Hidayatullah.com– Diperkirakan 500 bekas prajurit elit Afghanistan yang pernah bertempur bersama Inggris memenuhi syarat untuk datang dan bermukim di Inggris setelah sebelumnya permohonan mereka ditolak.
Berdasarkan informasi baru, ditemukan bahwa sekitar seperempat dari 2.000 permohonan yang ditolak diajukan oleh para veteran yang pernah dibayar dan dipekerjakan oleh pemerintah Inggris di Afghanistan. Padahal menurut pemerintahan Inggris sebelumnya, yang dikuasai Konservatif, bukti informasi semacam itu tidak ada.
Menteri Angkatan Bersenjata Inggris Luke Pollard, hari Senin (14/10/2024), mengatakan kepada majelis rendah parlemen Inggris House of Commons bahwa peninjauan ulang menemukan adanya ketidakberesan pada pemerintahan sebelumnya dalam penanganan pemukiman bagi orang-orang Afghanistan yang pernah bekerja untuk Inggris, lansir The Guardian Senin (14/10/2024).
Sebagian warga Afghanistan bersembunyi dari Taliban, yang kembali berkuasa di Afghanistan sejak penarikan pasukan koalisi Barat pimpinan Amerika Serikat pada Agustus 2021. Beberapa ratus orang melarikan diri ke Pakistan, di mana mereka berisiko dideportasi kembali ke Afghanistan. Enam orang dikabarkan dibunuh karena pernah bekerja sama dengan Inggris.
Mereka itu termasuk anggota pasukan elit Afghanistan 333 dan 444, yang dikenal sebagai Triples, yang bertempur bersama dan bekerja sama dengan pasukan Inggris, termasuk pasukan elit SAS, selama lebih dari satu dekade operasi militer Inggris di Afghanistan.
SAS mempunyai hak veto terhadap keputusan apakah veteran Afghanistan dapat datang ke Inggris, tetapi sumber-sumber pertahanan mengindikasikan bahwa hal ini bukanlah alasan pembatalan kasus-kasus tersebut – melainkan, penemuan catatan keuangan baru yang terlambat.
“Para pejabat kini telah mengkonfirmasi bahwa ada bukti pembayaran dari pemerintah Inggris kepada anggota unit spesialis Afghanistan, termasuk ‘CF triple three’ dan ‘ATF triple four’, dan bagi beberapa individu, yang mana hal ini menunjukkan adanya hubungan kerja langsung,” kata Pollard.
Pada bulan Februari, menteri angkatan bersenjata saat itu, James Heappey dari Partai Konservatif, mengatakan “kami tidak memiliki catatan pekerjaan atau pembayaran yang komprehensif” untuk anggota pasukan khusus Afghanistan. Dia mengatakan mereka telah melapor langsung kepada pemerintahan Afghanistan sebelumnya.
Muncul dugaan mengapa pemerintahan Inggris sebelumnya mengatakan tidak ada bukti perihal pembayaran tersebut, yaitu karena adanya penyelidikan publik perihal tuduhan bahwa SAS melakukan 80 pembunuhan di luar hukum di Provinsi Helmand antara tahun 2010 dan 2013. Secara teori, para veteran Afghanistan mungkin dapat memberikan bukti yang merugikan bagi SAS, oleh karenanya kehadiran mereka di Inggris tidak diinginkan.
Meskipun demikian, Pollard tidak menyalahkan pemerintahan Inggris sebelumnya, tetapi dia menuding ketidaklancaran arus informasi di antara departemen pemerintah.
Sejak penarikan pasukan asing dari Afghanistan pada 2021 dan peralihan kekuasaan ke Taliban, sebanyak 12.874 warga Afghanistan sudah diberikan izin tinggal tanpa batas waktu di Inggris – termasuk sekitar 400 anggota pasukan elit Afghanistan CF 333 dan ATF 444.*