Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Berita

“No Kings” Menggema, Jutaan Orang Tolak Otoritarianisme Trump

Ahmad
Terakhir diupdate: 31 Maret 2026 07:17 7:17 am
Ahmad
Dipublikasikan 29 Maret 2026 07:03
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com—Gelombang demonstrasi besar melanda Amerika Serikat pada Sabtu (28/3/2026), ketika ribuan aksi digelar serentak di seluruh 50 negara bagian dalam gerakan bertajuk “No Kings” yang menentang kebijakan Presiden Donald Trump.

The Guardian memperkirakan lebih dari 8 juta orang ikut serta di lebih dari tiga ribu aksi di seluruh dunia. Bahkan aksi ii disebut sebagai hari demonstrasi terbesar dalam sejarah modern Amerika, kutip San Fransisco Chronicle.

USA today:

7 million Americans in the streets today protesting for freedom.
3,000 cities and towns. Every single state. “No Kings” protests against the authoritarianism of the Trump. This is one of the largest demonstrations in American history.

pic.twitter.com/cLAwlXK69f

— James Melville 🚜 (@JamesMelville) March 28, 2026

Menurut Reuters, aksi berlangsung di berbagai kota besar seperti New York, Los Angeles, dan Washington DC, serta meluas hingga komunitas kecil di seluruh negeri.  “Kami tidak ingin hidup di bawah kepemimpinan yang bertindak seperti raja. Demokrasi harus dijaga,” ujar salah satu peserta aksi dalam laporan tersebut.

Sementara itu, The Washington Post mencatat jumlah aksi mencapai lebih dari 3.300 demonstrasi secara nasional.

Gerakan No Kings sendiri merupakan jaringan aksi protes yang muncul sejak 2025 sebagai respons terhadap kebijakan pemerintahan Trump yang dinilai kontroversial.

Baca Juga

MUI Tegaskan Pria Berbusana Wanita dalam Karnaval Kemerdekaan Hukumnya Haram
Jutaan Senjata Api di Tangan Warga Sipil, Thailand akan Perketat Izin Kepemilikan Usai Penembakan di Sekolah
Otoritas Amerika Selidiki Insiden Helikopter Marine One Trump Nyaris Tabrakan dengan Pesawat Sipil
Pemerintahan Baru Kolombia Pulihkan Hubungan dengan ‘Israel’
Ajak Bersatu Dukung Palestina, Indonesia: ‘Israel’ Selalu Manfaatkan Perpecahan

🇺🇸 A No Kings protestor decided the way to stop a horse was with his body.

The horse disagreed. Loudly.

Sir, the king is fine. You are not.pic.twitter.com/sPxFNiOtBs

— Mario Nawfal (@MarioNawfal) March 29, 2026

Aksi ini merupakan gelombang ketiga dari rangkaian demonstrasi yang sama, dengan jumlah peserta yang menurut penyelenggara dapat mencapai jutaan orang secara keseluruhan. Namun, jumlah pasti massa bervariasi antar wilayah dan sumber.

Banyak ilmuwan politik dan analis Barat membaca aksi ini sebagai bentuk penolakan terhadap apa yang mereka anggap kecenderungan otoritarian pemerintahan Donald Trump. Selain itu kekhawatiran atas isu seperti perang Iran, kebijakan imigrasi, dan hak sipil.

Para demonstran menyuarakan berbagai tuntutan, mulai dari penolakan terhadap konflik dengan Iran, kebijakan imigrasi yang dinilai represif, hingga meningkatnya biaya hidup di dalam negeri. \

USA today:

7 million Americans in the streets today protesting for freedom.
3,000 cities and towns. Every single state. “No Kings” protests against the authoritarianism of the Trump. This is one of the largest demonstrations in American history.

pic.twitter.com/cLAwlXK69f

— James Melville 🚜 (@JamesMelville) March 28, 2026

Reuters melaporkan bahwa ketidakpuasan terhadap kondisi ekonomi dan langkah pemerintah menjadi pemicu utama meluasnya aksi di berbagai daerah.

Yang tak kalah menarik, Para demonstran “No Kings” berkumpul membentuk pesan bertuliskan “TRUMP HARUS PERGI SEKARANG!” di Ocean Beach, San Francisco, California.

Selain itu, isu domestik lain turut mencuat, seperti pemotongan anggaran riset kesehatan. The Guardian melaporkan bahwa ratusan hingga ribuan orang berkumpul di depan National Institutes of Health (NIH) di Maryland untuk memprotes rencana pemangkasan dana penelitian oleh pemerintah.

Demonstrasi juga berlangsung di berbagai wilayah konservatif, menunjukkan meluasnya ketidakpuasan publik lintas geografis dan politik. Sejumlah aksi diwarnai orasi, pertunjukan seni, serta seruan untuk mempertahankan demokrasi dan hak-hak sipil.

