Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Berita

Dinilai Promosikan LGBT+, MIT Minta Komdigi Blokir Google Chrome 

Ahmad
Terakhir diupdate: 22 Februari 2025 20:46 8:46 pm
Ahmad
Dipublikasikan 22 Februari 2025 20:45
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com—Masyarakat Informasi Teknologi (MIT) memprotes keras Google Chrome setelah menemukan fitur yang mempromosikan gerakan LGBT+. Menurut MIT, fitur meresahkan ini ada di menu kustomisasi tema dan sudah tersedia sejak 1 Juni 2022.

“LGBT merupakan perilaku penyimpangan sosial yang hanya menambah masalah baru di tengah kondisi moral dan sosial generasi muda yang kian terpuruk,” tegas Teuku Farhan, Direktur Eksekutif MIT dalam rilis yang diterima hidayatullah.com, Sabtu (22/2/2025).

MIT menilai, langkah Google  ini tidak sesuai dengan norma, moral, etika, agama, dan nilai yang dianut masyarakat Indonesia.

Sejak 2022, Google Chrome menawarkan tema kustomisasi buatan seniman LGBT+ sebagai bagian dari perayaan Bulan Kebanggaan (Pride Month). Tema-tema ini menggambarkan kehidupan dan pengalaman komunitas LGBT+.

Google mengatakan, ini bentuk merayakan keragaman dan inklusivitas. Tapi bagi MIT, ini justru jadi cara Google mempromosikan perilaku penyimpangan sosial yang tidak sesuai dengan norma, moral, etika, agama, dan nilai yang dianut di tengah-tengah masyarakat.

Baca Juga

Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK
PM Spanyol Sebut Rusia dan ‘Israel’ Sebarkan Hoaks Krisis Imigran Ceuta

Selain itu, MIT juga menemukan fakta mengejutkan bahwa Google ternyata belum terdaftar dan tidak tercantum dalam izin PSE asing di website resmi PSE Komdigi (diakses 21 Februari 2025, link: https://pse.komdigi.go.id/home/pse-asing). Padahal, perusahaan teknologi lain seperti Yahoo, Alibaba, dan Microsoft Bing sudah mematuhi aturan ini. Ini bukti bahwa Google beroperasi secara ilegal di Indonesia.

“Google tidak hanya mempromosikan nilai-nilai yang bertentangan dengan norma dan agama, tapi juga melanggar hukum dengan beroperasi tanpa izin PSE termasuk mencabut izin aplikasi game judi online yang samoai saat ini masih mendapat izin PSE. Ini menunjukkan lemahnya pengawasan pemerintah terhadap perusahaan teknologi asing,” tegas Farhan.

Ancaman bagi Generasi Muda

MIT juga mengingatkan dampak buruk promosi LGBT+ terhadap generasi muda. Saat ini, anak muda sudah dihadapkan pada berbagai masalah di dunia digital, mulai dari serangan siber, judi online, sampai konten-konten LGBT+ di media sosial dan aplikasi.

Pemerintah diharapkan tidak lengah dan harus lebih tegas menjaga kedaulatan ruang digital.

“Pemerintah harus bertindak tegas untuk melindungi generasi muda dari konten dan aplikasi yang melanggar hukum. Ini penting demi menyelamatkan moral generasi muda untuk mencapai cita-cita generasi emas 2045, bagaimana mungkin kita dapat mempersiapkan generasi muda Indonesia yang berkualitas, kompeten, dan berdaya saing tinggi sementara pemerintah lemah dalam mengawasi ruang digital yang aman bagi generasi muda.” tambah Farhan.

Desakan kepada Komdigi

MIT mendesak Komite Digital Nasional (Komdigi) untuk menolak tegas promosi LGBT+ di Google Chrome dan semua platform aplikasi yang dapat diakses di ruang digital Indonesia. Mereka juga meminta pemerintah memblokir Google Chrome jika Google tidak mencabut fitur tersebut.

