Hidayatullah.com – Kontes Lagu Eurovision 2026 ditonton oleh 131 juta pemirsa, kata penyelenggara pada Jumat. Dibandingkan tahun lalu, jumlah penonton ini mengalami penurunan signifikan mencapai hampir 35 juta.
Penurunan ini akibat boikot lima negara Eropa karena partisipasi ‘Israel’ dalam kompetisi tersebut.
Bulgaria memenangkan kontes untuk pertama kalinya dengan lagu hits Dara yang berjudul “Bangaranga” yang menyapu edisi ke-70 acara musik televisi langsung terbesar di dunia, dengan ‘Israel’ berada di posisi kedua. Inggris berada di posisi terakhir.
Irlandia, Spanyol, Slovenia, Islandia, dan Belanda memutuskan untuk tidak mengirimkan perwakilan atau menayangkan kontes tersebut sebagai protes atas partisipasi ‘Israel’ di tengah perang genosida di Gaza.
Kontes 2025 ditonton oleh rata-rata 5,8 juta orang di Spanyol, dan 3,5 juta orang di Belanda. Di Irlandia, siaran RTÉ untuk kontes tahun lalu memperoleh rata-rata 268.000 pemirsa, menurut situs berita Irlandia, The Journal.
Eurovision tahun ini digelar di Wina, dengan babak final berlangsung pada 16 Mei. Protes diadakan di Wina terkait partisipasi Israel, dan teriakan ‘hentikan genosida’ terdengar selama penampilan Israel di babak semi-final.
Pangsa penonton terbesar yang menyaksikan Eurovision tercatat di Finlandia (93%), Swedia (86%), Norwegia (83%), dan Denmark (79%).
Secara keseluruhan di 35 pasar TV yang diukur, babak final menarik rata-rata pangsa penonton sebesar 42,6%.
Pangsa penonton berusia 15 hingga 24 tahun lebih tinggi, yaitu 54,8%.
EBU mencatat bahwa angka penonton turun 3,8 juta di Polandia, 3,7 juta di Inggris, dan 3,3 juta di Prancis, dibandingkan dengan Eurovision 2025, yang diadakan di kota Basel, Swiss.
Di luar 35 negara peserta, suara terbanyak diterima dari Amerika Serikat, Belanda, Kanada, Spanyol, Irlandia, Slovakia, dan Turki.
Ketegangan seputar Eurovision meningkat tahun lalu ketika anggota EBU memutuskan untuk tidak mengadakan pemungutan suara tentang partisipasi Israel. Keputusan tersebut menyusul perselisihan internal dan terjadi selama genosida Israel di Gaza. Beberapa negara kemudian memboikot kontes tersebut sebagai bentuk protes.
Edisi tahun ini mencatat jumlah negara peserta terendah sejak 2004, yang mencerminkan semakin terisolasinya Israel.
Aksi boikot tersebut dipicu oleh keputusan penyelenggara untuk mengizinkan ‘Israel’ berpartisipasi meskipun terjadi genosida di Gaza.
Kritik internasional terhadap sikap pro-Israel Eurovision juga meningkat. Beberapa negara menarik diri atau mengurangi partisipasi tahun ini karena dimasukkannya ‘Israel’ yang menghadapi tuduhan kejahatan perang di ICC dan ICJ, sementara perbandingan telah dibuat dengan pengecualian Rusia pada tahun 2022 setelah invasinya ke Ukraina.
Para kritikus berpendapat bahwa perbedaan perlakuan tersebut menimbulkan pertanyaan tentang standar ganda dalam acara budaya internasional. Masalah ini telah menarik perhatian media yang lebih luas, termasuk pemberitaan oleh The New York Times tentang bagaimana ‘Israel’ telah menggunakan Eurovision sebagai soft power selama genosida Gaza.
Selama tiga tahun terakhir, ‘Israel’ menghadapi keberatan atas partisipasinya di Eurovision tidak hanya dari anggota EBU tetapi juga dari para kontestan sendiri.*




