Perlu kembali dihayati bahwa urusan Palestina bukan hanya urusan warga Palestina atau urusan orang-orang Arab, melainkan urusan kaum muslim seluruh dunia
Oleh: Ali Mustofa Akbar
Hidayatullah.com | DI BALIK Palestina memanasnya kembali masalah penjajahan Zionis Israel terhadap Bumi Palestina –yang sejatinya juga berarti ‘perang’ melawan umat Islam seluruh dunia— ada banyak hikmah dan pelajaran yang bisa kita petik dari bumi Para Nabi tersebut.
Pertama: Kebenaran hadits Nabi ﷺ, bahwa umat Islam akan memerangi Yahudi sebelum datangnya hari kiamat. Rasulullah ﷺ bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُقَاتِلَ الْمُسْلِمُونَ الْيَهُودَ فَيَقْتُلُهُمْ الْمُسْلِمُونَ حَتَّى يَخْتَبِئَ الْيَهُودِيُّ مِنْ وَرَاءِ الْحَجَرِ وَالشَّجَرِ فَيَقُولُ الْحَجَرُ أَوْ الشَّجَرُ يَا مُسْلِمُ يَا عَبْدَ اللَّهِ هَذَا يَهُودِيٌّ خَلْفِي فَتَعَالَ فَاقْتُلْهُ إِلَّا الْغَرْقَدَ فَإِنَّهُ مِنْ شَجَرِ الْيَهُودِ
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Kiamat tidak akan terjadi sehingga kaum Muslimin memerangi Yahudi, lalu kaum Muslimin akan membunuh mereka sampai-sampai setiap orang Yahudi bersembunyi di balik batu dan pohon, tetapi batu dan pohon itu berkata, ‘Wahai Muslim, wahai hamba Allah, ada orang Yahudi di belakangku, kemarilah dan bunuhlah dia.’ Kecuali (pohon) gharqad karena ia adalah pohon Yahudi.” (HR: Muslim).
Namun, batu dan pohon berkata;
تُقَاتِلُكُمُ الْيَهُودُ فَتُسَلَّطُونَ عَلَيْهِمْ ثُمَّ يَقُولُ الْحَجَرُ يَا مُسْلِمُ هَذَا يَهُودِيٌّ وَرَائِي فَاقْتُلْهُ
“Kaum Yahudi, nanti akan memerangi kalian. Akan tetapi kalian (diberi kekuatan) menguasai (mengalahkan) mereka, kemudian (sampai) batu pun berkata : “Wahai Muslim, ada orang Yahudi di belakangku, bunuhlah dia.“ (HR: Muslim & Ahmad)
Para ahli ilmu menyebutkan hadits ini semakin relevan di abad sekarang. Sebab pada abad-abad sebelumnya mereka bukanlah musuh yang sebanding dengan umat Islam, malah justru mereka lama dinaungi oleh keadilan Islam yang pernah berkuasa kurang lebih 13 abad lamanya.
Baru setelah zionis Yahudi berhasil menjajah Palestina dan mendirikan “negara ilegal”, mereka menempatkan posisinya sebagai musuh utama yang harus diperangi oleh umat Islam.
Kedua: Perlawanan (jihad difa’i) oleh para mujahidin menunjukkan sikap kesatria dan kepahlawanan.
Mereka telah meneruskan tugas estafet para pendahulu yang telah berusaha menjaga dan membebaskan Masjid Al-Aqsha. Daya juang penduduk Palestina semoga bisa menginspirasi umat Islam sedunia agar bangkit dan melawan segala bentuk penjajahan.
Termasuk penjajahan dalam bentuk non-fisik yang saat ini tengah melanda di negeri-negeri muslim di berbagai belahan dunia karena tidak diterapkannya Islam dalam segala aspek kehidupan.
Khusus untuk penjajahan non fisik, hal ini terjadi baik itu yang dijajah dengan hard power maupun dengan soft power. Atau biasa juga disebut gazwul fikr (perang pemikiran).
Barat menghembuskan opini dengan memalui tangannya sendiri maupun meminjam tangan agen-agennya bahwa hukum sekulerisme, yakni pandangan hidup tentang harus dipisahkannya agama dengan kehidupan publik. Sekulerisme ini memiliki banyak turunan, diantaranya: sistem teritorial nation state yang ikatannya nationalism.
Asal Usul Nation State
Pada masa itu, Pasukan Salib menyadari betul bahwa kekuatan Islam dan keyakinannya adalah akidah Islam. Sepanjang kaum muslimin berkomitmen dengan kuat pada Islam dan Al-Quran, institusi penerap Islam dan penghimpun kekuatan umat Islam tidak akan pernah hancur.
