Hidayatullah.com– Organisasi-organisasi bantuan dan pejabat pemerintah di Malawi mengatakan sedikit 60 orang tewas akibat kerusakan yang ditimbulkan badai tropis Freddy.
Rekaman-rekaman video dari kamera ponsel menunjukkan banyak rumah atapnya rusak dan air mengalir dengan sangat deras dan sangat berbahaya di daerah perkotaan.
Jalan-jalan yang dilintasi angin besar itu banyak yang terputus, demikian pula aliran listrik dan jalur komunikasi.
Berapa besar dampak kerusakan yang ditimbulkan badai itu belum jelas karena sejumlah daerah masih terisolasi, lapor BBC.
Angin besar itu menghantam negara tetangga Mozambique sebagai siklon pada hari Ahad untuk kedua kalinya dalam kurun kurang dari satu bulan.
Mozambique dan Malawi hari Senin (13/3/2023) menghitung kerugian yang diakibatkan badai tropis Freddy, yang sudah menewaskan total lebih dari 100 orang dan melukai banyak lainnya, lapor Reuters.
Freddy merupakan salah satu badai tropis terkuat yang pernah tercatat terjadi di belahan selatan Bumi dan bisa jadi merupakan siklon tropis terpanjang durasinya, menurut World Meteorological Organization.
Menurut pemantauan, badai tropis Freddy berawal di perairan sebelah selatan Indonesia di sekitar Nusa Tenggara pada 6 Februari. Angin kemudian bergerak ke arah barat melintasi Samudera Hindia selama 19 hari dan mendarat di Madagaskar, Mozambique, lalu Malawi. Jarak yang ditempuh angin itu hampir 5.000 mil, dan angin mengumpulkan kekuatan di sepanjang perjalanannya.*