Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Opini

Mati Perlahan di Kabut Asap, Siapa Bertanggung Jawab?

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 30 September 2015 10:27 10:27 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 30 September 2015 10:27
Bagikan
Oksigen murni dinilai tersisa lima persen lagi. Ini sangat berbahaya
Bagikan

Oleh: Kholila Ulin Ni’ma, M.Pd.I

Dalam sebuah media, ahli medis untuk Paru di RSUD Pekanbaru Riau, dr Azizman Saat, tidak menampik ketakutan ‘mati perlahan’ Tiara dari kutukan kabut asap di wilayahnya. Bahkan, ia pun menyerukan agar ada upaya evakuasi untuk warga di daerahnya. “Oksigen murni tersisa lima persen lagi. Ini sangat berbahaya. Pemerintah seharusnya mengungsikan warga Riau,” katanya, (viva.co.id, 14/9/2015).

Peringatan ini memang menakutkan. Sebab, dengan jumlah kadar seperti itu, sangat tidak mungkin dihirup oleh warga di Pekanbaru Riau yang mencapai 1,1 juta jiwa. Aktivis Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Pius Ginting menyatakan, pemerintah tidak menganggap serius dampak pencemaran udara bagi masyarakat terdampak kabut asap dan cenderung meremehkan. Padahal, berdaskan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pencemaran udara pada 2014 menyebabkan tujuh juta kematian dini.

Tata Kelola Gambut Tidak Sesuai Karakternya

Hutan gambut adalah hutan tropis berdaun lebar. Tanah yang terendam air mencegah dedaunan dan kayu terdekomposisi sepenuhnya. Seiring waktu berlalu, terbentuk lapisan gambut yang bersifat asam. Lahan gambut (peat land) memiliki peranan ekologis dan hidrologis yang sangat penting agar kehidupan lestari dan kesejahteraan hidup umat manusia terjaga.

Baca Juga

Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi
Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?
Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai

Peran penting hidrologis lahan gambut bagi suatu wilayah bahkan dunia adalah sebagai cadangan (reservoir) air dengan kapasitas yang sangat besar. Sehingga pada musim hujan tidak terjadi banjir dan pada musim kemarau tidak terjadi kekeringan. Peran hidrologis ini erat kaitannya dengan karakter tanah gambut yang bagaikan spons dengan kubah-kubahnya berkedalaman hingga puluhan meter.

Begitu besarnya peran gambut bagi kehidupan dan kesejahteraan umat manusia, maka sungguh nikmat Ilahi Rabbi yang sangat patut di syukuri penduduk negeri ini, ketika Allah Subhanahu Wata’ala telah menganugerahkan lahan gambut tropis Indonesia sebagai lahan gambut terluas di dunia. Luasan sekitar 21-22 juta hektar (1,6 kali luas pulau Jawa). Tersebar di Kalimantan, Sumatera dan Papua. Maka nikmat Rabb-mu yang mana lagi yang akan kamu dustakan?

Karakter tanah gambut, yang merupakan cikal bakal batu bara muda, bila keringkan sangat mudah terbakar dan bila sudah terbakar sulit dipadamkan, mengharuskan pemanfaatan lahan dan hutan gambut harus selaras dengan karakter aslinya, yaitu agar gambut selalu basah, demikian pendapat sejumlah pakar gambut dan lingkungan, seperti Prof Azwar M’aas, pakar Gambut dari Universitas Gadjah Mada. Kubah gambut harus dipertahankan, dipilihkan tanaman yang adaptif dengan lahan gambut yang basah, bukan sebaliknya, serta memberikan tanaman penutup. Jika gambut ini dijadikan pada pohonan atau tanaman lahan kering, dengan memaksa gambut yang basah untuk kering. Ini berbahaya. Jangan ekosistem gambut yang harus menyesuaikan diri dengan tanaman. Namun tanamannya yang harus disesuikan dengan lahan

Tata kelola hutan dan lahan gambut (peatland) menjadi fokus perhatian dunia beberapa dekade terakhir sehubungan dengan kebakaran hutan dan lahan yang menghebat dan perubahan iklim dunia yang berujung pada berbagai bencana. Kegagalan tata kelola hutan dan lahan gambut sistem politik demokrasi yang bersifat kapitalistik, neoliberalistik mengakibatkan terjadi kerusakan hutan dan lahan gambut secara massive di berbagai penjuru dunia, utamanya Indonesia sebagai pemilik lahan gambut terluas di dunia. Ini ditandai dengan meluasnya kebakaran hutan dan lahan gambut setiap tahun.
Diberitakan beritasatu.com, 11 September 2015, analisis greenpeace menunjukkan 3,464 titik api tahun ini berada di gambut yang tersebar di berbagai pulau di Indonesia, dan 75 persen titik api di Sumatera ditemukan di kawasan gambut.

Tahun lalu, menurut pantauan WWF sepanjang Februari 2014 di kawasan gambut terdeteksi 2370 titik api. 95,96% nya di lahan gambut, sisanya di lahan non gambut. Pada kebakaran gambut tahun 2013, titik api terbanyak 2.968 pada bulan Agustus. Ini dinilai sudah merupakan puncak krisis kebakaran hutan.

