Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Artikel

Beda Mazhab dan Sekte: Gagasan KH Abdullah bin Nuh

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 29 Maret 2023 14:02 2:02 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 29 Maret 2023 14:20
Bagikan
Bagikan

Sifat mazhab yang beragam, tetap menjaga persatuan karena ia berada pada furu’, karena itu perbedaan mazhab menjadi rahmat, berbeda dengan sekte, yang melahirkan perpecahan

Hidayatullah.com | ISLAM tidak hanya memiliki sisi teologis penting, namun juga memiliki ragam pemikiran terhadap beberapa pernyataan sumber ajarannya.

Ia menimbulkan warna warni dalam khazanah keislaman. Hampir dalam setiap disiplin ilmu, corak yang beragam ini muncul.

Dalam fikih misalnya, kita mengenal ikhtilaf atau khilaf (perbedaan pendapat) di kalangan ulama. Perbedaan corak pemikiran ini tidak dipungkiri berasal dari ijtihad para ulama.

KH Abdullah bin Nuh pernah menulis kitab yang cukup masyhur nama La Thaifiyyah fi al-Islam (tidak ada sekte dalam Islam). Kitabnya menurut salah satu putra, KH Mustopa bin Nuh, merupakan ringkasan dari kitab karangan sebelumnya, yaitu Ana Muslim Sunniyun Syafi’iyyun (Saya seorang muslim suni bermazhab Syafi’i).

Baca Juga

Maulid Nabi dan Kritik Agus Salim: Mengapa Kita Tertinggal dari Barat?
Muhammadiyah dan Maulid Sekaten: Ketika Dakwah Kultural Masuk ke Jantung Keraton
Perjanjian Abraham Tawarkan Normalisasi, Pakta Mekkah Tawarkan Keamanan
Transformasi Ekonomi Pesisir Berbasis Syariah: Dari Diversifikasi Olahan Bandeng hingga Hilirisasi Produk melalui Marketplace
Jangan Jadikan Lomba dan Karnaval HUT RI Ajang Promosi LGBT dan Judi

Naskah Kitab

Kitab ini ditemukan pada salah satu muridnya, yaitu KH Ingi Badruzzaman. Halamannya tergolong tipis sekitar 61 halaman, karena berupa ringkasan.

Kitab ditulis dengan menggunakan tangan. Hurufnya mirip dengan khat nasakh. Kitab ini merupakan bahan pidato ilmiah KH Abdullah bin Nuh di UNISBA Bandung (muhadharah ulqiyat fi muhadharah fi jami’ah bandung al-islamiyyah).

Isi kitab cenderung membahas berbagai kajian dalam prinsip usul fikih. Bagian pembahasannya dimulai dengan judul al-muqaddimah (prinsip). Di dalamnya memuat pembahasan pokok dalam kajian usul fikih.

Dari teori tentang mazhab yang ditulisnya, KH Abdullah bin Nuh membedakannya dengan sekte (firqah).  Pembahasan permulaan ini menjadi titik awal kajian perbedaan mazhab dengan sekte.

Mazhab bukan Sekte

Judul lengkap kitab ini adalah La Thaifiyyah fi al-Islam bi al-Ragm min Wujud al-Maz}ahib (tidak ada sekte dalam Islam meskipun banyak mazhab). KH Abdullah bin Nuh menegaskan bahwa mazhab memang ada sampai akhir ini.

Namun menurutnya, sekte sejatinya tidak ada dalam Islam. Mazhab berawal dari ijtihad sementara sekte bukan dari ijtihad.

Sekte sepadan dengan kata firqah. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2019), sekter diartikan kelompok orang yang mempunyai kepercayaan atau pandangan agama yang sama, yang berbeda dari pandangan agama yang lebih lazim diterima oleh para penganut agama tersebut. Sekte memisahkan diri penganut agama pada umumnya.

Pemikir sosiologi agama, Bryan Wilson (1982) dalam Religion in Sociological Perspective pernah mengemukakan bahwa sekte  umumnya adalah kelompok keagamaan atau politik yang memisahkan diri dari kelompok yang lebih besar, biasanya karena pertikaian tentang masalah-masalah doktriner.

Pengalaman di ajaran Kristen, kata Wilson, bahwa sekte mengandung konotasi penghinaan dan biasanya merujuk kepada gerakan dengan keyakinan atau ajaran yang sesat dan yang sering kali menyimpang dari ajaran dan praktik ortodoks.

Dalam sejarah pemikiran keislaman, sekte cukup banyak. Namun keyakinan dan pandangannya berbeda dengan keumuman masyarakat.

KH Abdullah bin Nuh memandang sekte berasal dari hawa nafsu, bukan dari produk pemikiran ijtihadi. Sekte dipandang sebagai ahl al-hawa, yang tidak memperhatikan kaidah berfikir yang benar. Kelompok ini cenderung sesuai dengan kehendak sendiri. Kemunculannya terkadang sesat dan bisa menyesatkan (dhillun wa mudhillun).

