Hidayatullah.com– Para hacker meretas sistem pemerintah kota Berlin dan mencuri datanya awal bulan ini, kata wali kota Kai Wegner.
Wegner mengatakan pejabat ibu kota Jerman itu tidak akan tunduk terhadap tuntutan uang tebusan, yang datang pada Kamis malam. Dia tidak menjelaskan berapa uang tebusan yang diminta, tetapi Der Spiegel melaporkan para hacker meminta 30 bitcoin yang bernilai sekitar 2 juta euro.
Beberapa sistem daring di ibu kota negara Jerman itu terpaksa dimatikan akibat serangan hacker, sementara pihak penyidik sedang mencari tahu berapa banyak data yang mereka curi.
Rhysida group, yang diduga beroperasi dari Rusia dan kawasan Eropa Timur dan pelakunya dikabarkan sudah mengaku sebagai dalang serangan itu.
Dikatakan oleh Rhysida di situs webnya bahwa mereka bermaksud melelang 5.79 terabytes data Berlin yang berhasil dicurinya dalam aksi peretasan selama tujuh hari, lapor kantor berita Reuters.
“Berlin tidak akan bisa diperas,” kata Wegner hari Jumat (28/8).Para pejabat kota itu kebocoran data awalnya terjadi antara 7 dan 12 Agustus.
Kemudian, pada 14 Agustus jaringan milik dua departemen mati, mengakibatkan aplikasi-aplikasi berkaitan dengan tunjangan perumahan dan pembayaran-pembayaran tidak bisa dilakukan selama beberapa hari.Hasil investigasi forensik menunjukkan adanya kebocoran data lebih jauh di Departemen Transportasi dan Departemen Lingkungan Hidup kota Berlin, kata para pejabat.
Pihak berwenang di ibu kota Jerman itu tidak menyebutkan nama-nama para tersangka serangan siber itu, tetapi Der Spiegel menampilkan tangkapan layar situs web Rhysida yang mengklaim memiliki data yang dicurinya dari pemerintah kota Berlin seperti dokumen kontrak, non-disclosure agreements, data staf, passwords dan ribuan data kontak personal.
Sejak kemunculannya di tahun 2023, Rhysida mengklaim ribuan serangan siber. Kelompok itu diketahui kerap menyerang berbagai institusi pemerintah dan badan usaha berbagai ukuran di berbagai negara.
Kelompok peretas itu berhasil menyusup ke dalam sistem komputer British Museum pada tahun 2023, menggangu pelayanannya dan mencuri sekitar 500.000. Ketika institusi Inggris itu menolak untuk membayar uang tebusan, Rhysida mempublikasikan data yang dicurinya di dark web.*




