Hidayatullah.com – Ratusan warga Australia melakukan demonstrasi protes terhadap sebuah kapal kargo “Israel” dan mencegahnya kapal yang diduga mengangkut senjata ke Israel berlabuh di Port Botany, Sydney.
Para pengunjuk rasa yang berkumpul di pelabuhan mengatakan mereka berhasil memaksa kapal “Israel” untuk menjadwal ulang kedatangannya.
Para pengunjuk rasa pro-Palestina melambai-lambaikan bendera Palestina dan meneriakkan slogan-slogan dari tepi pantai, sementara yang pengunjuk rasa lain berteriak dari atas jet ski di atas air di mana kapal Contship Dax, yang dimiliki oleh perusahaan Israel, ZIM, dijadwalkan tiba pada tengah hari, lapor ABC News.
Gerakan Keadilan Palestina untuk Sydney dan Serikat Buruh untuk Palestina, penyelenggara protes, menyatakan bahwa demonstrasi tersebut merupakan “langkah pertama dari aksi melawan perusahaan pelayaran Israel ZIM.”
‘Mulailah menghantam mereka secara ekonomi di tempat yang menyakitkan’
Berbicara kepada para peserta unjuk rasa, Paddy Gibson dari Serikat Pekerja untuk Palestina berjanji untuk merugikan “Israel” secara finansial. Aksi ini sejalan dengan gerakan aksi boikot “Israel” di seluruh dunia.
“Mereka ada di setiap pelabuhan di dunia, yang berarti kita bisa melawan mereka di setiap pelabuhan di dunia dan membuat mereka bertekuk lutut,” ujar Gibson seperti dikutip oleh media, dan menambahkan, “Mulailah menghantam mereka secara ekonomi di tempat yang menyakitkan.”
Sebelumnya, bentrokan terjadi antara pengunjuk rasa pro-Palestina dan pro-Israel pada Jumat malam di Melbourne, menyusul dugaan pembakaran di sebuah toko burger pro-Palestina.
Bentrokan antar pengunjuk rasa itu terjadi di dekat toko burger, dan polisi menggunakan semprotan merica untuk membubarkan mereka, demikian laporan televisi SBS.
Setidaknya satu orang mengalami luka ringan setelah terkena lemparan batu, sementara satu orang disemprot merica dan dikeluarkan dari area tersebut.
Hash Tayeh, pendiri jaringan burger tersebut, menyebut kebakaran tersebut sebagai kejahatan kebencian setelah menghadiri aksi unjuk rasa pro-Palestina.
“Dua minggu yang lalu, kami mulai menerima ancaman,” kata Tayeh, dilansir TRT World.*