Hidayatullah.com – Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyerukan dunia Islam untuk memperkuat aliansi. ia juga memperingatkan akan bahaya “ideologi radikal, penjajah, dan genosida yang dikenal sebagai Zionisme.”
Seruan itu disampaikan Erdogan saat berpidato dalam acara Pekan Maulid Nabi di Istanbul, Turki.
“Kami meyakini adanya kebaikan dalam persatuan; kami berupaya memperkuat aliansi dan mengurangi perbedaan pendapat, baik di antara kita sendiri maupun di seluruh dunia Islam,” ujar Erdogan, lansir Yeni Safak pada Sabtu (29/08/2026).
Erdogan berharap agar umat Islam yang “pernah menorehkan sejarah dan menghadirkan tatanan dunia selama berabad-abad” dapat mengatasi perpecahan demi membela hak-hak mereka.
Gaza, Kuburan Anak-Anak Terbesar di Dunia
Apalagi di tengah ketidakadilan yang dialami warga Palestina di Gaza. Erdogan mengkritik keras sikap diam dunia internasional terhadap situasi penduduk Gaza.
Ia membandingkan diamnya dunia dengan kegagalan dalam menghentikan Hitler.
Ia menyebut bahwa Gaza telah berubah menjadi “kuburan anak-anak terbesar di dunia,” di mana anak-anak yang sekadar bermain layang-layang pun dianggap sebagai ancaman oleh pasukan penjajah ‘Israel’.
Warga sipil berjuang untuk bertahan hidup tanpa kebutuhan pokok, sementara dunia gagal merespons apa yang disebut Erdogan sebagai kebijakan tanpa hukum dari “jaringan genosida” Israel—kebijakan yang mengabaikan berbagai aturan, prinsip, nilai, dan batasan.
Berupaya Hentikan Ekspansi Zionisme
Erdogan menegaskan bahwa upaya Turki menentang ekspansi Zionisme dilakukan demi kepentingan “garis depan kemanusiaan” dan seluruh masyarakat di kawasan tersebut, tanpa memandang latar belakang agama.
“Segala upaya kami ditujukan untuk menciptakan suasana damai dan aman di kawasan kami,” ujarnya, seraya menyatakan kesiapan Ankara untuk berkontribusi pada persatuan dan solidaritas di seluruh dunia Islam.
Presiden menyampaikan hal tersebut dalam rangkaian acara peringatan kelahiran Nabi Muhammad, dengan menempatkan inisiatif diplomatik Turki sebagai bagian dari kewajiban moral yang lebih luas untuk melawan ketidakadilan.*




