Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Berita

Korea Selatan Kekurangan Dokter Anak Pasien Antre dan Sekarat

Ama Farah
Terakhir diupdate: 7 Juli 2023 11:19 11:19 am
Ama Farah
Dipublikasikan 7 Juli 2023 11:19
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com– Korea Selatan, salah satu negara paling maju di Asia, kekurangan dokter anak, dan sementara rumah sakit tidak dapat mengisi kekosongan pasien antre membuat janji dan nyawa anak-anak sekarat saat mencari pertolongan medis.

Jumlah klinik dan rumah sakit di ibukota, Seoul, turun 12,5% selama kurun lima tahun sampai 2022 menjadi hanya 456. Pada periode yang sama, jumlah klinik psikiatri naik 76,8% dan anestesiologi naik 41,2% menurut Seoul Institute, sebuah wadah pemikir bidang administrasi negara.

Akar permasalahan adalah rendahnya tingkat kelahiran yang hanya menjadi 0,78 pada tahun 2022 dikombinasikan dengan kegagalan sistem asuransi untuk beradaptasi dengan kondisi yang ada. Akibatnya pediatri kekurangan sumber daya dan dokter menghindari bidang yang menurut mereka tidak memiliki masa depan itu, kata tujuh dokter pediatrik kepada kantor berita Reuters.

Bagi orang tua, kekurangan jumlah dokter anak berarti antrean menunggu pengobatan untuk anak yang sakit semakin panjang 

“Kami harus menunggu duabpekan,” kata Lee Bo-mi, seorang ibu berusia 35 tahun yang anak lelakinya berusia 3 tahun sakit, di Healthy Children’s Hospital di Seoul. “Daya sangat ketakutan. Saya merasa langit runtuh.”

Baca Juga

Jelang Proses Pemakaman Ayatullah Ali Khamenei, Jenderal Garda Revolusi Keluar dari Persembunyian
Sindikat Pakistan Selundupkan Plasenta Manusia untuk Injeksi Anti Penuaan
Otoritas Eropa Masih Imbau Maskapai Penerbangan Hindari Wilayah Udara Iran dan Timur Tengah
Dihantam Rudal di Selat Hormuz Kapal Kontainer CMA CGM akan Jadi Besi Rongsokan
Dua Pria Rumania Dibui karena Menikam Jurnalis Iran di London atas Suruhan Teheran

Dr Song Dae-jin di Korea University Guro Hospital mengaku khawatir kekurangan staf tidak lama lagi akan melemahkan kemampuan timnya untuk memberikan pelayanan darurat.

“Dengan keadaan seperti sekarang ini, kami tidak akan bertahan sampai akhir tahun,” kata Song. “Tidak masalah jika sakit ringan tidak terpantau satu atau dua hari, tetapi konsekuensinya terhadap penyakit serius atau pasien darurat apabila terlambat ditangani maka akan sangat berbahaya.”

Pada bulan Mei, seorang anak laki-laki berusia lima tahun penderita infeksi pernapasan meninggal setelah gagal mendapatkan tempat tidur di rumah sakit, peristiwa yang memicu kemarahan masyarakat.

“Pasien sekarat karena harus berpindah-pindah dari ruang darurat satu ke lainnya, sekarat padahal sakitnya tidak serius, ini adalah parodi,” kata Dr Choi Yong-jae, wakil presiden Asosiasi Rumah Sakit Anak Korea.

Situasinya begitu mengkhawatirkan sehingga sebagian pasangan di Korea Selatan ragu-ragu untuk memiliki atau menambah momongan.

“Saya khawatir” kata Kim Eun-ji, ibu dari seorang anak lelaki, menyinggung soal kemungkinan menambah anak.

“Apabila jumlah rumah sakit anak berkurang dan jumlah dokter anak menurun, pasti akan sulit untuk memperoleh perawatan bagi anak-anak,” kata wanita berusia 34 tahun itu seperti dilansir Reuters Kamis (6/7/2023).

Para dokter mengatakan rendahnya upah juga menjadi masalah tersendiri bagi dokter anak sebab sistem asuransi yang ada saat ini belum disesuaikan dengan keadaan di mana jumlah pasien anak berkurang. Ketika bayi-bayi tumbuh menjadi besar dan dewasa sementara angka kelahiran sangat rendah, itu artinya dokter anak jumlah pasiennya juga berkurang. Dokter anak bisa mempertahankan biaya pemeriksaan medis pada harga rendah apabila jumlah pasien mereka banyak, tetapi tarif murah tidak dapat dipertahankan jika kondisinya seperti sekarang ini.