Sekte berbeda dengan mazhab. Menurutnya, mazhab adalah hasil ijtihad (natijah al-ijtihad).  

Ijtihad merupakan proses seorang faqih dengan mengerahkan segenap kompetensi untuk menggali hukum. Prosesnya melibatkan segenap dimensi keilmuan keislaman, kebahasAAn, al-Qur’an, hadis, juga ilmu lain yang relevan dengan penggalian hukum. 

Ijtihad menurutnya menghendaki ra’yu, yaitu proses berfikir yang mendalam sesuai keilmuan untuk menggali hukum dari al-Qur’an dan hadis.

Pada pendahuluan kitab, KH Abdullah bin Nuh menegaskan meskipun mazhab beragam, namun tetap persatuan harus dijunjung tinggi. Ragam mazhab berada pada furu’ bukan pada perkara pokok agama.

Pemikiran KH Abdullah bin Nuh beranjak dari hadis riwayat Abu Dawud dan al-Tirmidzi yang berkaitan dengan pengutusan Muadz bin Jabal ke Yaman. Nabi ﷺ bertanya kepada Muadz, “Dengan apa engkau akan menghukumi sesuatu?” Muadz menjawab,  “Dengan kitab Allah (al-Qur’an)”. “Jika engkau tidak menemukannya?”, “Dengan sunah Rasulullah ﷺ”. “ Jika engkau tidak menemukannya?”,”Dengan pemikiranku (ra’yu). KH Abdullah bin Nuh memandang kata ra’yu  bermakna ijtihad. 

Ra’yu  bukan hawa atau pemikiran yang tak berdasar. Ijtihad sejatinya adalah ra’yu.  

Ijtihad berawal dari penerimaan terhadap nas al-Qur’an dan sunah. Para mujtahid mendasarkan ra’yu pada nas al-Qur’an dan sunah.

Mereka meyakini bahwa Allah menurunkan hukum relevan pada setiap waktu dan tempat. Di dalamnya terdapat nash yang jelas juga kaidah umum yang mungkin diterapkan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan situasinya.

Keduanya menjadi wilayah ijtihad. Ijtihad akhirnya melahirkan mazhab.KH Abdullah  bin Nuh menegaskan bahwa ijtihad menjadi penyebab lahirnya ikhtilaf.

Hal ini berbeda dengan sekte. Sekte bukan beranjak dari nash yang jelas dan kaidah umum yang dapat diterapkan. Sekte berasal dari pikiran yang tidak berdasar.

Posisinya berbeda atau bahkan keluar dari keumuman keyakinan yang dianut masyarakat muslim.

Akhirnya, mazhab ini menjadi rahmat dan melahirkan sikap toleran terhadap beragam pemahaman dan hikmah yang cenderung melahirkan kasih sayang dan persaudaraan. Hal ini berbeda dengan sekte yang berujung pada lahirnya perpecahan.

Pemikiran KH Abdullah  bin Nuh ingin meneguhkan bahwa mazhab menjadi keniscayaan dalam ruang historis pemikiran Islam. Mazhab berasal dari metodologi berfikir yang jelas sesuai dengan prosedur keilmuan tertentu. Perbedaan mazhab ditegaskan olehnya berada pada wilayah furu’ .

Kondisi ini melahirkan ragam pemikiran yang dibalut dengan semangat saling memahami dan memperkenankan pihak lain dalam berpendapat. Sehingga, mazhab sejatinya menjadi rahmat bagi umat, bukan perpecahan. Wallahu A’lam.*/ Rudi Ahmad Suryadi

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Headlinemahzabperbedaan pendapatSekte
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Tipu Jamaah Rp 91 Miliar, Polda Metro Sebut Pemilik Travel Naila Safaah Wisata Seorang Residivis
Tulisan selanjutnya Puasa dan Fitrah Manusia

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Board of Peace Sebut Hamas dan Kelompok Perlawanan Palestina Lain Setuju Serahkan Senjata

Berita
28 Agustus 2026 11:26
Genosida Rwanda: Pengadilan Belanda Penjarakan Seorang Tersangka Seumur Hidup
Ahwa Mufakat Pilih Gus Kikin, Cicit Pendiri NU dari Tebuireng Jadi Ketum PBNU
AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
10 Ribu Porsi Bakso untuk Ukhuwah di Muktamar NU

Terbaru

  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal
  • Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi
  • Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang
  • Aktivis Pro-Demokrawi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK

Mungkin Anda Juga Suka

Ghazwul Fikr

SPI: Membenturkan Islam dengan Budaya Nusantara itu Absurd!

6 Agustus 2026 12:51
Opini

Board of Peace, Melayani Kepentingan Siapa? Israel atau Palestina?

5 Agustus 2026 19:00
Artikel

Membangun Integritas di Tengah Budaya Manipulasi

2 Agustus 2026 19:33
Artikel

Menghidupkan Kembali Budaya Membaca di Kalangan Umat Islam

1 Agustus 2026 11:24
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?