmi SANA, seperti dilansir AFP. Qamishli merupakan kota berpenduduk mayoritas etnis Kurdi.
Seorang koresponden AFP melihat kendaraan-kendaraan lapis baja dan personel bergerak menuju pinggiran kota itu, yang merupakan benteng utama pemerintahan otonom de facto Kurdi.
Pasukan Kurdi memberlakukan jam malam di kota Qamishli sampai Rabu (4/2/2026) pukul 06.00 pagi (0300 GMT) “untuk menjaga keamanan, stabilitas, dan keselamatan warga.”
Seorang koresponden AFP lainnya melihat toko-toko tutup dan jalanan kosong sejak Selasa pagi. Tampak personel keamanan Kurdi, sementara bendera-bendera Kurdi berkibar dan spanduk-spanduk terpasang.
Pergerakan pasukan pemerintah ke Qamishli itu dilakukan setelah personel keamanan memasuki Hasakeh – kota berpenduduk campuran etnis Kurdi dan Arab – dan daerah pedesaan di sekitar Kobane sehari sebelumnya, sebagai bagian dari kesepakatan komprehensif untuk mengintegrasikan secara bertahap pasukan-pasukan dan institusi-institusi Kurdi ke negara Suriah.
Pasukan Kurdi menyerahkan sebagian besar wilayah yang dikuasainya kepada pasukan pemerintah yang bergerak maju dalam beberapa pekan terakhir, setelah berbulan-bulan ketegangan dan bentrokan sporadis ketika pemerintah baru Suriah berupaya untuk menegakkan kekuasaan mereka di seluruh wilayah negara itu.
Marwan al-Ali, kepala keamanan domestik Provinsi Hasakeh, mengatakan konvoi pasukan pemerintah itu terdiri dari personel dan kendaraan keamanan dalam jumlah terbatas, yang kemudian akan ditindaklanjuti dengan integrasi pasukan keamanan Kurdi ke dalam pasukan pemerintah di bawah Kementerian Dalam Negeri.
Mazloum Abdi, kepala gabungan pasukan yang dipimpin Kurdi Syrian Democratic Forces (SDF), sebelumnya mengatakan bahwa kesepakatan integrasi itu akan dilaksanakan di lapangan mulai hari Senin (2/2/2026), dengan kedua pihak akan menarik pasukannya dari posisi di garis depan pertempuran di bagian timur laut Suriah, dan dari Kobane yang terletak di bagian utara.
Dia menjelaskan bahwa hanya pasukan keamanan domestik dalam jumlah terbatas yang akan memasuki wilayah Hasakeh dan Qamishli, tetapi tidak ada pasukan militer yang akan memasuki kota dan desa Kurdi manapun.
Pasukan Kurdi mau tidak mau harus membuat kesepakatan dengan pemerintah baru Suriah setelah pemerintah Amerika Serikat pimpinan Presiden Donald Trump mengatakan bahwa aliansi mereka dengan pihak Kurdi di Suriah sudah berakhir. Sebagaimana diketahui SDF selama perang saudara berlangsung di Suriah mendapatkan sokongan dari pasukan AS.
Dengan masuknya pasukan pemerintah ke wilayah-wilayah yang dikuasai Kurdi, efektif tinggal Provinsi Sweida – yang mayoritas penduduknya kaum Druze – di bagian selatan yang masih di luar kontrol Damaskus.*