Data dari Health Insurance Review and Assessment Service menunjukkan dokter anak di Korea Selatan merupakan fokter spesialis dengan bayaran terendah, 57% lebih rendah dari rata-rata gaji dokter.

Masalah kekurangan staf ditangani dengan cara menutup poli anak oleh sejumlah rumah sakit.

Rumah Sakit Sowha, rumah sakit anak tertua di Korea Selatan, menghentikan layanan poli anak hari Sabtu siang dan Ahad untuk pertama kalinya dalam kurun 77 tahun disebabkan kekurangan staf medis.

Rumah sakit lain mengurangi jam praktik dan bahkan menutup ruang darurat anak.

“Di luar negeri, pemerintah memberikan dana yang cukup untuk menjaga agar rumah sakit tetap beroperasi, bahkan jika hanya ada 20 pasien sehari,” kata Dr Lim Hyun-taek, presiden Asosiasi Pediatri Korea, yang mengatakan biaya konsultasi dokter anak di Korea Selatan naik tidak signifikan selama 30 tahun terakhir.

“Biayanya sekitar $10 per perawatan di Korea jadi klinik harus menangani sekitar 80 pasien sehari.”

Sebagai perbandingan, di Australia biaya konsultasi standar awal sekitar US$225, sementara di rumah sakit anak di Amerika Serikat $208 per jam menurut informasi yang tertera di website Nationwide Children’s Hospital.*

Redaktur: Ama Farah
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:dokter anakKorea Selatan
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Samarra, Kisah Ibu Kota Baru Abbasiyah
Tulisan selanjutnya Ratusan Purnawirawam TNI-Polri Serempak Dukung Anies sebagai Ikon Perubahan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Lentera Hidup

Teladan Jusuf Wibisono : Pejabat Masyumi yang Berintegritas Tinggi

Lentera Hidup
30 Juni 2026 10:26
OKI mengutuk RUU Penjajah ‘Israel’ Melarang Seruan Azan
MTQ Nasional 2026 di Semarang Siap Jadi Panggung Syiar Islam dan Budaya Nusantara
Jelang Proses Pemakaman Ayatullah Ali Khamenei, Jenderal Garda Revolusi Keluar dari Persembunyian
Rusia Sempat Dituduh, Pipa Gas Nord Stream Ternyata Disabotase Tentara Ukraina

Terbaru

  • Jelang Proses Pemakaman Ayatullah Ali Khamenei, Jenderal Garda Revolusi Keluar dari Persembunyian
  • Sindikat Pakistan Selundupkan Plasenta Manusia untuk Injeksi Anti Penuaan
  • Otoritas Eropa Masih Imbau Maskapai Penerbangan Hindari Wilayah Udara Iran dan Timur Tengah
  • Dihantam Rudal di Selat Hormuz Kapal Kontainer CMA CGM akan Jadi Besi Rongsokan
  • Dua Pria Rumania Dibui karena Menikam Jurnalis Iran di London atas Suruhan Teheran
  • Sebuah Kafe di Damaskus Dibom, Sepuluh Orang Tewas
  • Psikolog UGM Ini Paparkan Sejarah APA “Normalisasi Homoseksual”
  • BEM Psikologi UI Sebut “Homoseksualitas Normal”, Psikolog Memberi Bantahan
  • OKI mengutuk RUU Penjajah ‘Israel’ Melarang Seruan Azan
  • DSKS Desak DPRD Solo Dorong Regulasi Tegas soal LGBT, DPRD Siap Kaji

Mungkin Anda Juga Suka

Berita

Sebuah Kafe di Damaskus Dibom, Sepuluh Orang Tewas

4 Juli 2026 09:52
Berita

Psikolog UGM Ini Paparkan Sejarah APA “Normalisasi Homoseksual”

3 Juli 2026 23:58
Berita

BEM Psikologi UI Sebut “Homoseksualitas Normal”, Psikolog Memberi Bantahan

3 Juli 2026 22:30
Berita

DSKS Desak DPRD Solo Dorong Regulasi Tegas soal LGBT, DPRD Siap Kaji

3 Juli 2026 21:03
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?