Sejumlah analis politik di Amerika Serikat menilai gelombang aksi ini mencerminkan akumulasi ketidakpuasan publik yang semakin meluas. Mengutip Reuters dan The Guardian, pengamat menilai tekanan ekonomi, kebijakan domestik, serta kebijakan luar negeri—termasuk keterlibatan AS dalam konflik dengan Iran dan dukungan terhadap penjajah ‘Israel’—telah memperkuat sentimen anti-pemerintah dan memicu konsolidasi gerakan sipil dalam skala nasional.

Associated Press melaporkan bahwa kemarahan publik turut dipicu oleh kebijakan imigrasi yang kontroversial, termasuk serangkaian insiden penembakan oleh aparat federal dalam operasi imigrasi di Minnesota.

Pada Januari 2026, dua warga sipil tewas dalam operasi yang melibatkan agen Imigrasi dan Bea Cukai AS (ICE) di Minneapolis, memicu protes luas setelah video kejadian beredar dan menimbulkan perdebatan soal penggunaan kekuatan berlebihan oleh aparat.

Meski demikian, pemerintah belum memberikan tanggapan resmi yang signifikan terhadap aksi serentak ini. Penyelenggara menegaskan bahwa demonstrasi dilakukan secara damai dan akan terus berlanjut sebagai bagian dari tekanan publik terhadap arah kebijakan nasional.

Slogan “No Kings” sendiri lahir dari tuduhan bahwa Trump telah bertindak seperti monarki dan melampaui batas kekuasaan eksekutif.  Nama “No Kings” mencerminkan penolakan terhadap gaya kepemimpinan yang dianggap otoriter, dengan penekanan bahwa Amerika Serikat tidak menganut sistem kekuasaan absolut.

Istilah “No Kings” berasal dari tradisi politik Amerika yang sudah sangat lama. Frasa ini berakar dari semangat Revolusi Amerika abad ke-18, ketika para kolonis menolak kekuasaan Raja Inggris. Semboyan seperti “no kings” (tidak ada raja) atau “no king but the law” (tidak ada raja selain hukum) digunakan untuk menegaskan bahwa Amerika dibangun sebagai republik—bukan monarki.*

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Amerika SerikatdemonstrasiDonald TrumpNo King's Presiden Donald Trump.
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Kebakaran Terjadi di Zona Industri UEA Akibat Misil Iran
Tulisan selanjutnya KNPK Apresiasi Kebijakan Pembatasan Akses Media Sosial bagi Anak di Bawah 16 Tahun

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Presiden Suriah: Tergulingnya Rezim Assad Diperlukan Bagi Timur Tengah

Berita
3 Agustus 2026 15:20
Jutaan Senjata Api di Tangan Warga Sipil, Thailand akan Perketat Izin Kepemilikan Usai Penembakan di Sekolah
Sepekan Tiga Kapal Tanker Uni Emirat Dihatam Misil dan Drone di Selat Hormuz
Ajak Masyarakat Shalat Berjamaah, Pemerintah Johor Kenalkan Semarak Maghrib dan Isya’
Kepala Intelijen Saudi di Baghdad Bahas Keamanan Regional dengan PM Iraq

Terbaru

  • MUI Tegaskan Pria Berbusana Wanita dalam Karnaval Kemerdekaan Hukumnya Haram
  • Jutaan Senjata Api di Tangan Warga Sipil, Thailand akan Perketat Izin Kepemilikan Usai Penembakan di Sekolah
  • Otoritas Amerika Selidiki Insiden Helikopter Marine One Trump Nyaris Tabrakan dengan Pesawat Sipil
  • Pemerintahan Baru Kolombia Pulihkan Hubungan dengan ‘Israel’
  • Ajak Bersatu Dukung Palestina, Indonesia: ‘Israel’ Selalu Manfaatkan Perpecahan
  • Libanon, Israel Susun Daftar Negara Mana yang Bisa Kirim Pasukan Pantau Perlucutan Senjata Hizbullah
  • Paus Leo XIV akan Bertemu Penyintas Korban Pencabulan Pendeta di Prancis
  • Sepekan Tiga Kapal Tanker Uni Emirat Dihatam Misil dan Drone di Selat Hormuz
  • Atasi Suhu Udara Panas Warga Korea Utara Diimbau Makan Sup Daging Anjing
  • Pilot Malaysia Airlines yang Ditangkap di Jakarta Membawa Narkoba Tidak Menerbangkan Pesawat, Kata Malaysia Aviation Group

Mungkin Anda Juga Suka

Berita

Libanon, Israel Susun Daftar Negara Mana yang Bisa Kirim Pasukan Pantau Perlucutan Senjata Hizbullah

8 Agustus 2026 13:03
Berita

Paus Leo XIV akan Bertemu Penyintas Korban Pencabulan Pendeta di Prancis

8 Agustus 2026 12:36
Berita

Atasi Suhu Udara Panas Warga Korea Utara Diimbau Makan Sup Daging Anjing

8 Agustus 2026 11:06
Berita

Pilot Malaysia Airlines yang Ditangkap di Jakarta Membawa Narkoba Tidak Menerbangkan Pesawat, Kata Malaysia Aviation Group

8 Agustus 2026 10:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?