Hidayatullah.com – Pekerja pelabuhan dari 100 pelabuhan di hampir 20 negara akan berhenti bekerja pada tanggal 30 Oktober di Hari Aksi Pekerja Pelabuhan Internasional yang kedua.
Melansir Quds News Network pada Kamis (29/10/2026) aksi ini sebagai bentuk solidaritas dengan Palestina dan melawan militerisme. Hal ini diklaim sebagai aksi mogok kerja terkoordinasi terbesar dalam sejarah dunia.
Aksi mogok kerja diiniasi oleh para pekerja pelabuhan di negara Mediterania seperti Italia, Yunani, Perancis, Siprus, Basque dan Maroko.
Mereka akan bergabung dengan para pekerja pelabuhan dan pekerja lainnya yang akan berunjuk rasa di Spanyol, Turki, Jerman, Irlandia, Portugal, Denmark, Swedia, Australia, Veracruz di Meksiko, dan Oakland di Kalifornia, serta di banyak pelabuhan di India.
Mereka tidak menuntut kenaikan upah atau pengurangan jam kerja. Tuntutan mereka adalah untuk menghentikan perang dan genosida.
Tindakan ini menyusul seruan dari Federasi Umum Serikat Buruh Palestina (PGFTU), yang sejak tahun 2023 telah mendesak para pekerja dan serikat pekerja untuk “Berhenti Mempersenjatai Israel,” dan yang pada tahun 2025 meminta para pekerja internasional untuk menyelenggarakan hari-hari kemarahan dan solidaritas “di pabrik dan bengkel, di pelabuhan dan bandara, di jalan-jalan dan lapangan umum.”
Aksi ini disponsori bersama oleh Federasi Serikat Buruh Dunia, sebuah organisasi yang berbasis di Athena yang serikat pekerjanya mewakili 105 juta pekerja, yang mengatakan mobilisasi tersebut dilakukan ketika “medan perang semakin meluas” dan menuduh ‘Israel’, yang didukung oleh Amerika Serikat, Uni Eropa, dan NATO, melanjutkan kejahatannya terhadap rakyat Palestina.
Pekerja pelabuhan di Genoa, pelabuhan tersibuk di Italia, telah memimpin upaya ini sejak tahun 2019, ketika mereka menolak memuat senjata untuk perang Arab Saudi di Yaman, dan tahun lalu salah satu dari mereka berjanji bahwa jika kontak dengan Armada Sumud Global yang menuju ke Gaza hilang, “kami akan memblokir seluruh Eropa.”
Charmaine Chua dari Workers in Palestine menyebut ada sejumlah pelabuhan yang menjadi jalur suplai ‘Israel’ seperti pelabuhan Ceyhan di Turki, pelabuhan-pelabuhan Afrika Selatan, pelabuhan Genoa, pelabuhan Ravenna, pelabuhan Livorno, dan pelabuhan Oakland.
Menurutnya, pekerja pelabuhan di Livorno telah mengganggu pergerakan kargo militer AS dari pangkalan udara Sigonella, yang dijuluki “Hub of the Med.”
Pekerja pelabuhan memiliki sejarah panjang sebagai pihak yang menentang rezim. Pada tahun 1984, serikat pekerja pelabuhan di San Francisco menolak untuk menurunkan muatan dari Afrika Selatan selama perjuangan melawan apartheid, dan pada tahun 1978 pekerja pelabuhan di kota yang sama membantu menekan pemerintahan Carter untuk berhenti mengirim peralatan militer ke Pinochet di Chili setelah menemukan pengiriman tersebut.*




