Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

SBY, Kita, dan Pahitnya ‘Pil’ Kritik

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 29 Oktober 2010 09:14 9:14 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 29 Oktober 2010 09:14
Bagikan
Bagikan

Pada 20 Oktober 2010, usia kepemimpinan SBY (untuk periode kedua), tepat setahun. Di hari itu, banyak elemen masyarakat di berbagai kota mengadakan beragam aksi yang bermuatan kritik ke SBY. Dua hari setelah itu, Mochtar W. Oetomo menulis opini di Jawa Pos, (22/10) berjudul “SBY dan Sindrom Putri Salju”.

Bagi yang aktif mengikuti perkembangan, agak mudah menebak arah tulisan dari dosen FISIP Universitas Trunojoyo itu. Dia menulis bahwa saat menyikapi kritik, SBY itu reaksioner, emosional, dan diulang-ulang. Atas opini itu, rasanya, banyak yang sependapat.

Urgensi Mendengar

Kita, terlebih yang berstatus sebagai pemimpin, pertama, tak seharusnya reaktif dengan menanggapi (semua) kritik yang masuk. Kedua, tak sepantasnya mudah menuding balik para pengritik sebagai pihak yang iri, misalnya. Ketiga, tak sepatutnya untuk terus mendramatisir bahwa ada pihak yang akan menjatuhkannya.

Akan jauh lebih baik jika atas semua kritik itu kita ambil hikmahnya. Tapi, tampak SBY -seperti rata-rata kita- lebih suka menjadi pembicara ketimbang menjadi pendengar yang baik. Kita betah berbicara lama, tapi malas menjadi pendengar yang tekun.

Baca Juga

Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

Padahal, konsekwensi berbicara sangat berat. Si pembicara harus bisa “menghidupkan” semua hal yang dibicarakannya. Misal, saat pemimpin berkata akan menaikkan taraf hidup rakyat, maka dia akan dituntut untuk segera merealisasikannya. Jika tak dikerjakannya, maka kredibilitas dia akan terpangkas banyak.

Sementara, aktivitas mendengar praktis tak beresiko sebesar berbicara. ‘Pekerjaan’ mendengar membutuhkan kesabaran dan oleh karena itu diperlukan pembiasaan. Contoh berikut ini, menarik.

Abdurrahman bin Nashir, seorang raja di sebuah masa ketika Islam jaya di Andalusia. Suatu ketika dia terlihat tiga kali tak tampak beribadah shalat Jum’at. Kabarnya, dia tengah sibuk menyelesaikan proyek pembangunan kota Az-Zahrah di Cordova. Proyek itu, nantinya bisa menjadi simbol kekuasaan yang megah dan mencerminkan kemajuan ilmu serta budaya.

Pada Jum’at keempat, sang raja hadir bersama anak lelakinya di masjid. Bertindak sebagai khotib, Mundzir bin Said. Sang Khotib mengutip QS Asy-Syu’araa [26]: 128-131.

Khotib-pun lalu mengupas ayat tersebut sesuai konteks situasi waktu itu. Kurang-lebih, dia berkata bahwa sungguh tak bermanfaat semua proyek pembangunan, jika dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pemanfaatannya, kita melupakan Allah, melanggar syariat-Nya, dan melampaui batas.

Dia meneruskan, bahwa sungguh kita zalim, jika dalam proyek pembangunan itu kita menghambur-hamburkan uang negara. Kita zalim, jika atas nama pembangunan lalu mengabaikan usaha-usaha pemenuhan kebutuhan dasar rakyat, tapi mengerjakan sesuatu sekadar menyenangkan segelintir penguasa saja. Ketahuilah, itu pengkhianatan.

Dia melanjutkan, apakah benar semua pembangunan itu seperti yang sering di-klaim oleh para pejabat, bahwa itu untuk kepentingan rakyat jika ternyata menghasilkan dampak sosial yang negatif? Bukankah sangat sering terjadi: Orang kehilangan rumah karena tergusur, dengan ganti rugi yang tak memadai? Atau, lahan bermain anak-anak menjadi jauh berkurang?

