Hidayatullah.com— Dinas intelijen dalam negeri Maroko dituding menggunakan perangkat lunak Pegasus dan memasang kamera-kamera tersembunyi untuk memata-matai para jurnalis dan aktivis hak asasi manusia, menurut sebuah laporan yang dibuat oleh Amnesty International.
Amnesty dalam laporan yang dirilis hari Kamis (1/10/2026) menggatakan aparatus yang dipergunakan oleh dinas intelijen Direction Générale de la Surveillance du Territoire (DGST) termasuk spyware buatan Israel bernama Pegasus.
Dikatakan pula di dalam laporan itu bahwa ponsel-ponsel sengaja dicemari malware dan kamera-kamera tersembunyi dipasang di rumah-rumah pribadi serta ditemukan adanya penyadapan panggilan telepon secara sistematis.
Laporan itu disusun berdasarkan antara lain kesaksian seorang bekas pegawai DGST, bukti forensik digital dan dokumen internal dari perusahaan-perusahaan teknologi pengintaian, termasuk seperti NSO Group, Hacking Team dan Verint.
Pihak berwenang Maroko berulang kali membantah tudingan bahwa pihaknya menggunakan Pegasus, dan menegaskan bahwa mereka menghormati kerahasiaan pribadi dalam komunikasi.
Menurut kesaksian bekas pegawai DGST yang diberi nama samaran Safir, para jurnalis dan aktivis diam-diam direkam saat berada di dalam tahanan, di kantor, mobil, dan kafe – bahkan di kamar tidur mereka.
Panggilan telepon secara rutin disadap dan data lokasinya dipakai untuk melacak target serta orang-orang yang berhubungan dengan mereka, kata Amnesty.
Tidak hanya itu, agen-agen DGST bahkan mendekati toko-toko ponsel bekas dan menyuplai mereka dengan ponsel yang sudah ditanamkan spyware didalamnya, sehingga aparat bisa mengetahui komunikasi apa saja yang dilakukan oleh pengguna ponsel bekas tersebut.
Amnesty mengatakan DGST juga mengandalkan kerja sama dari setidaknya satu operator telekomunikasi di Maroko.
DGST dan Dewan Tinggi Pertahanan Nasional Maroko memiliki kontrak setidaknya sejak tahun 2009 dengan perusahaan Italia Hacking Team, sementara Maroko juga membeli platform pengawasan Reliant milik Verint pada tahun 2014, menurut catatan internal yang dikutip oleh Amnesty.
Amnesty menyatakan bahwa hasil analisisnya menunjukkan bahwa DGST mulai menggunakan perangkat lunak mata-mata Pegasus dari NSO Group sejak September 2017, lansir RFI.*