Kemudian di akhir abad ke 16, mereka mulai membentuk pusat misionaris perdana di Malta dan membuat markasnya untuk melancarkan serangan misionarisnya terhadap umat Islam.
Gerakan mereka awalnya dengan berkedok lembaga-lembaga pendidikan dan ilmu pengetahuan. Hingga di abad 19, Beirut sudah menjadi pusat aktivitas misionaris.
Mereka memiliki dua agenda penting: pertama, memisahkan orang Arab dari Utsmaniyah. Kedua, membuat kaum muslimin merasa terasing dari ikatan Islam.
Pada abad 19 ini mereka mulai menghembuskan nasionalisme Arab diantara rakyat. Melalui pernyataan-pernyataan dan selebaran-selebaran, persekutuan itu menyerukan kemerdekaan politik orang Arab, khususnya mereka yang tinggal di Suriah dan Lebanon.
Dalam literaturnya, mereka berulangkali melakukan propaganda bahwa Turki merebut kekuasan Islam dari orang Arab, melanggar syariah, dan, mengkhianati agama Islam.
Akhirnya hal ini melahirkan benih-benih nasionalisme ditandai pada tahun 1916 ketika Inggris memerintahkan seorang agennya dari Makkah untuk melancarkan pemberontakan Arab terhadap Khilafah Usmani.
Upaya ini berhasil dalam membagi tanah Arab dari Ustmani dan kemudian menempatkan tanah itu di bawah bayang-bayang Prancis dan Inggris. Di saat yang sama, di Turki juga sedang dimainkan opini nasionalisme Turki yang di antara digawangi oleh gerakan Turki Muda.
Sehingga pada tahun 1908 mengakibatkan diusirnya Khalifah Abdul Hamid II. Pada masa sekarang, nasionalisme telah menyebar dan terus berusaha dipertahankan di negeri-negeri muslim dengan berbagai cara. (Syaikh Abdul Qadim Zallum).
Ketiga: Apa yang terjadi di Palestina juga menunjukkan secara gamblang kebatilan bentuk kenegaran nation-state yang merupakan produk Barat turunan dari sistem sekulerisme.
Sebagaimana spirit pembelaan umat Islam di seluruh dunia yang tampak membara terjadi protes dimana-mana.
Sungguh terharu ketika beberapa laman media khususnya media Arab meliput bagaimana ribuan warga Yordania melakukan longmarc menuju Gaza yang berjarak kurang lebih 140 KM dengan Gaza, meski belum ada kabar terbaru apakah semangat dan ketulusan niat mereka bisa menembus tempok nation state itu atau tidak untuk masuk Palestina.
Pun di Iraq, jutaan kaum muslim tumpah ruah ke jalan menunjukkan pembelaannya untuk Al-Aqsha. Di kabarkan pula Taliban harus meminta ijin kepada 3 negara yang harus dilalui untuk menuju Palestina.
Tak ketinggalan, di negeri ini, terjadi unjuk rasa diberbagai tempat. Tembok penghalang itu perlu untuk druntuhkan.
Keempat: Memanasnya Palestina juga menjadi ujian bagi umat Islam seluruh dunia termasuk para penguasanya, bagaimana sikap mereka, apakah mendukung perjuangan rakyat Palestina atau justru mendukung dan punya andil membantu penjajah zionis Yahudi?
Wa bil khusus bagi Penguasa-Penguasa yang muslim, peristiwa ini juga menunjukkan wajah asli mereka apakah mereka benar-benar membela Palestina, atau hanya retorika belaka tanpa aksi yang nyata seperti mengirim pasukan untuk menolong saudaranya, ataukah terkena penyakit Al-Wahn (cinta dunia dan takut mati) sehingga enggan menolong saudaranya dengan berbagai dalih?
Sebagaimana dalam sebuah hadits, Rasulullah ﷺ bersabda:
Rasulullah ﷺ bersabda;
عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « يُوشِكُ الأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا ». فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ « بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزِعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِى قُلُوبِكُمُ الْوَهَنَ ». فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهَنُ قَالَ « حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ ».
“Dari Tsauban, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Hampir saja para umat (yang kafir dan sesat, pen) mengerumuni kalian dari berbagai penjuru, sebagaimana mereka berkumpul menghadapi makanan dalam piring”. Kemudian seseorang bertanya,”Katakanlah wahai Rasulullah, apakah kami pada saat itu sedikit?” Rasulullah berkata,”Bahkan kalian pada saat itu banyak. Akan tetapi kalian bagai sampah yang dibawa oleh air hujan. Allah akan menghilangkan rasa takut pada hati musuh kalian dan akan menimpakan dalam hati kalian ’Wahn’. Kemudian seseorang bertanya,”Apa itu ’wahn’?” Rasulullah berkata,”Cinta dunia dan takut mati.” (HR: Abu Daud dan Ahmad).
