Menulis itu proses berfikir, tak heran bila penulis yang handal biasanya cerdas. Sebab, ia dibiasakan untuk berpikir tentang banyak hal
Oleh: Mahladi Murni
Hidayatullah.com | MENULIS itu bukan sekadar hobi, sebagaimana pemain musik yang ketika muncul keinginan untuk bermain musik, ia tinggal mengambil alat musik dan mulai berdendang. Menulis tak seperti itu.
Ketika muncul keinginan untuk menulis, ia tak cukup hanya mengambil pena, lalu menggoyang-goyangkannya di atas kertas. Tak cukup!
Ia harus berpikir terlebih dahulu tentang: “Saya mau menulis apa?” Jawaban sederhana dari pertanyaan tersebut tentu: “Tulislah apa yang engkau ketahui, dan jangan menulis apa yang tidak engkau ketahui.”
Jadi, seorang penulis dituntut untuk tahu tentang banyak hal. Ini syarat pertama agar ia bisa menulis dengan mudah. Jika ia sedikit tahu maka sedikit pula yang bisa ia tulis.
Cara paling mudah untuk mengetahui banyak hal ya dengan membaca. Bahkan, tak sekadar membaca, ia juga harus bisa mengjngat, menganalisa, serta menghubungkan satu peristiwa dengan peristiwa yang lain.
Cara lain untuk mengetahui banyak hal adalah dengan bertanya. Datangilah orang-orang yang memiliki informasi atau mampu menjawab pertanyaan secara benar. Galilah data sebanyak mungkin agar kita menjadi banyak tahu.
Cara yang lebih menantang adalah dengan melibatkan diri kita ke dalam peristiwa yang akan kita tulis. Setidaknya, kita berada di tempat peristiwa itu terjadi sehingga mata dan telinga kita menangkap semua data di sana.
Nah, jika kita sudah tahu apa yang hendak kita tulis, apakah semua menjadi mudah? Belum! Kita tetap harus berpikir.
Apalagi? Tentang alur. Sebab, menulis laksana bertutur: Ia memulai tulisan dari mana? Menuju ke mana? Dan, berakhir di mana? Itulah alur.
Satu peristiwa bisa mengandung banyak alur. Tergantung dari sudut pandang mana sang penutur melihatnya.
Alur yang tak biasa tentu akan menarik. Sebab, sudah jamak diketahui bahwa sesuatu yang berbeda akan menarik banyak perhatian.
OK. Jika bahan sudah kita peroleh, alur sudah kita buat, apakah semua menjadi mudah? Belum!
Sang penulis masih harus berpikir, yakni tentang bagaimana menulis tepat! Tepat dalam hal apa? Setidaknya ada dua. Pertama, tepat dalam memilih kata (atau diksi). Kedua, tepat dalam menyusun kalimat.
Tentang diksi, sebagi contoh, kita menulis kalimat seperti ini: Hidup tanpa cinta terasa hambar, bagaikan padang tandus yang tak ada tumbuhan di dalamnya.
Kalimat ini indah, tapi tidak tepat. Kata “hambar” tentu tak cocok bila disandingkan dengan kata “tandus”. Kata “hambar” lebih pas jika digunakan untuk menjelaskan rasa, sedang kata “tandus” lebih pas digunakan untuk menggambarkan keadaan.
Ini baru satu contoh. Ada banyak kejanggalan yang tanpa disadari dibuat oleh para penulis.
Adapun tepat dalam menyusun kalimat, tentu banyak berhubungan dengan tata bahasa. Ini penting! Jangan sampai kepercayaan pembaca hilang hanya gara-gara kita “tidak becus” menempatkan huruf besar dalam sebuah kalimat. Ini berbahaya!
Jadi, menulis itu proses berfikir. Tak heran bila penulis yang handal biasanya cerdas. Sebab, ia dibiasakan untuk berpikir tentang banyak hal.
Lalu, bagaimana dengan Anda? Seberapa besar tekad Anda untuk menaklukkan semua tantangan di atas?
Jika Anda benar-benar bercita-cita menjadi penulis handal, jangan pernah gantungkan pena. Teruslah berusaha, jangan berhenti!
Jika banyak yang menyerah, pastikan itu bukan Anda. Katakan kepada mereka, “Menulis itu berat, bro, cukup aku saja!” *
Penulis seorang wartawan