Hidayatullah.com– Jumlah laporan anak hilang di Prancis belakang ini meningkat, membalikkan tren penurunan kurun beberapa tahun terakhir, menurut yayasan Droit d’Enfance dalam sebuah laporan yang dirilis Senin (25/5/2026), yang juga menyoroti bahwa korban usianya semakin belia.
Sebanyak 40.953 anak dilaporkan hilang di Prancis pada tahun 2025, atau sekitar 112 setiap hari, menurut yayasan yang mengelola hotline darurat Eropa 116 000 itu, yang merilis angka-angka tersebut dalam rangka Hari Anak Hilang Internasional (International Missing Children’s Day.).
Kasus “anak hilang yang mengkhawatirkan” melonjak 18,6 persen, menurut angka Kementerian Dalam Negeri yang dikutip dalam laporan tersebut. Ini adalah situasi di mana keselamatan atau kesejahteraan anak tampak berisiko, terjadi melalui paksaan, terjadi eksploitasi seksual, atau krisis kesehatan mental.
Di kalangan anak perempuan, eksploitasi seksual merupakan faktor risiko utama dalam hampir sepertiga kasus anak hilang, lansir AFP.
Untuk pertama kalinya mayoritas kasus-kasus serius itu melibatkan korban anak di bawah usia 15 tahun.Anak-anak hilang karena berbagai alasan, termasuk pertengkaran dengan orang tua, pengaruh luar, atau keinginan untuk mandiri, dengan masa hilang selama beberapa jam atau hingga beberapa bulan.Yayasan tersebut mendesak keluarga untuk melaporkan kasus anak hilang kepada polisi sesegera mungkin. Dua pertiga kasus berhasil ditemukan atau korban kembali ke rumah dengan sendirinya dalam beberapa hari pertama kehilangan.
“Semakin banyak anak-anak yang masih belia yang hilang berkeliaran dan dalam bahaya,” kata juru bicara yayasan, Julien Landureau, kepada kantor berita AFP.
Secara keseluruhan jumlah kasus anak hilang akibat anak kabur mencakup kenaikan terbanyak yaitu 6,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya dan mencakup lebih dari 95 persen dari semua laporan anak hilang. Hampir 38 persen kasus melibatkan anak-anak di bawah usia 15 tahun.
Penculikan oleh orang tua sendiri adalah satu-satunya kategori yang menurun, berkurang 7,1 persen menjadi 618 laporan pada tahun 2025. Dari jumlah itu hampir setengahnya melibatkan anak yang dibawa ke luar negeri.
Komisaris Tinggi Prancis untuk Perlindungan Anak, Sarah El Haïry, mengatakan bahwa kasus anak kabur dari rumah “tidak pernah sepele. Sebaliknya, hal itu dapat mengindikasikan penderitaan yang mendalam, situasi berbahaya, atau pengaruh pihak ketiga.”
“Kita perlu berbuat lebih baik dalam hal pencegahan dan dalam mendeteksi tanda-tanda peringatan dini,” tegasnya.*




