Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Nasional

Perlu Presiden ‘Orang Indonesia’, Bukan ‘Presiden Partai’

Insan Kamil
Terakhir diupdate: 18 Oktober 2013 10:35 10:35 am
Insan Kamil
Dipublikasikan 18 Oktober 2013 10:35
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com–Kedaulatan bangsa dan negara Indonesia di bidang ekonomi, politik, hukum, dan budaya melemah sehingga menciptakan masalah yang sangat complicated. Hal tersebut ditandai dengan kedaulatan ekonomi yang dikuasai kepentingan asing, dan kedaulatan politik yang tidak berpihak kepada kepentingan umum. Kedaulatan budaya yang lemah ditunjukkan dengan rendahnya watak dan karakter bangsa.

“Tidak adanya integrasi antara pelaku, elite, dan sistem, membuat perubahan sistem tidak sejalan dengan perilaku. Tapi jika hal tersebut berjalan bagus Indonesia berpeluang untuk berkembang,” kata Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dr. Haedar Nashir, M.Sc. dalam diskusi “Silaturahmi Tokoh Bangsa Ke-5 Menuju Indonesia Yang Berkemajuan” di Aula Gedung PP Muhammadiyah Jl. Menteng Raya No.62, Jakarta, Kamis (17/10/2013).

Figur kepemimpinan juga menjadi salah satu masalah bangsa. Pasca reformasi Indonesia sudah dipimpin beberapa tokoh dengan karakter yang berbeda, namun hingga kini masih sulit keluar dari masalah sehingga berisiko menjadi negara gagal (failed state).

“Indonesia perlu sosok Presiden “Orang Indonesia”, bukan sosok “Presiden Partai”. Itulah yang membuat politik di Indonesia berubah dari perjuangan menjadi perdagangan,” kata Wakil Rais Aam PBNU Prof. Dr. K.H.Achmad Hasyim Muzadi, dilansir laman Muhammadiyah.

Dr. Haedar menambahkan, sosok “Orang Indonesia” di sini, yaitu pemimpin yang memiliki visi yang sesuai dengan cita-cita nasional para pendiri bangsa, nasionalis, berkomitmen kebangsaan kuat, mampu membangun solidaritas bangsa majemuk, berani mengambil resiko, mampu mengambil keputusan dengan cepat, tepat dan tegas, mampu menyelesaikan masalah, dan yang terpenting integritas moral yang tinggi sehingga tidak menyalahgunakan kekuasaan.

Baca Juga

Lukmanul Hakim MUI wafat
KH Dr. Lukmanul Hakim, Pejuang Ekonomi Umat yang Berpulang
Layanan SIHALAL Bermasalah, ALPHI Minta Dikembalikan Ke Sistem Lama
LPPOM Bersama ALPHI Kupas Tuntas Tarif dan Waktu Proses Sertifikasi Halal
PAD Kota Depok Meningkat Tanpa Iklan Rokok
Pembukaan Silatnas 2023, Pj Gubernur Kaltim Puji Kiprah Dai – Daiyah Hidayatullah

Beberapa tokoh nasional yang hadir, antara lain Dr. Ir. H. Akbar Tandjung, Prof. Dr. H. Mahfud MD, S.H, S.U., Letjen TNI (Purn.) Dr.(H.C.) H. Sutiyoso, Letnan Jenderal (Purn) Prabowo Subianto Djojohadikusumo, H. M. Anis Matta, Lc., Jenderal TNI (Purn) Try Sutrisno, Dr. Dewi Motik, M.Si., dan Prof. Dr. M. Din Syamsuddin, MA. sebagai moderator. Rencananya “Silaturahmi Tokoh Bangsa” ini akan diadakan lagi pada Desember 2013.

Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Prabowo Subiakto mengatakan, Indonesia kehilangan seribu triliun rupiah setiap tahun karena sistem ekonomi neoliberalisme yang ditanamkan pemerintah.

Kehilangan yang cukup besar tersebut, kata Prabowo, karena pemerintah terus memilih mencukupi kebutuhan impor dibanding produksi dalam negeri.

“Setiap tahun kita kehilangan Rp 1000 triliun hanya untuk impor barang, yang sebenarnya kalau dikelola dengan baik barang itu ada di bumi Indonesia,” ujar Prabowo.

Contoh kecil, ungkap Prabowo, pemerintah harus membayar impor ikan teri dan garam, padahal negara kita negara maritim dan kepulauan. Belum lagi impor sumber makanan lain. Ini terus dilakukan di tengah pelemahan produksi nasional.

Akibat kegilaan impor ini, kata dia, rakyat Indonesia sekarang sudah tidak semangat lagi berproduksi, tapi lebih senang mengkosumsi. “Sehingga yang terjadi saat ini pelemahan kekuatan bangsa, ini gejala yang kita alami,” ujarnya.

Menurut Prabowo, jika hal ini terus dibiarkan hingga sepuluh tahun ke depan, maka kerugian Indonesia mencapai Rp 10 ribu triliun. Sehingga, wajar dengan impor tersebut rakyat lebih senang berniaga dan sumber produksi hilang. Alhasil, jurang kaya miskin semakin lebar. Ketidakadilan ekonomi semakin menyebar dan asing terus menguasai ekonomi Indonesia.*

 

Redaktur: Insan Kamil
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Siswa dan Pengasuh MA Al Islah Lamongan Kunjungi Redaksi KMH
Tulisan selanjutnya IDB: 25 Persen Pembayaran Dam Meragukan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Berita
3 Juni 2026 12:08
Kementerian Kesehatan Gaza: 33 Orang Syahid Ditembak Israel saat Libur Idul Adha
Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan
Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram

Terbaru

  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama

Mungkin Anda Juga Suka

BeritaBerita dari AndaNasional

Workshop Tenun dan Tudung Manto untuk Santri dan Masyarakat Lingga

6 November 2023 08:51
BeritaLensaNasional

Investasi LM Antam untuk Pendidikan Anak

13 September 2023 11:00
BeritaLensaNasional

[Foto] Belajar Gosok Gigi yang Benar

29 Juli 2023 07:00
BeritaNasional

Dukung Kegiatan PFI, Eri Cahyadi Tawarkan untuk Pameran Foto Berikutnya

14 Mei 2023 07:35
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?