Hidayatullah.com– Tim penyelamat di Nepal dan China sampai hari Ahad (30/8/2026) masih berjibaku dengan kubangan lumpur dan ancaman meluapnya air sungai dan danau untuk mencari ribuan orang yang belum diketahui nasibnya, sementara sejumlah mayat ditemukan terbawa arus hingga ke wilayah India.
Banjir bandang yang melanda kawasan pegunungan Himalaya awal pekan ini sudah merenggut nyawa sedikitnya 750 orang dan lebih dari 3.044 orang masih dinyatakan hilang, menurut laporan dari kedua negara tersebut seperti dilansir AFP.
Bencana itu, yang melanda daerah perbatasan Nepal dan China, tepatnya di Tibet, pada Rabu pagi, disebabkan oleh mencairnya es di kawasan puncak Himalaya, sehingga air bah turun sambil menyeret material seperti tanah dan batu, kata US Geological Survey.
Tim penyelamat China di dekat pos perbatasan Tibet yang dilanda banjir lumpur mematikan telah “dipindahkan ke lokasi yang aman” pada hari Ahad, setelah sebuah danau baru terbentuk akibat gundukan tanah longsor, menurut laporan media pemerintah.
Tentara Nepal dan para insinyurnya bekerja keras pada hari Ahad untuk menyelamatkan sejumlah pekerjaan yang diyakini terperangkap di sebuah terowongan di lokasi pembangunan PLTA Trishuli 3A setelah .ereka berhasil memasukkan pipa me dalam saluran bawah tanah itu.
Petugas berusaha mengirimkan oksigen melalui celah kecil yang ada, kata Menteri Dalam Negeri Nepal Sudan Gurung dalam sebuah pernyataan.
Namun, usaha itu terkendala hujan yang turun pada hari Ahad serta kenaikan debit air di sungai.
Di area di mana terdapat lokasi proyek pembangunan PLTA, otoritas kebencanaan Nepal mengatakan 933 pekerja proyek tersebut hilang.
Kantor berita pemerintah China, Xinhua, melaporkan pada hari Ahad bahwa para ahli mengatakan “gletser di lereng selatan Puncak Lirung di Nepal” retak sehingga memicu longsoran es dan batu.
Disebutkan bahwa arus deras tersebut menerjang dengan cepat, membentuk aliran besar yang menempuh jarak lebih dari 20 kilometer sebelum menghantam Pelabuhan Gyirong.
“Runtuhnya gletser secara tiba-tiba dan banjir bandang merupakan pengingat tentang betapa rapuhnya lingkungan pegunungan ini,” kata kepala iklim PBB, Simon Steill, dalam sebuah pernyataan seperti dilansir AFP.
Pada hari Ahad, otoritas penanggulangan bencana Nepal mengatakan bahwa 589 warga asing, termasuk pendaki dan peziarah Hindu di Gunung Kailash di Tibet dilaporkan hilang.
Isha Foundation, yang dipimpin oleh guru spiritual India Sadhguru, mengatakan lewat akun Instagram pada hari Sabtu bahwa 80 anggotanya sedang bepergian ke daerah bencana tersebut.
Per hari Ahad Nepal melaporkan 734 kematian, sebanyak 2.498 orang dilaporkan hilang, termasuk ratusan orang asing.
Di perbatasan di Tibet 16 orang dilaporkan tewas dan 546 hilang, lapor lembaga penyiaran pemerintah China CCTV.
Pihak berwenang mengatakan sudah mengevakuasi 555 turis yang terjebak dan 499 pemukim China dari Tibet.
Di India, aparat mengatakan sejauh ini sudah menemukan tujuh mayat di sungai yang mengalir dari Nepal, yang diyakini sebagai korban banjir bandang tersebut.*