Cinta dunia dan takut mati bisa bermakna luas dalam kasus Palestina, bagi penguasa ia bisa takut kehilangan kekuasannya karena menolong saudaranya, atau lebih takut sama Penjajah ketimbang sama Allah Swt.
Demikian pula bagi kaum muslim pada umumnya, karena cinta dunia bisa membuatnya lalai dalam membela saudaranya.
Akar Masalah
Akar masalah dari konflik di Palestina tak lain adalah adanya pendudukan atau penyerobotan sebagian besar wilayah Palestina secara ilegal oleh penjajah Zionis Yahudi. Maka selama penjajahan ini belum dihapuskan, konfikpun tak bisa dielakkan.
Kita tak bisa menyalahkan Hammas misalnya kemarin yang memulai penyerangan karena substansinya mereka sedang melakukan jihad defensif sebagai upaya mengusir penjajah.
Sebagaimana yang dilakukan oleh para pahlawan di negeri ini ketika dijajah oleh penjajah selama ratusan tahun, perlawanan maupun sergapan-sergapan terhadap Penjajah juga berkobar diberbagai wilayah.
Usir Zionis
Karena akar permasalahan di Palestina adalah bercokolnya penjajah Zionis di bumi suci Para Nabi tersebut, maka solusinya ialah mereka para penjajah harus diusir angkat kaki dari Palestina.
Perlu juga diketahui bahwa solusi di Palestina tidak cukup bantuan berupa makanan maupun obat-obatan karena di palestina terdapat korban dan penjajah. Solusi untuk korban berupa obat-obatan, makanan, dst. Sedangkan solusi untuk penjajah sudah semestinya dengan diusir.
Namun kita tahu bahwa penjajah Zionis tidak sendiri. Di belakang mereka ada Amerika dan sekutunya yang saat ini para penguasanya sudah nyata-nyata membantu dengan pengiriman militer maupun persenjataan.
Di satu sisi para penguasa di negeri-negeri muslim bisa dikatakan belum melakukan aksi nyata, dan umat Islam tidak bisa berbuat banyak disebabkan faktor utamanya yakni diterapkan sistem sekulerisme diberbagai negeri Muslim yang memiliki turunan nation state, sistem ini secara konkrit menjadikan umat Islam lemah tercabik-cabik menjadi negeri-negeri kecil ibarat anak ayam kehilangan induknya.
Maka solusi tuntasnya ialah umat Islam butuh seorang pemimpin yang menerapkan hukum-hukum Allah, yang dengan ijin Allah akan menghilangkan sekat-sekat nasionalisme, menyatukan umat Islam, menghimpun potensi kekuatan umat Islam serta sebagai perisai umat.
Itulah khalifah pemimpin dalam negara khilafah rasyidah. Itu adalah janji Allah, tugas kita ikut kontribusi dalam perjuangan. Sungguh pertolongan Allah itu dekat.
Semoga saudara kita di Palestina yang gugur mendapatkan kemuliaan syahid dari sisi Allah serta memperoleh ganjaran surga tertinggi, demikian yang sedang diuji dengan luka-luka diganjar limpahan pahala. Dan semoga keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran dan keistiqoman oleh Allah Swt.
Palestina adalah kita
Perlu kembali dihayati oleh kita sebagai seorang muslim bahwa urusan Palestina bukan hanya urusan warga Palestina atau urusan orang-orang Arab, melainkan urusan kaum muslim seluruh dunia.
Karena persaudaraan dalam Islam tak mengenal sekat-sekat batas-batas teritorial maupun persaudaraan yang hanya diikat dengan ikatan nasionalisme. Banyak nash-nash syara’ yang menunjukan perintah bagi kita untuk peduli dan membela saudara muslim yang didzalimi. Terlebih disana ada masjid ketiga yang lebih diistimewakan Allah, yakni Masjid Al-Aqsha, kiblat pertama umat Islam dan tempat Mi’raj Nabi ﷺ.
Begitulah, meski Barat berusaha menggiring opini seolah-olah urusan konflik di Palestina adalah urusan Zionis Israel dengan Palestina, lalu mencoba dikerucutkan lagi seolah-olah hanyalah antara “Israel” dengan Hammas. Yakinlah urusan palestina juga urusan kita. Karena #PalestinaAdalahKita. Wallahu A’lam.*
Pemerhati Sosial-Politik