Usai shalat Jum’at, terjadilah dialog antara bapak (alias sang raja) dengan anaknya. “Aku tersinggung atas isi khutbah tadi,” kata si bapak. “Jika Bapak tersinggung, maka saya marah besar. Saya minta agar khotib tadi tak boleh lagi tampil berkhutbah,” timpal si anak. Rupanya, si anak seperti kebanyakan manusia, cenderung menolak sesuatu yang tak sesuai dengan hawa nafsunya.

Sesungguhnya, ketika si bapak bilang tersinggung, dia sedang menguji sensitifitas telinga sang anak dalam mendengar nasihat (termasuk kritik). Dia sedang mendidik putranya agar justru berterima-kasih kepada siapapun yang mengingatkan kita. Maka, sang bapak menutup dialog: “Tidak, anakku. Tak sepatutnya khotib tadi menerima sanksi. Bahkan, sebaliknya, kita harus berterima-kasih atas semua yang telah disampaikannya. Nasihat (atau kritik) itu, merupakan tanda cinta dia yang tulus kepada kita.”

‘Pil’ Kritik

Saling menasihati adalah salah satu ajaran yang sangat baik. Jadi, ayo SBY, ayo semua warga Indonesia, lebih sabar-lah ketika mendengar nasihat –atau bahkan kritik- dari siapapun. Terimalah kritik sebagaimana kita rela menelan pil yang pahit agar sakit kita terobati. Jadi, jangan ragu, terima dan perhatikanlah kritik (yang baik) agar kita ‘sehat’. [hidayatullah.com]

*)Penulis adalah alumnus PPs Unair dan dosen STAIL Pesantren Hidayatullah Surabaya

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Mbah Maridjan dan Perahu Nabi Nuh
Tulisan selanjutnya Meski Berantakan, Mesir Optimis Perekonomiannya Meningkat

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Santri Hari Ini, Pemimpin Masa Depan: Semangat PFD XIII di Yogyakarta

Berita
16 Oktober 2026 14:29
19 Orang Tewas Akibat Berdesakan saat Festival Hindu Durga Puja India
Mesir Tegaskan Siap Bela Arab Saudi di Tengah Meningkatnya Serangan Houthi
Jelang Pemilu ‘Israel’, Trump Dukung Netanyahu Terpilih Kembali
Arab Saudi Eksekusi Pasangan yang Berbuat Asusila di Salah Satu Masjid Mekkah

Terbaru

  • Terus Langgar Gencatan Senjata, Serangan ‘Israel’ Bunuh 4 Warga Palestina
  • Sepakati ‘Badr’, Indonesia Perkuat Kerjasama Pertahanan dengan Turki, Qatar dan Pakistan
  • Jelang Pemilu ‘Israel’, Trump Dukung Netanyahu Terpilih Kembali
  • Iran Sebut Puluhan Pesawat Maskapai Nasional Hancur dalam Serangan AS-Israel
  • Jutaan Dolar Dana Nasabah Syariah HSBC Diduga Mengalir ke Perusahaan Senjata terkait ‘Israel’
  • 60 Ribu Anak Palestina Jadi Yatim Akibat Perang Genosida Zionis ‘Israel’
  • Makin Banyak Pemukim ‘Israel’ yang Hindari Wajib Militer, Jumlahnya Tembus 110.000
  • 19 Orang Tewas Akibat Berdesakan saat Festival Hindu Durga Puja India
  • Halal Ditunda, Kepastian Dipertaruhkan?
  • Mesir Tegaskan Siap Bela Arab Saudi di Tengah Meningkatnya Serangan Houthi

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

24 April 2026 20:20
Opini

Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi

13 April 2026 18:00
ArtikelOpini

Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

18 Maret 2026 09:00
Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?