Hidayatullah.com – Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sanchez mengatakan bahwa Rusia dan ‘Israel’ menyebarkan secara luas disinformasi atau hoaks terkait masuknya migran ke wilayah Ceuta yang terjadi bulan lalu.
Pedro Sanchez, mengutip penelitian oleh badan kebijakan luar negeri Uni Eropa (EEAS), menyebut aksi itu dilakukan dua negara untuk menyerang Spanyol.
“Setelah tanggal 30 dan 31 Juli, terjadi penyebaran rumor dan disinformasi yang berasal dari jejaring sosial yang terkait dengan Rusia maupun Israel, serta dari kelompok sayap kanan ekstrem internasional yang selalu memanfaatkan isu migrasi—tidak hanya untuk menyerang Spanyol, tetapi juga untuk menyerang dan memecah belah Eropa,” ujar Sanchez kepada radio Cadena Ser pada Senin (30/08/2026).
Perdana Menteri Spanyol ke-7 itu menyebut sudah “jelas” bahwa Rusia dan ‘Israel memanfaatkan krisis itu untuk mengkritik pemerintah Spanyol. Hal tersebut lantaran penentangan pemerintahnya terhadap invasi di Ukraina, serta agresi militer Zionis di Gaza, Libanon dan Iran.
Selain menuduh Rusia dan ‘Israel’, ia juga menyangkal keterlibatan Maroko dalam krisis tersebut.
“Tidak ada satu pun badan intelijen yang biasanya bekerja sama dengan pemerintah Spanyol yang meragukan—atau lebih tepatnya, mengisyaratkan keraguan—mengenai keterlibatan pihak berwenang Maroko dalam satu atau lain cara,” ujarnya.
Menurut Spanyol, sebagian besar dari sekitar 70.000 orang yang memasuki Ceuta telah dipulangkan ke Maroko.
Menteri Keamanan Nasional ‘Israel’ yang juga ekstremis Yahudi, Itamar Ben-Gvir, memanfaatkan krisis migrasi yang sedang berlangsung di wilayah kantong Spanyol, Ceuta, untuk kembali menyerukan pembersihan etnis di Gaza; ia secara sarkas mendesak Spanyol agar menampung warga Palestina yang terusir dari wilayah tersebut.
Dalam sebuah unggahan yang ditujukan kepada Sanchez, Ben-Gvir melontarkan ucapan selamat yang bernada sindiran atas apa yang disebutnya sebagai komitmen Sanchez dalam menyambut imigrasi dan “keberagaman manusia.”
Ben-Gvir lantas mendesak pemimpin Spanyol tersebut untuk membuka pintu negara dan memberikan suaka bagi penduduk Gaza yang—menurutnya—ingin beremigrasi, seraya menyebut hal itu sebagai kesempatan bagi Spanyol untuk menambah “keberagaman manusia” di negaranya.
Pesan tersebut merupakan upaya terselubung untuk mendorong pengusiran warga Palestina, yang dikemas sebagai ejekan terhadap pemerintah yang selama ini menjadi salah satu pengkritik paling keras di Eropa atas genosida ‘Israel’ di Gaza.*