Penting dicatat sejumlah fakta menunjukkan titik api karhutla nyatanya dari tahun ke tahun terkonsentrasi pada kawasan hutan yang dalam pengelolaan korporasi. Seperti yang dicatat oleh Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jambi, sekitar 80 persen lokasi kebakaran di Provinsi Jambi terjadi dikawasan konsensi perusahaan perkebunan dan hutan tanaman industri.

Ini semua membuktikan terjadinya pengabaian karakter gambut pada tata kelola gambut neolib, dengan pemberian hak istimewa seperti skema konsensi kepada individu tertentu. Lokasi titik api menunjukkan adanya hubungan kuat antara pembukaan hutan dan pengeringan gambut. Jadi bisa dikatakan kebakaran hutan di Indonesia disengaja. Hal ini selaras dengan temuan BNPB, bahwa 99,9% kebakaran hutan dan lahan akibat ulah manusia. BNPB punya data lengkap bahwa yang melakukan pembakaran itu perusahaan. Data-datanya jelas, perusahaan apa saja yang terlibat di dalamnya. Terang saja mereka melakukan pembakaran hutan yang tak terkontrol. Biaya pembukaan lahan dengan cara dibakar hanya membutuhkan Rp 600-800 ribu per hektare, sedangkan tanpa membakar butuh Rp 3,4 juta per hektare untuk membuka lahan.

Upaya yang sudah dilakukan pemerintah?

Pemerintah melakukan terobosan berupa tindakan penyegelan, penyekatan seribu kanal, pemetaan lahan gambut yang tersisa dan berbagai upaya lain. Namun upaya yang dilakukan dalam bingkai neoliberal sungguh diragukan keberhasilannya. Karena persoalan utamanya bukan pada lemahnya penegakan hukum dan lemahnya kepatuhan korporasi.

Sesungguhnya hutan dan lahan gambut adalah harta milik umum, maka apapun alasannya tidak dibenarkan pemerintah memberikan hak-hak khusus kepada siapapun dalam hal pemanfaatan hutan gambut, baik berbentuk konsensi, atau skema batil lainnya meski hanya untuk masa tertentu,dan sekalipun perusahaan atau individu tersebut membayar sejumlah kompensasi kepada negara seperti pajak maupun kompensasi kepada masyarakat berupa CSR (Corporate Social Responsibility).

Kedua, negara wajib hadir sebagai pihak yang diamanahi Allah Subhanahu Wata’ala bertanggungjawab terhadap pengelolaan harta milik umum, dalam hal ini hutan dan lahan gambut.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam menegaskan artinya,”Tidak boleh membahayakan diri sendiri maupun membahayakan orang lain.” (HR Ahmad dan Ibnu Majah).

Pada tataran inilah urgensitasnya dunia kembali pada pokok ajaran Islam, berupaya mengakhiri bencana asap tahunan serta mewujudkan tata kelola gambut yang menyejahterakan. Allahu A’lam.*

Aktivis DPD II Muslimah HTI Tulungagung

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:asaphutankebakaranlahan gambut
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Haji: Manusia Berbahaya [2]
Tulisan selanjutnya Musibah Mina, Alwi Shihab: Jangan Menuding yang Lain!

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Blokade Militer Amerika Mencekik Kemampuan Finansial Iran

Berita
17 Oktober 2026 10:37
Mesir Tegaskan Siap Bela Arab Saudi di Tengah Meningkatnya Serangan Houthi
Arab Saudi Tembak Jatuh 4 Drone di Riyadh dan Dua Wilayah Lain
Iran Sebut Puluhan Pesawat Maskapai Nasional Hancur dalam Serangan AS-Israel
Santri Hari Ini, Pemimpin Masa Depan: Semangat PFD XIII di Yogyakarta

Terbaru

  • Jelang Pemilu ‘Israel’, Trump Dukung Netanyahu Terpilih Kembali
  • Iran Sebut Puluhan Pesawat Maskapai Nasional Hancur dalam Serangan AS-Israel
  • Jutaan Dolar Dana Nasabah Syariah HSBC Diduga Mengalir ke Perusahaan Senjata terkait ‘Israel’
  • 60 Ribu Anak Palestina Jadi Yatim Akibat Perang Genosida Zionis ‘Israel’
  • Makin Banyak Pemukim ‘Israel’ yang Hindari Wajib Militer, Jumlahnya Tembus 110.000
  • 19 Orang Tewas Akibat Berdesakan saat Festival Hindu Durga Puja India
  • Halal Ditunda, Kepastian Dipertaruhkan?
  • Mesir Tegaskan Siap Bela Arab Saudi di Tengah Meningkatnya Serangan Houthi
  • Arab Saudi Tembak Jatuh 4 Drone di Riyadh dan Dua Wilayah Lain
  • Air Hujan di Singapura Berwarna Abu-abu karena Asap Karhutla

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI

24 April 2026 20:20
Opini

Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi

13 April 2026 18:00
ArtikelOpini

Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

18 Maret 2026 09:00
Opini

Board of Peace dan International Stabilization Forces: 5 Tanda Bahaya bagi Diplomasi Indonesia

20 Februari 2026 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?