Hidayatullah.com – Seorang pejabat tinggi Zionis ‘Israel’ menyatakan bahwa kebenaran dan fakta tidak lagi penting. Ia bahkan terang-terangan membuat dan menyebarkan berita palsu atau hoaks.
“Saya menyebarkan berita palsu,” aku Eli Hazan, pejabat tinggi komunikasi ‘Israel’ dalam sebuah video yang viral di media sosial pada Selasa (25/08/2026).
Hingga kini, klip video yang diunggah pada 17 Agustus itu telah ditonton lebih dari satu juta kali di X.
“Kebenaran tidak lagi penting. Fakta tidak lagi penting,” tambahnya.
Ia kemudian mengakui: “Saya mengarang berita palsu sebagai tanggapan terhadap mereka,” sebelum berargumen bahwa ‘Israel’ perlu mencontoh strategi komunikasi Presiden AS Donald Trump.
Gaya komunikasi Donald Trump, yang dimaksud Hazan, erat kaitannya dengan penyampaian klaim palsu atau menyesatkan secara berulang-ulang. Trump juga menolak pemberitaan yang tidak menguntungkan dengan melabelinya sebagai “berita palsu” (fake news).
Trump turut mempopulerkan istilah tersebut sebagai serangan politik terhadap para pengkritiknya. Istilah itu—yang awalnya digunakan terutama untuk menggambarkan cerita rekaan—menjadi ciri utama serangan Trump terhadap media selama ia berkuasa.
The Washington Post mencatat Trump menyampaikan 30.573 klaim palsu atau menyesatkan selama masa jabatan pertamanya sebagai presiden, rata-rata 21 klaim per hari.
PolitiFact, setelah menelaah 1.000 pernyataan Trump hingga Februari 2024, menemukan bahwa sekitar 76 persen klaim yang dipilih untuk diperiksa faktanya dinilai sebagai “Sebagian Besar Salah” (Mostly False), “Salah” (False), atau “Kebohongan Besar” (Pants on Fire).
Seperti Trump, Hazan juga menyebut media sosial sebagai medan pertempuran di mana Israel harus melancarkan “perang” daring melawan pihak-pihak yang menentangnya. Ia menyatakan bahwa dalam perang informasi ini, akurasi fakta merupakan hal sekunder.
Hazan adalah tokoh komunikasi senior Partai Likud yang pernah menjabat sebagai direktur urusan luar negeri partai tersebut dan juru bicara Benjamin Netanyahu. Ia juga pernah bertugas sebagai Duta Besar Israel untuk Singapura.
Media Israel melaporkan tahun ini bahwa Netanyahu berencana menunjuknya sebagai direktur Government Press Office (GPO), badan yang bertanggung jawab atas hubungan antara pemerintah ‘Israel’ dengan jurnalis dalam dan luar negeri.
GPO sendiri mendefinisikan sebagian perannya sebagai upaya menjaga hubungan dengan jurnalis asing dan melaksanakan kegiatan diplomasi publik yang bertujuan memperbaiki citra ‘Israel’ di media internasional.
Pernyataan Hazan menjadi viral di tengah langkah Israel menggelontorkan dana dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk Hasbara—propaganda negara—guna memulihkan dukungan internasional yang merosot tajam pasca-genosida di Gaza.
Anggaran diplomasi publik ‘Israel’ telah melonjak hingga sekitar 730 juta dolar AS, lebih dari empat kali lipat dibandingkan alokasi 150 juta dolar AS pada tahun sebelumnya.
Anggaran tahun sebelumnya itu sendiri sudah sekitar 20 kali lebih besar daripada pengeluaran ‘Israel’ untuk operasi serupa sebelum tahun 2023. Dana tersebut dialokasikan untuk kampanye digital, influencer, delegasi asing, organisasi advokasi, dan berbagai inisiatif lain yang bertujuan membentuk ulang opini internasional.
Israel juga telah membayar influencer media sosial hingga 7.000 dolar AS per unggahan untuk memublikasikan materi yang pro-Israel. Kontrak-kontrak lainnya mencakup pembuatan ribuan konten media sosial dan pencapaian puluhan juta tayangan setiap bulannya, sementara berbagai kampanye dilakukan untuk memengaruhi hasil pencarian serta lingkungan informasi yang digunakan oleh platform kecerdasan buatan (AI).*




