Hidayatullah.com– Ribuan pelajar di Australia memilih bolos, tidak masuk sekolah, demi mengikuti aksi protes perubahan iklim School Strike 4 Climate dengan berbekal surat keterangan dari dokter yang menyatakan mereka “sakit”.
Para pelajar itu menyeru diambilnya tindakan yang lebih nyata guna mengatasi pemanasan global, sementara negara mereka kembali akan menghadapi musim panas yang disertai berbagai macam bencana alam.
Ditandatangani oleh tiga ilmuwan terkemuka Dr David Karoly, Dr Nick Abel dan Dr Lesley Hughes, surat tersebut tersedia online untuk diunduh para pelajar.
‘Surat dokter’ itu menyatakan, “Saya menganjurkan mereka cuti sakit satu hari untuk memprotes planet yang sakit.”
Dikatakan pula bahwa mereka tidak layak bersekolah karena mengalami “kecemasan” akibat kelambanan pemerintah, “stres” akibat dampak perubahan iklim, dan “perasaan putus asa” tentang masa depan mereka.
Namun, sebagian otoritas negara bagian mengatakan surat itu tidak sah.
Surat tersebut bukan merupakan sertifikat medis formal, dan departemen pendidikan di negara bagian New South Wales dan Victoria mengatakan surat tersebut tidak akan diterima di sekolah mereka.
Menteri Pendidikan Jason Clare juga mengatakan para pelajar tidak boleh menghadiri aksi mogok hari Jumat. tersebut.
Namun para pelajar yang mengikuti protes di sembilan kota mengatakan tanggapan pemerintah menunjukkan kegagalan untuk menanggapi dengan serius kekhawatiran mereka.
“[Mereka] mempertaruhkan masa depan kami dengan menyetujui [proyek] batubara dan gas baru di Australia,” kata siswa kelas 10 Joey Thompson kepada Australian Broadcasting Corporation di Melbourne pada hari Jumat (17/11/2023).
Di Sydney, pengunjuk rasa meneriakkan kata “memalukan” di luar kantor Menteri Lingkungan Hidup Tanya Plibersek.
Remaja berusia 16 tahun Min Park mengatakan kepada Australian Associated Press bahwa dia mengikuti aksi mogok (bolos sekolah) itu karena keputusan Menteri Plibersek yang menyetujui proyek penambangan batubara dan eksplorasi gas baru.
“Dia lebih mendengarkan para pelobi bahan bakar fosil dan bukannya melakukan tugasnya dan mengemban tanggung jawab untuk melindungi kesehatan planet ini,” katanya.
Australia kerap dihujani kritik internasional karena dianggap lamban dalam penanganan masalah perubahan iklim.
Bermula di Swedia, School Strike 4 Climate (SS4C) adalah gerakan pelajar internasional yang sengaja membolos pada hari Jumat untuk mendesak diambilnya kebijakan politik guna mengatasi perubahan iklim.
Demonstrasi pada Jumat ini adalah yang ke-11 yang digelar di Australia, dan yang terbesar sejak 2019 ketika diperkirakan 300.000 orang turun ke jalan di seluruh penjuru negeri.
Aksi digelar setelah mantan diplomat dan aparatur negara Gregory Andrews terpaksa mengakhiri aksi mogok makan di luar Parliament House di Canberra. Andrews menolak untuk makan sampai pemerintah mengumumkan status darurat iklim, dan pada Jumat pagi ini dia dilarikan ke rumah sakit.*