Hidayatullah.com – Ketua Umum DPP Hidayatullah, KH Naspi Arsyad, mendorong Asosiasi Pengusaha Hidayatullah (APHIDA) memperkuat kolaborasi, membangun jaringan bisnis berbasis kebutuhan, serta melahirkan lebih banyak entrepreneur dari kalangan kader muda Hidayatullah. Pesan itu ia sampaikan dalam sambutan pada Musyawarah Nasional Asosiasi Pengusaha Hidayatullah 2026.
Menurut Naspi, gerakan dakwah akan semakin masif apabila didukung oleh sumber daya manusia yang kuat sekaligus dibangun melalui kolaborasi dengan berbagai elemen masyarakat dan organisasi.
“Dakwah ini akan masif kalau didukung secara kualitatif. Artinya, kita butuh banyak orang,” ujar Naspi dalam sambutannya, di Gedung Pusat DPP Hidayatullah Cipinang Cempedak 1/14 Polonia, Jakarta Timur, Senin (31/8/2026).
Ia mengatakan, Hidayatullah memiliki komitmen untuk membuka ruang kolaborasi dan interaksi seluas-luasnya dengan berbagai organisasi kemasyarakatan. Sikap tersebut, kata dia, merupakan bagian dari amanat Rais Aam Hidayatullah, KH. Abdurrahman Muhammad.
Naspi mencontohkan, apabila Hidayatullah hadir di suatu daerah yang sebelumnya telah memiliki organisasi masyarakat Islam yang lebih dahulu eksis, maka Hidayatullah tidak perlu menempatkan diri sebagai pihak yang harus berada di depan.
“Kalau Hidayatullah ada di satu tempat dan di tempat itu sudah ada ormas-ormas yang lebih senior dari Hidayatullah, yang lebih dulu eksis dibandingkan Hidayatullah, maka Hidayatullah memposisikan diri sebagai makmum saja. Mengaminkan saja,” katanya.
Ia menilai semangat kolaborasi tersebut sejalan dengan sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Kemerdekaan Indonesia, menurut Naspi, tidak lahir dari perjuangan satu kelompok saja, melainkan dari kerja sama berbagai elemen masyarakat tanpa membedakan latar belakang.
“Indonesia ini bisa merdeka karena ada ruang kolaborasi, ada tautan antara para pejuang, yang itu tidak mengenal agama dan tidak mengenal kelompok,” ujarnya.
Karena itu, ia menegaskan dakwah dan gerakan Hidayatullah tidak akan berkembang secara optimal apabila berjalan sendiri. Menurutnya, diperlukan kerja bersama yang harmonis agar gerakan dakwah dapat menjadi kekuatan yang lebih besar.
“Hidayatullah meyakini bahwa gerakan dan dakwah yang menjadi mainstream kita hanya bisa eksis kalau kita membuka ruang kolaborasi secara harmonis,” tutur Naspi.
Dalam kesempatan tersebut, Naspi juga menegaskan bahwa Hidayatullah merupakan lembaga umat, bukan organisasi yang dibangun untuk kepentingan keluarga tertentu.
Ia menyebut salah satu keunikan Hidayatullah adalah keterbukaan dalam proses kaderisasi dan kepemimpinan. Menurutnya, keberadaan para kader yang bukan berasal dari keluarga pendiri justru menjadi bagian dari perjalanan organisasi. “Saya ini penumpang. Saya sadar diri, saya itu naik kapal di tengah jalan,” kata Naspi.
Ia menyampaikan, kepemimpinan dan perjalanan organisasi tidak semestinya hanya dilihat dari siapa yang tampak di permukaan. Banyak pihak yang memiliki kontribusi besar meskipun tidak selalu mendapatkan sorotan. “Memang ada yang ditakdirkan muncul, ada yang ditakdirkan tidak muncul,” ujarnya.
Naspi menegaskan bahwa Hidayatullah sejak awal telah diletakkan sebagai pesantren dan lembaga milik umat. Karena itu, keberlanjutan organisasi harus ditopang oleh kaderisasi yang terbuka dan berkesinambungan.
“Ini memang bukan pesantren keluarga. Hidayatullah bukan lembaga keluarga. Hidayatullah adalah lembaga umat, pesantren umat,” tegasnya.
