Hidayatullah.com– Pemerintah Amerika Serikat mengatkaan akan menghentikan pendanaan program-program yang berkaitan dengan penanggulangan HIV dan AIDS di Afrika Selatan.
Lebih dari delapan juta orang di Afrika Selatan hidup dengan virus HIV di dalam tubuhnya, angka tertinggi dibandingkan negara lain di dunia.
Departemen Luar Negeri AS mengkaitkan keputusan itu dengan tuduhan bahwa Afrika Selatan gagal melindungi komunitas minoritas kulit putih Afrikaner, sebuah tuduhan yang dibantah berulang kali oleh pemerintah Afsel, lapor BBC Jumat (19/6/2026).
Merespon kabar tersebut Kementerian Kesehatan Afrika Selatan mengatakan bahwa pihaknya belum mendapatkan pemberitahuan perihal itu, dan pihaknya sejak lama bekerja dengan mengandalkan program inisiatifnya sendiri.
Sampai 2025, AS memberikan dukungan terhadap upaya Afsel dalam menangani HIV dengan dana sekitar $400 juta setahun melalui President’s Emergency Fund for Aids Relief (Pepfar).
Namun, sejak pelantikan Donald Trump sebagai presiden, hubungan kedua negara memburuk.
Tidak lama setelah dilantik, Trump mengeluarkan perintah eksekutif yang isinya menuduh banyak kebijakan Afrika Selatan yang menafikan kesetaraan ras dan justru meningkatkan kekerasan terhadap pemilik tanah dari kalangan “ras yang tidak disukai” alias orang kulit putih yang dikenal dengan sebutan Afrikaner.
Tuduhan itu dibantah oleh pemerintah Afrika Serikat, yang mengatakan kebijakan Black Economic Empowerment diperlukan untuk membetulkan ketimpangan ekonomi yang ditimbulkan era apartheid — masa di mana kalangan Afrikaner berkuasa dan menerapkan kebijakan diskriminatif terhadap orang kulit hitam.
Perintah eksekutif itu juga menyoroti tindakan Afrika Selatan yang mengajukan gugatan atas Israel di International Court of Justice serta hubungan pemerintah Afsel dengan Iran.
Trump juga mengatakan tanpa bukti bahwa ada genosida terhadap orang kulit putih di Afrika Selatan. Afrikaner adalah keturunan orang Eropa Barat yang menetap di Afrika bagian selatan pada abad ke-17 dan menjadikan wilayah itu sebagai koloninya. Di masa pemerintahan Trump ini, Afrikaner hampir menjadi satu-satunya pengungsi yang diizinkan masuk ke AS.
Pendanaan Pepfar, yang sebelumnya menyediakan sekitar seperlima dari total pengeluaran Afrika Selatan untuk program HIV, ditangguhkan pada Oktober 2025 dan digantikan dengan apa yang disebut Washington sebagai “rencana jembatan”.*




