Hidayatullah.com– Uni Eropa mengeluarkan larangan pembelian, impor, dan transfer emas dari Sudan, dengan alasan perdagangan logam mulia itu menjadi sumber pendanaan utama bagi para pihak yang terlibat dalam perang saudara di negara itu yang meletus pada April 2023.
Konflik antara tentara reguler dan pasukan paramiliter Rapid Support Forces (RSF) menimbulkan salah satu krisis kemanusiaan terparah di dunia, memaksa lebih dari 14 juta orang meninggalkan rumah mereka dan menjadi pengungsi.
Sudan merupakan salah satu produsen emas terbesar di Afrika dan cadangan emasnya yang melimpah menjadi sumber pendapatan penting bagi kedua belah pihak yang berkonflik, menurut kelompok-kelompok peduli hak asasi manusia.
“Emas telah menjadi sumber pendapatan utama yang menopang konflik di Sudan,” kata Dewan Uni Eropa dalam sebuah pernyataan, seraya menambahkan bahwa larangan dan pembatasan lainnya dirancang untuk “mengurangi sumber daya” yang tersedia bagi para pelaku kekerasan di negeri itu.
“Langkah-langkah ini dirancang untuk mengekang sumber pendanaan konflik dan memberikan tekanan yang lebih terhadap para pihak yang memicu perang,” imbuhnya.
Berdasarkan kebijakan itu, individu dan perusahaan Uni Eropa dilarang melakukan pembelian, impor atau mengangkut emas yang berasal dari Sudan.
Disamping menyetujui larangan pembelian emas dari Sudan, Uni Eropa juga mengeluarkan larangan ekspor ke Sudah bahan kimia merkuri dan sianida, yang banyak dipakai dalam kegiatan penambangan emas, lapor BBC (14/7/2026).
Merkuri dan sianida yang diperlukan untuk tujuan kemanusiaan dan kesehatan masyarakat tidak termasuk dalam larangan ekspor Ini Eropa tersebut.
Menurut para pakar dari Perserikatan Bangsa-Bangsa dan analis lainnya, lebih dari setengah – diperkirakan sampai 70 persen – emas Sudan diselundupkan ke luar negeri setiap tahun.
RSF menguasainya sebagian ladang emas di Darfur dan Kordofan – wilayah di bagian barat dan tengah Sudan, sementara tentara reguler pemerintah mengontrol produksi emas di wilayah bagian utara dan timur negara Afrika itu.
Emas Sudan kerap diselundupkan melalui negara tetangga seperti Mesir, Chad, serta Libya, sebelum mencapai Dubai di Uni Emirat Arab, yang dikenal sebagai pusat perdagangan emas di kawasan Timur Tengah.*




