Hidayatullah.com– Alphabet, Amazon, dan Microsoft baru-baru ini mengguncang para investor di Wall Street dengan pemaparan pengeluaran modal besar-besaran dalam perlombaan kecerdasan buatan (AI). Meskipun angka pendapatan perusahaan-perusahaan teknologi raksasa itu menunjukkan pertumbuhan yang kuat dari tahun ke tahun, para investor semakin khawatir mengenai dampak investasi AI yang melonjak terhadap profitabilitas inti dan arus kas bebas perusahaan.
Perusahaan induk Google, Alphabet, kehilangan nilai pasar $500 miliar pada hari Kamis (29/10/2026), sehingga harga sahamnya mencapai yang terendah kurun enam bulan terakhir setelah melorot hampir 13%. Meskipun total pendapatan tumbuh 25% menjadi $127,6 miliar—didukung oleh pertumbuhan Google Cloud sebesar 103% menjadi hampir $31 miliar—laba perusahaan turun 25% dan arus kas bebas negatif melebihi $9 miliar karena pengeluaran besar untuk AI.
Penurunan tersebut sebagian besar disebabkan oleh peluncuran ringkasan AI pada mesin pencari Google Search, yang memengaruhi penjualan iklan.
Tracy Woo, seorang analis utama di Forrester, mengatakan bahwa hasil bisnis pencarian Alphabet yang mengecewakan “menyoroti tantangan dalam pendanaan investasi AI besar-besaran sambil mempertahankan kekuatan bisnis yang sudah mapan.”
Meskipun asar bereaksi negatif, Google Chief Business Officer Phillip Schindler pada hari Rabu (28/10/2026) mengutarakan optimismenya, mengatakan bahwa dia merasa sangat senang dengan pencapaian mesin pencari AI yang dikembangkan perusahaannya.
Sementara itu saham Amazon melorot 6% dalam perdagangan di luar jam bursa pada hari Kamis, menyusul pertumbuhan penjualan triwulanan sebesar 11% menjadi $201 miliar, disertai dengan arus kas negatif yang mengejutkan sebesar $42 miliar — peningkatan enam kali lipat selama tiga bulan.
Chief Executive Andy Jassy membela pengeluaran tersebut, dengan menggarisbawahi bahwa perusahaan sedang mengejar peluang di bidang chip komputer khusus dan platform pengembang AI-nya, Bedrock.
“Salah satu pelajaran yang kami dapat selama lebih dari 20 tahun adalah bahwa tidak ada satu alat pun yang dapat menguasai dunia,” kata Andy Jassy. “Orang selalu berasumsi bahwa apa pun yang berada di posisi terdepan di awal akan menjadi satu-satunya hal yang digunakan orang – [padahal] itu tidak pernah benar.”
Menyadari adanya masalah pada keuangan, Jassy mengakui bahwa “akan lebih mudah” jika pengeluaran besar itu disebar selama 25 tahun, dan menambahkan, sayangnya “Itu bukan dunia tempat kita hidup.”
Microsoft mengalami respons pasar yang lebih ringan, dengan sahamnya turun kurang dari 1% pada hari Kamis. Perusahaan tersebut melaporkan peningkatan pendapatan sebesar 19% menjadi $92,3 miliar, didorong oleh pertumbuhan 30% dalam bisnis cloud-nya menjadi $63 miliar. Di saat yang sama mereka berencana untuk memangkas ribuan pekerja dan mengurangi pengeluaran sekitar $5 miliar pada investasi AI.
Chief Executive Satya Nadella melaporkan bahwa pengguna mesin AI Copilot yang dikembangkan Microsoft mengalami peningkatan pengguna harian dari tahun ke tahun sebesar 500%.*




