Hidayatullah.com– Seorang pria tersangka penembakan maut di daerah pinggiran Paris pekan lalu mengaku sengaja menarget orang-orang yang berpenampilan “Muslim, Afrika, atau Afrika Utara,” kata jaksa.
Jumat pekan lalu, seorang pria tewas dan tujuh orang lain termasuk seorang anak terluka ketika seorang penyerang melepaskan tembakan sambil berkendara melalui dua kawasan pinggiran bagian barat Paris.
Pengo Bossio Wangi, seorang ahli beladiri berusia 26 tahun warga Prancis keturunan Kongo, tewas dalam aksi penembakan itu. Tiga dari mereka yang terluka masih dirawat di rumah sakit dengan satu dalam kondisi kritis, kata jaksa kasus terorisme Olivier Christen kepada awak media seperti dilansir BBC News Sabtu (30/10/2026).
Pada hari Kamis (28/10/2026), tersangka didakwa dengan pembunuhan dan percobaan pembunuhan terkait dengan aksi terorisme, kata kantor kejaksaan antiterorisme nasional (PNAT). Tersangka, yang disebut dalam media Prancis sebagai pria berusia 39 tahun bernama Kevin T, memilih daerah Trappes dan daerah didekatnya La Verrière karena dia memandang kawasan itu sebagai “sarangnya islamis.”
Kevin T membantah memiliki “niat teroris”, bersikeras bahwa tindakannya “sah” dan mengatakan bahwa dirinya “tidak menyesal”, kata Christen.
Lebih lanjut Christen mengatakan bahwa polisi menemukan “senjata atau komponen senjata” di rumah tersangka, serta buku-buku termasuk Al-Quran, Alkitab, dan Mein Kampf karya Adolf Hitler, serta stiker yang mengelukan partai sayap kanan garis keras Rassemblement National (RN) pimpinan Marine Le Pen.
Namun tersangka juga mengatakan kepada penyidik bahwa dia bukan anggota atau pendukung partai politik mana pun.
Presiden Emmanuel Macron menyebut tindakan Kevin T sebagai “serangan teroris rasis” dan demonstrasi anti-rasisme telah digelar di seluruh Prancis sebagai ekspresi penolakan terhadap rasisme.
Pada hari Rabu (27/10), Macron mengatakan bahwa “gerakan-gerakan politik tertentu dari kalangan sayap kanan ekstrem,” termasuk RN dan “mereka yang dekat dengan mereka,” telah membiarkan iklim rasisme “berakar” di Prancis.*




