Hidayatullah.com– Kepemilikan rumah Lee Kuan Yew sekarang berada di tangan pemerintah guna mengakhiri pertikaian berkepanjangan di kalangan keluarga mendiang bapak pendiri negara Singapura seputar properti itu.
Akuisisi itu mengakhiri pertikaian sengit yang menghebohkan negara kota itu sejak kematian Lee Kuan Yew pada tahun 2015.
Dua tahun setelah kematian Lee, anak-anaknya secara terbuka di muka publik berselisih apakah rumah besar berlantai dua berkamar delapan yang terletak di kawasan jantung distrik perbelanjaan Singapura harus dirobohkan atau dilestarikan.
Dalam sebuah pernyataan bersama, Singapore Land Authority dan National Heritage Board hari Jumat (31/7/2026) mengatakan bahwa pemerintah mengambil alih kepemilikan properti itu guna melestarikan nilai sejarah dan arti pentingnya situs itu bagi negara.
National Heritage Board akan melakukan studi mendalam atas situs tersebut dan mengkaji opsi-opsi pengembangannya sebagai sebuah ruang publik tanpa mengabaikan wasiat Lee Kuan Yew, yang menginginkan privasinya terjaga berkaitan dengan bekas kediamannya tersebut, lapor AFP.
Lee, yang diakui memiliki sumbangsih besar dalam mengubah pulau kecil itu menjadi sebuah negara kota yang kaya raya dalam kurun waktu 30 tahun lebih sedikit, mulai menetap di properti tersebut pada pertengahan 1940-an hingga kematiannya.
Rumah itu pada era 1950-an menjadi saksi sejarah transisi Singapura dari sebuah koloni Inggris menjadi sebuah negara independen, dan menjadi tempat pertemuan para tokoh kunci menjelang kemerdekaan Singapura pada 1965.
Menurut kalangan agen properti, bekas kediaman perdana menteri pertama Singapura itu bernilai jual sekitar S$30 juta pada tahun 2024.
Putra tertua Lee yang juga mantan perdana menteri Singapura, Lee Hsien Loong, berkeinginan supaya rumah ayahnya itu dilestarikan. Namun, kedua adiknya — eksekutif korporat Lee Hsien Yang dan pakar neurologi Lee Wei Ling — bermaksud memenuhi wasiat mendiang ayah mereka yang menginginkan supaya rumah itu dirobohkan.
Kedua orang itu pada 2017 menuding abang mereka berusaha memanfaatkan legasi ayah mereka untuk keuntungan politik.
Lee Wei Ling meninggal dunia pada 2024. Lee Hsien Yang, yang hidup dalam pengasingan di luar negeri sejak 2022, mengklaim dirinya menjadi target persekusi politik, sebuah tuduhan yang dibantah oleh pemerintah.*




