Hidayatullah.com-– QatarEnergy sedang bernegosiasi dengan sejumlah produsen untuk memastikan kontrak penggarapan gas alam cair (LNG) Amerika Serikat sampai tahun 2031 guna mengganti kapasitas produksinya yang terganggu akibat serangan-serangan Iran, menurut tiga sumber perdagangan dan industri.
Pembicaraan antara lain dilakukan dengan Venture Global, Cheniere dan Woodside, kata dua sumber tersebut seperti dilansir Reuters Jumat (11/9/2023).
Negosiasi kontrak itu merupakan bagian dari upaya QatarEnergy untuk mengganti kerugian yang diakibatkan terganggunya proses produksi di fasilitas gasnya di Ras Laffan, setelah 14 fasilitas pengolahan gasnya rusak akibat serangan-serangan Iran pada bulan Maret, kata sumber-sumber tersebut.
Diskusi tersebut juga menunjukkan Qatar berusaha mencari solusi jangka panjang setelah sebelumnya melakukan pembelian puluhan kargo LNG AS oleh QatarEnergy guna memenuhi komitmen kepada beberapa kliennya di Asia, yang terusik akibat kerusakan fasilitas di Ras Laffan.
Saad al-Kaabi, CEO QatarEnergy, pada bulan Maret mengatakan bahwa perbaikan fasilitas itu akan mengurangi 12,8 juta ton per tahun dari kapasitas produksi LNG selama tiga sampai lima tahun.
Disebabkan terhentinya produksi pada bulan Maret, QatarEnergy harus memperbarui pemberitahuan force majeure bulanan – yang terbaru memperpanjangnya sampai November – yang kemungkinan akan diperpanjang lagi apabila Selat Hormuz masih ditutup, kata sumber-sumber tersebut.
QatarEnergy Trading, sayap niaga dari QatarEnergy yang menangani penjualan 10 juta ton dari portofolio LNG perusahaan itu, saat ini sedang berupaya untuk dapat menjual 2-3 juta metrik ton per tahun sampai 2031 ke pelanggannya, kata salah satu sumber tersebut.
Sekitar 80 persen pengiriman LNG Qatar biasanya diekspor ke pembeli di Asia.*