“Kami minta Komdigi segera bertindak. Jika Google  masih peduli dengan generasi muda Indonesia, mereka harus mencabut fitur ini. Kalau tidak, pemerintah harus memblokir Google  Chrome,” tegas Farhan.

Google memang dikenal vokal mendukung gerakan LGBT+. Beberapa CEO perusahaan teknologi raksasa seperti Tim Cook (Apple), Satya Nadella (Microsoft), dan Sundar Pichai (Google ) juga sudah terbuka mendukung komunitas ini.

Tapi MIT menegaskan, dukungan global tidak boleh menginjak-injak nilai-nilai lokal. Menghormati keberagaman adalah menghormati keberagaman nilai adat, budaya dan agama yang dianut di daerah lain bukan memaksanya agar seragam. Dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung, pepatah ini juga berlaku di ruang digital.

“Kami menghargai keberagaman dan inklusivitas, tapi itu tidak boleh mengorbankan norma, moral, etika, dan agama yang jadi pondasi bangsa Indonesia,” tegas Farhan.

MIT mengajak semua pihak untuk bersama-sama menjaga ruang digital Indonesia dari konten yang tidak sesuai dengan nilai-nilai yang dianut masyarakat Indonesia yang memegang teguh nilai-nilai adat, budaya dan agama.

Mereka juga mendesak pemerintah segera bertindak tegas untuk melindungi generasi muda dan memastikan tercapainya cita-cita generasi emas 2045.

“Generasi muda adalah masa depan bangsa. Jangan biarkan mereka terpapar platform dan konten yang merusak moral dan nilai luhur yang bertentangan dengan identitas bangsa Indonesia sebagai bangsa yang beradab,” tutup Farhan.*

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Google ChromeLGBT+Masyarakat Informasi TeknologiMIT
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Menkomdigi: Indonesia Pengguna Internet Terbesar di Dunia
Tulisan selanjutnya Bongkar Pagar PIK 1, Menteri PKP:  “Tidak Boleh Ada yang Eksklusif di Negara Ini”

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Pelacur Thailand akan Kedatangan Pelanggan Potensial 5 Ribu Tentara Amerika

Berita
31 Agustus 2026 19:36
Sembunyikan Pisau di Kaos Kaki Pria Indonesia Terancam Hukuman Cambuk di Singapura
Mengapa Kolombia Ingin Pulihkan Hubungan dengan ‘Israel’?
Buka Muktamar NU ke-35, Presiden Prabowo: Jangan Sekali-Kali Lupakan Jasa Ulama
Lima Nama Bakal Caketum PBNU Disepakati, Ada Gus Kikin, Yahya Staquf hingga Kiai Zulfa

Terbaru

  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK
  • PM Spanyol Sebut Rusia dan ‘Israel’ Sebarkan Hoaks Krisis Imigran Ceuta
  • Irak Tolak Kehadiran Pasukan Koalisi AS, Harus Pergi pada 30 September
  • Pimpin APHIDA 2026-2030, Fadlurrahman: Bidik Penguatan Bisnis Jamaah hingga Pasar Global
  • DPP Hidayatullah Dorong APHIDA Perkuat Kolaborasi dan Jaringan Bisnis untuk Hidayatullah
  • Pelacur Thailand akan Kedatangan Pelanggan Potensial 5 Ribu Tentara Amerika
  • UEA Bantah Laporan Serangan di Pangkalan Udara Al Minhad

Mungkin Anda Juga Suka

Berita

Irak Tolak Kehadiran Pasukan Koalisi AS, Harus Pergi pada 30 September

31 Agustus 2026 20:47
Berita

Pimpin APHIDA 2026-2030, Fadlurrahman: Bidik Penguatan Bisnis Jamaah hingga Pasar Global

31 Agustus 2026 20:11
Berita

DPP Hidayatullah Dorong APHIDA Perkuat Kolaborasi dan Jaringan Bisnis untuk Hidayatullah

31 Agustus 2026 20:04
Berita

UEA Bantah Laporan Serangan di Pangkalan Udara Al Minhad

31 Agustus 2026 18:22
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?