Dalam konteks penguatan ekonomi organisasi, Naspi berharap APHIDA dapat menjadi salah satu kekuatan pendukung gerakan dakwah Hidayatullah melalui pembangunan jaringan bisnis yang lebih terstruktur.
Ia meminta APHIDA membantu DPP Hidayatullah mengembangkan jaringan bisnis berbasis supply and demand dengan menghubungkan potensi ekonomi yang dimiliki setiap daerah.
“Bagaimana DPP membangun jaringan bisnis berbasis supply and demand. Forum bisnis daerah. Kita harapkan APHIDA bisa me-make up organisasi, men-support organisasi di program ini,” katanya.
Naspi mengatakan, jaringan tersebut akan diarahkan untuk mengoptimalkan potensi ekonomi di berbagai wilayah Hidayatullah sehingga tidak berjalan secara terpisah-pisah.
“Tadi pagi saya sudah sampaikan secara khusus kepada Ketua DPW Nusa Tenggara Barat. DPP berniat mengembangkan jaringan bisnis DPP berbasis supply and demand,” ujarnya.
Sebagai tahap awal, ia menyebut tiga wilayah, yakni Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Selatan, akan menjadi bagian dari uji coba pengembangan jaringan tersebut. “Uji coba kita adalah NTB, Kaltim, Sulsel. Langkah awal sapi dan beras,” ungkap Naspi.
Menurutnya, pola tersebut diharapkan dapat berkembang menjadi jaringan bisnis yang nyata dan memberikan manfaat ekonomi bagi kader maupun organisasi.
Selain membangun jaringan bisnis antardaerah, Naspi meminta APHIDA memberikan perhatian khusus terhadap kader muda Hidayatullah.
Ia secara khusus menyebut Pemuda Hidayatullah (Pemhida), Muslimat Hidayatullah (Mushida), dan Gerakan Mahasiswa Hidayatullah (GMH) sebagai tiga kelompok yang perlu mendapatkan pembinaan kewirausahaan.
“Tolong APHIDA membina pemuda Hidayatullah, dan juga Muslimat Hidayatullah dan Gerakan Mahasiswa Hidayatullah,” katanya.
Naspi berharap APHIDA tidak sekadar menjadi wadah pengusaha, tetapi juga menjadi tempat tumbuhnya generasi entrepreneur baru di lingkungan Hidayatullah.
“Bagaimana lahir entrepreneur dari Pemhida, dari Mushida, dan dari GMA. Bagaimana caranya, saya yakin kawan-kawan di APHIDA akan paham mekanisme dan sistem yang akan dibangun,” ujarnya.
Ia menilai keberadaan pengusaha dan entrepreneur baru penting untuk memperkuat basis ekonomi organisasi sekaligus mendukung keberlanjutan gerakan dakwah.
“Harapan kita pergerakan Hidayatullah ke depan, support utamanya secara main power-nya itu dari tiga organisasi pendukung secara khusus,” tutur Naspi.
APHIDA Diharapkan Lebih Enerjik dan Masif
Naspi juga menyampaikan apresiasi kepada pengurus APHIDA periode sebelumnya atas kontribusi yang telah diberikan bagi organisasi. Ia berharap kepengurusan baru yang lahir dari Munas APHIDA 2026 dapat melanjutkan capaian tersebut sekaligus membawa pembaruan.
“Terima kasih kepada pengurus APHIDA periode 2020-2025. Mudah-mudahan menjadi sadaqah jariyah,” katanya.
Ia berharap kepengurusan APHIDA yang baru dapat bekerja lebih energik, masif, dan rapi tanpa meninggalkan berbagai kebaikan yang telah ditorehkan pengurus sebelumnya.
“Mudah-mudahan Munas kali ini melahirkan pengurus APHIDA yang baru, yang lebih energik, lebih masif, lebih rapi, tanpa meninggalkan kebaikan-kebaikan yang telah ditorehkan dan telah dilakukan oleh pengurus sebelumnya,” ujar Naspi.
Dengan demikian, kata dia, kesinambungan antara kepengurusan lama dan baru dapat menjadi kekuatan bagi APHIDA sekaligus mendukung gerakan Hidayatullah secara lebih luas.
“Sehingga kemudian menjadi kebaikan yang berkelanjutan dan menjadi sadaqah jariyah bagi pengurus periode 2020-2025,” pungkasnya.*




